karya santri

Menjembatani Tradisi dan Modernitas: Memaknai Ulang Salaman Santri kepada Kyai Melalui Lensa Budaya Sungkeman

Tradisi salaman santri dengan kyai yang semestinya disertai dengan gestur mencium tangan dan membungkukkan badan, baru-baru ini menjadi sasaran kontroversi di media sosial. Klip video tanpa narasi yang memadai dengan mudah memicu tuduhan tentang kultus kepribadian, feodalisme agama, dan bahkan dianggap bertentangan dengan ajaran tauhid. Namun, pada kenyataannya praktik ini telah dilakukan selama berabad-abad di berbagai pesantren Islam khususnya di Indonesia, sebagai manifestasi etika dalam menuntut ilmu. Untuk mengatasi kesalahpahaman yang akut akibat keterputusan budaya, pendekatan komunikasi yang lebih mendalam diperlukan. Esai ini berargumen bahwa analogi budaya sungkeman merupakan kunci strategis untuk menjembatani makna suci dari jabat tangan santri kepada kyai dan menjawab tantangan pemahaman publik modern.

Salaman dalam tradisi pesantren Islam jauh melampaui sekadar kontak fisik, ia merupakan ekspresi integral dari adab seorang murid kepada sang guru. Esensi gestur ini adalah ta’dzim (penghormatan) terhadap seorang guru sebagai perantara ilmu dan bimbingan. Siswa juga menafsirkannya sebagai tabarruk atau harapan akan berkah spiritual dari kyai, yang dianggap dekat dengan mereka dalam pengetahuan agama dan moral. Kyai tidak hanya bertindak sebagai guru, tetapi juga sebagai murabbi (pendidik karakter) dan mursyid (pemandu spiritual). Oleh karenanya, salaman santri kepada kyai yang disertai gestur cium tangan dan membungkukkan badan melambangkan kerendahan hati (tawadhu’) dan pemeliharaan rantai pengetahuan (sanad) yang menghubungkan generasi ulama terdahulu dengan santri-santri saat ini.

Masalah timbul ketika tradisi sarat akan makna ini disebarkan secara digital. Video pendek yang menyoroti gestur cium tangan dan membungkukkan badan Ketika santri berbersalaman dengan kyai atau ketika para santri berebut mencium tangan sang kyai rentan terhadap dekontekstualisasi. Tanpa narasi pendukung, audiens media sosial dengan mudah menafsirkan praktik ini sebagai bentuk hierarki yang merendahkan martabat manusia, bahkan bertentangan dengan nilai-nilai modern kesetaraan. Akibatnya, terjadi polarisasi narasi yang tajam: antara pendukung yang memahami budaya pesantren dan penentang yang memandangnya sebagai sisa feodalisme. Citra pesantren menjadi terdistorsi, bukan karena praktiknya sendiri, tetapi karena kegagalan dalam menjelaskan makna dan membangun komunikasi yang utuh di media sosial dengan para audiens yang lebih beragam.

Untuk menjelaskan tradisi ini kepada khalayak yang lebih luas, analogi sungkeman menjadi jembatan yang efektif. Sungkeman adalah tradisi asli Indonesia yang dilakukan pada momen suci—seperti pernikahan atau Idul Fitri—di mana seorang anak membungkuk atau berlutut di hadapan orang tua. Gestur ini diterima secara luas di semua masyarakat sebagai simbol kesetiaan, penghormatan yang tulus, dan permohonan berkah, dan bukan penyembahan atau perbudakan. Sungkeman adalah kode etik budaya yang universal, menunjukkan bahwa gestur kerendahan fisik dapat memiliki makna spiritual dan etika yang mendalam.

Pada dasarnya, tradisi salaman santri kepada kyai dan sungkeman berakar pada prinsip yang sama, yaitu etika relasional yang menghormati otoritas moral dan pengalaman. Tradisi Islam sering menyamakan hubungan antara murid dan guru dengan hubungan antara anak dan orang tua. Sering pula dikatakan bahwa guru Adalah orang tua kedua. Keduanya menuntut kerendahan ego dan pengakuan terhadap otoritas pengetahuan dan moral. Gestur cium tangan dan membungkukkan badan yang kontroversial bukanlah simbol perbudakan, melainkan simbol tawadhu’ di hadapan ilmu. Tradisi ini mengangkat nilai-nilai moral dan etika, sepenuhnya sejalan dengan kebijaksanaan budaya Indonesia yang menghormati orang tua dan mereka yang memiliki lebih banyak ilmu.
Masalah utama bukanlah praktik salaman dengan gestur cium tangan dan membungkukkan badan, melainkan cara ia disampaikan ke audiens di media sosial. Oleh karena itu, strategi re-framing sangat penting. Siswa dan alumni pesantren harus bertindak sebagai penerjemah budaya, menerjemahkan adab (tradisi pesantren Islam) ke dalam bahasa modern. Narasi yang dapat menjembatani kesenjangan pemahaman ini harus singkat dan afirmatif, misalnya: “Salaman siswa kepada kyai merupakan versi pesantren dari sungkeman: ungkapan kesetiaan, hormat, dan harapan akan berkah dari sosok yang kita anggap sebagai orang tua, guru dan pembimbing spiritual.” Dengan bahasa yang sederhana, makna sakral tradisi kuno dapat dipertahankan tanpa kehilangan relevansinya di ruang publik modern.

Kontroversi seputar tradisi berjabat tangan dengan siswa bukanlah pertentangan keyakinan, melainkan pertentangan pemahaman budaya. Nilai-nilai kaya tradisi pesantren Islam perlu dijelaskan melalui kerangka budaya yang familiar bagi masyarakat Indonesia. Menghubungkan praktik berjabat tangan dengan budaya sungkeman merupakan langkah strategis dan efektif untuk menghilangkan prasangka dan menjaga warisan adab. Di tengah arus informasi dan kritik yang cepat di media sosial, bangsa ini sebenarnya membutuhkan lebih banyak tradisi penghormatan seperti ini agar nilai-nilai manusia dan etika sosial tetap terjaga dan relevan dalam menghadapi modernitas.

Author :  Laila Nur Hidayah (Juara 1 Lomba Essay, Perwakilan kamar Marwa, Ummu Salamah, dan Bahasa Selatan)

Reference :
Amiruddin, Muhammad, Gango Djibril, Nuryani Nuryani, and Hakmi Hidayat. “Pragmatic Analysis Between Santri Gestures and Kiai`s Teachings in a Film Entitled: ‘Sang Kiai.’” At-Ta`dib 20, no. 1 (2025): 141–156. https://ejournal.unida.gontor.ac.id/index.php/tadib/article/view/13556%0Ahttps://repository.uin-malang.ac.id/24036/.
Ayuningtias, R. “Makna Komunikasi Non Verbal Santri Dalam Tradisi Ta’Dzim Kepada Kyai Di Pondok.” Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (2021).
Dalam, Keberkahan, and Perspektif Quran. “Ulumuddin : Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman” 11 (2021): 115–128.
Ghofir, Jamal, and Mohammad Abdul Jabbar. “Dalam Membangun Budaya Islam” 2 (2022): 404–420.

 

About the author

Redaksi PP Al-Fattah

Redaksi PP Al-Fattah

Website dikelola oleh tim redaksi Pondok Pesantren Al-Fattah

Add Comment

Click here to post a comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses