Khazanah

Pesan-Pesan Imam Nawawi untuk Pencari Ilmu

Peserta Lomba MQK

Di antara kitab karya Imam Nawawi Banten adalah Qut al-Habib al-Gharib-yang populer dengan nama Tausyih-yang merupakan komentar atas kitab Fath al-Qarib syarh matan al-Taqrib karya Syaikh Abi Syuja’.

Imam Nawawi memiliki nama lengkap Abu Abd al-Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi bin Ali. Lahir di desa Tanara, Banten pada tahun 1230 H atau bertepatan dengan 1813 M. Imam Nawawi lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang agamamis. Orang tua imam Nawawi memberinya nama Muhammad Nawawi semata ber‘tafaul’ kepada Nabi Muhammad Saw dan Syaikhul Islam Muhyiddin Abi Zakariyya Yahya bin Syaraf al-Nawawi seorang ulama Hijaz yang telah mencapai tingkat Muharrir madzhab Syafi’i.

Imam Nawawi adalah seorang ulama yang produktif dalam mengarang kitab lintas disiplis ilmu. Hampir seratus karangan yang beliau tulis semasa hidup beliau. Hal itu menunjukkan ilmu beliau yang menyamudera yang membuat beliau mendapat julukan Sayyidul Ulama’ al-Hijaz “pemimpinnya ulama Hijaz”.

Di samping memiliki gagasan yang besar dalam mengarang, Imam Nawawi juga merupakan sosok yang sederhana, zahid, tawadhu’, dicinta oleh kaum papa dan mencintai para ulama. Beliau wafat pada akhir bulan Syawal 1314 H/1897 M. di Makkah al-Mukarramah dan dimakamkan di Ma’la di samping makam Sayyidah Asma’ binti Abu Bakar al-Shiddiq dan makam Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami. TaghammadalLahu al-Jami’a birahmatihi wa askanahum fasiha jannatihi, amin.

Melalui karya-karyanya, Imam Nawawi telah memberikan sumbangan sangat penting bagi perkembangan ilmu fiqh di Nusantara dengan memperkenalkan dan menjelaskan, melalui syarah-syarah yang telah beliau tulis, berbagai karya yang penting guna mendidik generasi yang bisa menguasai dan memberi perhatian kepada fiqh.

Untuk menjadi generasi yang mampu menguasai beragai ilmu, Imam Nawawi, di dalam Syarh Tausyih-nya memberikan 3 poin penting bagi seorang santri dan guru, yang jika 3 poin itu terpenuhi, maka sempurnalah keduanya sebagai muta’allim dan mu’allim.

Yang pertama, apabila tiga hal ini ada pada diri seorang guru, maka sempurnalah nikmat bagi santri. Tiga hal tersebut adalah sabar, tawadhu’ dan akhlak yang baik. Kemudian yang kedua, tiga hal apabila terkumpul pada diri seorang santri, maka sempurnalah nikmat bagi guru. Tiga hal tersebut adalah akal, etika dan pemahaman yang jernih. Di antara etika yang harus dimiliki santri, menurut Imam Nawawi, adalah sikap tawadhu’. Beliau bertutur,

و العلم لا يدرك الا بالتوضع

“Ilmu tak akan didapat kecuali dengan rendah hati.”

Sebagaimana pula ungkapan para ulama dalam bentuk syair,

العلم حرب للفتى المتعالي * كالسيل حرب للمكان العالي

“Ilmu adalah lawan bagi seorang pemuda yang sombong, sebagaimana aliran air yang menjadi lawan bagi tempat yang tinggi.” Artinya ilmu tak akan sampai kepada seorang pemuda yang besar kepala sebagaimana aliran air yang tidak akan sampai dan tidak akan mengalir ke atas, ke tempat yang tinggi.

Imam Nawawi juga menunjukkan isyarat akan pentingnya rendah hati pada kata al-‘Ilm sendiri. Bila dilihat pada kata al-‘Ilm, maka akan ditemukan harakat pada huruf pertama adalah kasrah(khafd). Hal itu menunjukkan bahwa ilmu, yang menjadi sifat keluhuran dan kebaikan, hanya dapat diperoleh dengan merendah bertawadhu’. Begitu pula pada kata al-Ghina dan al-Khishb yang berarti kekayaan dan kesuburan hidup.

Kemudian Imam Nawawi menunjukkan lagi lawan kata al-‘Ilm, yaitu al-Jahl yang berarti ketidaktahuan. Dari kata al-Jahl maka akan ditemukan bahwa harakat huruf pertama adalah fathah(nashab). Hal itu menunjukkan bahwa ketidaktahuan, yang merupakan sifat kehinaan dan keburukan, disebabkan karena lagak yang membanggakan diri dan membusungkan dada. Begitu pula kata al-Faqr dan al-Jadb yang berarti miskin dan gersang.

 

Bahan bacaan:

Maraqi al-Ubudiyyah, dan Qut al-Habib al-Gharib. Keduanya karya Imam Nawawi al-Bantani.

About the author

Redaksi PP Al-Fattah

Redaksi PP Al-Fattah

Website dikelola oleh tim redaksi Pondok Pesantren Al-Fattah

Add Comment

Click here to post a comment