Kisah

Imam Syafii dan Selawat di dalam Kitab Al-Risalah-nya

Dahulu, guru saya pernah ngendikan jika tidak ada karamah terbesar yang dimiliki seorang wali yang melebihi karamahnya para sahabat, yaitu hidup satu masa dan dapat bersua dengan Nabi Muhammad Saw. Andai ada seseorang yang beribadah 1000 tahun tanpa bermaksiat kepada Allah, itu belum ada apa-apanya dibandingkan apa yang telah para sahabat berikan kepada Islam dan Rasulullah Saw.

Tetapi sudah sepatutnya kita bersyukur lahir dan hidup sebagai umat Kanjeng Nabi. Suatu anugerah yang sangat besar yang diberikan Allah kepada kita. Setidaknya kita tidak dihidupkan di zaman Fir’aun, atau Namrud, atau dihidupkan menjadi umatnya Nabi Musa a.s. yang tidak diterima taubatnya kecuali dibunuh. Pakaian kena najis saja harus dipotong bagian najisnya baru kemudian bisa suci kembali. Bayangkan alangkah welasnya Allah kepada umat Muhammad sehingga menjadikan syariat tanpa sebuah haraj (kesukaran).

Belum lagi welasnya Rasulullah kepada umatnya ketika beliau menangis lalu ditanya para sahabat, “ada apa, Ya Rasul?” lalu Rasulullah menjawab, “aku rindu dengan kekasihku,” mendengar jawaban Rasulullah para sahabat tertegun, “bukankah kami kekasihmu, Ya Rasul?” jawab Rasulullah, “bukan, kalian adalah sahabatku, adapun kekasihku adalah mereka yang beriman kepadaku tanpa mereka memadangku sekali saja, mereka membaca al-Quran, mempelajari isinya, merekalah kekasihku.” Sampai-sampai ketika malaikat maut hendak mencabut ruh Kanjeng Nabi, dengan sangat perlahan, Rasulullah merintih dan berbisik kepada malaikat maut, “sesakit inikah ketika ruh dicabut, wahai Izrail? Bagimana nanti umatku?”  Salam dan selawat semoga tetap tercurah kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Dan sudah sewajarnya kita juga memiliki keinginan untuk berjumpa dengan Rasulullah Saw. untuk sekadar memandang wajah Kanjeng Nabi. Rasulullah Saw. pernah berwasiat, “Barangsiapa melihatku, maka ia benar-benar telah melihatku, karena syaitan tidak akan pernah bisa menyerupaiku.” (H.R. Ahmad, Bukhori dan Tirmizi). Riwayat ini banyak sekali dengan redaksi yang berbeda-beda tetapi mengandung isi yang sama.

Melihat Kajeng Nabi adalah seluhur-luhurnya pengharapan dan setinggi-tingginya derajat bagi setiap pecinta dan pencariaa(thalib). Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “akan datang suatu zaman di mana melihatku lebih dicintai ketimbang keluarga dan hartanya.”

Disebutkan di dalam kitab Mafatih al-Mafatih, barangsiapa melihat Kanjeng Nabi di dalam mimpi, maka ia berhak mendapat kemuliaan husnul khatimah dan syafaat Kanjeng Nabi. Sudah tidak ada lagi perbedaan pendapat di kalangan ulama sufi tentang kesahihan hal ini. Berbeda dengan para ulama fiqh yang berbeda pendapat tentang status hukum ini. Disebutkan di dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah karya Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami, beliau menjawab, “sebagian golongan mengingkari hal itu(kemungkinan melihat Nabi), dan sebagian yang lain membolehkannya dan itu benar(berdasarkan hasdits yang diriwayatkan Imam Bukhori).”

Banyak sekali riwayat yang menceritakan pengalaman seseorang bermimpi bertemu dengan Kanjeng Nabi. Seperti yang diriwayatkan Abul Qasim Abdurrahman bin Muhammad bin Ali al-Adfariy, ia berkata, “Aku telah mendengar sebagian guru kami bercerita, suatu ketika Abul Abbas al-Khayyath menghadiri majelis Abu Muhammad bin Rasyiq, lalu Syaikh Abu Abbas berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah Saw, beliau bersabda, “hadirlah di majelis Ibnu Rasyiq, karena di dalamnya dibacakan selawat sebanyak ini dan ini(kadza wa kadza).”

Selanjutnya diriwayatkan dari Abdullah bin Abdul Hakam, ia bercerita berimpi bertemu dengan Imam Syafii, lalu ia bertanya, “Wahai Imam, apa yang Allah lakukan terhadapmu?” Imam Syafii menjawab, “Allah mengasihiku dan mengampuniku. Aku diarak menuju surga sebagaimana pengantin baru dengan bertabur bunga indah sekali.”

“Sebab apa Allah memuliakanmu?” tanya Abdullah bin Abdul Hakam.

“Sebab selawat yang kutulis di dalam kitab al-Risalah-ku.”

“Bagaimana selawat itu?”

Shallallahu ‘ala Muhammad ‘adada ma dzakarahu al-dzakirun, wa ‘adada ma ghafala ‘anhu al-ghafilun.” Jawab Imam Syafii.

Setelah terbangunn dari tidurnya, Abdullah bin Abdul Hakam segera membuka kitab al-Risalah yang dimaksud. Dan benar saja, ia menemukan redaksi selawat yang sama itu di dalam kitab itu.

 

 

Bahan bacaan:

Kaifiyah al-Wushul li Ru’yati Sayyidina al-Rasul, Imam al-Suyuthi.

Al-Qurbatu ila Rabb al-Alamin, Abul Qasim al-Anshariy.

 

3 Rajab 1441 H.

About the author

Redaksi PP Al-Fattah

Redaksi PP Al-Fattah

Website dikelola oleh tim redaksi Pondok Pesantren Al-Fattah

Add Comment

Click here to post a comment