Cerpen

Hangrasa Wani

Khalimah, menatap bangku kosong itu dengan sendu. Menghempas lamat-lamat aroma kedukaan dengan rasa berat. Tepat satu minggu yang lalu, bapaknya pergi menutup mata untuk selamanya, dan yang tersisa hanyalah samar-samar pesan bapak-ibunya yang tanpa ia pinta, memutar begitu saja di bayangannya.

“ Kamu ingatkan, apa pesan Bapak satu tahu lalu? Menjadi kaya itu tidak wajib, Nduk…..”

Meskipun hanya tersisa dirinya, rumah itu masih hangat dengan kenangan yang menyelimuti pada tiap-tiap tiang rumah yang tersangga di dalamnya. Sembari menahan napas, lembar suci yang ia idam-idamkan itu hampir koyak sebab air mata. Kedua tangannya meremas keras ujung jilbab violetnya. Menahan sesak yang susah sekali teredam. Dengan suara parau, kedua bibirnya mengucap lirih selawat Badar yang pernah diajarkan bapak waktu ia masih kanak-kanak. Kerinduan itu, sungguh terasa berat ditanggungnya.

llaahi sallimil ummah minal afaati wanniqmah
Wamin hammin wamin ghummah bi ahlil Badri Yaa Allaah

“Yang paling penting itu adalah mengedepankan rasa welas kepada siapapun dan apapun, termasuk memiliki niat dan cita-cita mulia ketika  guru-gurumu sedang menjelaskan pelajaran”.

Sekali lagi tangisnya pecah, nasihat bapak yang ini pernah terselip dalam gundukan keinginannya bahkan pernah ia tutup rapat-rapat.

Sepuluh tahun yang lalu, pascakelulusan sekolah dasar, tiba-tiba Khalimah diajak bapaknya menuju sebuah pesantren milik Kiai Mustofa. Tentunya, ia mengetahui sebab apa bapaknya memintanya untuk mendalami ilmu agama. Khalimah tidak terlalu yakin dengan pesan ustaz TPA yang menggambarkan pesantren sebagai tempat keajaiban yang nantinya bisa meringankan beban orang tua, bahkan dapat membahagiakan ibunya yang telah tiada. Sungguh sulit untuk dipercaya.

Mengapa harus di pesantren?? Bukankah belajar agama dapat di mana saja. Hanya sekedar mendoakan ibu yang sudah meninggal? Tidakkah aku bisa belajar kepada bapak?? Mengapa harus pergi ke pesantren?? Sanggahnya saat itu.

Tiba harinya, Rosid tampak sibuk menyiapkan keperluan Khalimah yang sebentar lagi akan dilepaskan dalam asuhan kiai Mustofa. Ia memasukkan beberapa kitab tipis dan buku catatan biasa yang sekiranya akan dibutuhkan buah hatinya ketika di sana, dan menyelipkan foto almarhumah istrinya pada kantong tas bagian paling depan. Tiba-tiba saja Khalimah menghampirinya dengan raut muka kurang setuju atas keputusan ini.

“Bapak pahamkan? kelak ketika Khalimah sudah besar,  Khalimah ingin memiliki belerong seperti miliknya Wak Kus.” Rosid tersenyum simpul sambil mengangguk melegakan keinginan buah hatinya dan tetap melanjutkan membereskan segala keperluan buah hatinya.

“ Nah… itu Bapak tahu. Seharusnya, Khalimah tidak masuk pesantren, Bapak. Mengertilah… putrimu ini ingin merancang berbagai pakaian ekslusif yang lebih menarik. Tidak kandeg seperti itu saja, jika nanti Khalimah sukses pastinya Khalimah akan membahagiakan Ibu di sana,” gerutu Khalimah dengan memainkan sandal butut milik bapaknya yang terkulai di atas tanah.

“ Bukankah jalan sukses tidak hanya ditempuh di pesantren, Pak?” tanya Khalimah dengan lirih. Sedangkan Rosid memandang anaknya dengan tatapan nanar sambil memohon kebaikan kepada Tuhan.

“ Sudah, ayo segera dipasang kerudungnya! Sebentar lagi kita akan diantar Pak Tarjo”

Tidak lama setelah itu mobil pick up putih menerjang jalanan desa menuju pengapnya suasana kota diiringi. Antara rela dan tidak rela gadis sebelas tahun itu mendengus lirih dan diam-diam mengharap kebaikan di atas pangkuan bapaknya yang lebih dulu terlelap. Alam seakan-akan ikut mendukung, medatangkan gerimis sebagai tanda perdamaian atas persengketaan bapak anak itu yang dengan sendirinya terleraikan.

“Kamu tahu?? Bapak tidak ingin memaksamu untuk menjadi apa yang bapak inginkan, tapi bapak hanya ingin kamu akan menyukai pekerjaan ngaji yang latihannya ada di pesantren yang kelak akan menuntunmu menuju apa yang kau inginkan.”

“Jadilah seseorang yang berani, yang mampu memiliki rasa untuk melihat apa yang telah Gusti Pengeran perlihatkan kepadamu,” pintanya setelah buah hatinya tertidur pulas.

*

“ Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini,” ucap Khalimah dengan penuh keyakinan.

“ Jika di era modernitas yang arusnya kuat sekali ini, kita seharusnya mampu mempertahankan benteng agama supaya tidak roboh,” lanjutnya.

“Jika para desainer  menawarkan suatu kreativitas yang tinggi dengan harga jual yang sama pula. Seharusnya kita juga bisa mengubah pandangan orang-orang yang memandang Islam secara saklek menjadi lunak dan dinamis. Tentunya, dalam merancang kita akan mengangkat dan mengelaborasikan hukum-hukum syariat-syariat dengan budaya kontemporer saat ini untuk meyakinkan masyarakat bahwa ada sesuatu yang penting dari sekedar berbusana,” tegas Khalimah puas diikuti dengan tepuk tangan yang menggetarkan seisi panggung malam itu.

Oleh: Puji Lestari

About the author

Redaksi PP Al-Fattah

Redaksi PP Al-Fattah

Website dikelola oleh tim redaksi Pondok Pesantren Al-Fattah

Add Comment

Click here to post a comment