cerpen

Hikmah di Balik Masalah

Oleh: Atik Septiani

Bulan yang dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam, bulan ramadhan. Namun tahun ini ada yang istimewa juga selain datangnya bulan suci ramadhan, yakni Allah datangkan wabah untuk seluruh umat-Nya. Wabah Corona ini datang lebih dulu ketimbang bulan suci ramadhan. Wabah ini menjadikan seluruh umat manusia untuk tidak beraktivitas diluar, dengan kata lain bahwa semua aktivitas dialihkan di rumah. Aktivitas baik berupa pekerjaan, proses belajar mengajar, dan semua aktivitas yang lainnya.

Tentu hal ini menjadikan rumit karena tidak semua bisa dilakukan di rumah, seperti mereka yang bekerja dengan harus interaksi langsung dengan orang lain, misal saja tukang ojek, becak, dan lainnya. Untuk pelajar, masih memungkinkan untuk dirumah, karena sekarang ini teknologi semakin canggih. Ya, tak terkecuali para santri yang juga harus dipulangkan dan beraktivitas di rumah saja.

“Tet Tet Tet” bel pun berbunyi sangat keras karena speakernya terletak di dalam kamarku. “ayo sholat sholat” ucap Safira, ketua kamarku. Aku pun bergegas mengambil wudhu dan siap-siap turun ke aula untuk berjamaah Maghrib. Selesai Maghrib seperti biasa, dzikiran. Kemudian tiba-tiba setelah dzikiran selesai, pak kiai masuk ke aula. Beliau memberikan pengumuman bahwa semua santri akan dipulangkan, kecuali santri yang memang kampungnya sudah Lockdown. Dan sampai waktu yang tidak ditentukan, sampai kondisinya membaik. Begitulah pengumuman dari pak kiai, beliaupun kembali ke ndalem.

“Mbak Ochi kita bakalan lama dirumah dong ya” ucap mala padaku.

“Iya, sampai bosen” jawabku singkat.

“Allahu Akbar Allahu Akbar” adzan pun berumandang. Aku pun berwudhu, dan setelah selesai jamaah, kami pun kembali ke kamar masing-masing untuk kemudian siap-siap ngaji kitab di kelas masing-masing pula. Kelasku berada di depan pondok.

“Mala ayo” teriakku memanggil mala, teman kelas ngaji.

“Iya mbak” sautnya.

Dia memanggilku dengan sebutan mbak, karena aku lebih tua darinya, dia masih semester dua dan aku semester enam. Ya sedikit cerita ya, aku masuk pondok baru semester lima. Kalau ditanya kenapa ya jawabannya karena Allah baru menyetujui permintaanku, hehe.

Ustadz memberi pengumuman juga kepada kami bahwa ketika nanti semuanya sudah dirumah, ustadz berpesan agar jangan sampai melupakan hafalan, dan harus selalu belajar di rumah. Begitulah pesannya. Selesai ngaji, kami pun kembali ke pondok . sampai di kamar, aku langsung meletakan kitabku di lemari dan , menyiapkan tempat tidur.

“Mbak, pulang dijemput?” tanya cika padaku.

“Belom tahu i masih bingung” jawabku

“Kita kan searah, gimana kalau bareng aku mbak naik travel?” balasnya

“Bentar ya, besok aku telepon ayah dulu, gimana-gimananya” sautku

“Oke mbak, besok kabari ya” ucapnya

“Iya” jawabku

Esoknya, aku menelepon ayah untuk memberi kabar dipulangkannya para santri dan tidak boleh menggunakan transportasi umum, dan aku mendapat tawaran dari temanku, Cika untuk bareng dia menggunakan travel. Akhirya ayah pun menyetujui dan aku langsung memberi kabar pada Cika.

Kami pesan travel untuk hari minggu pagi, namun ternyata jadwal travelnya full bisanya malam dan seninnya sudah libur. Mau tidak mau kami mengiyakan untuk minggu malam.  Aku langsung mengabari ayah.

“Mbak aku pamit ya” pamitku pada para santri yang belum pulang

“Iya, Ati-ati ya” jawabnya

Aku pun menganggukkan kepala tanda mengiyakan.

Sesampainya dirumah, aku langsung bersih-bersih dan baru menyalami ayah, ibu, serta kakakku.  Kemudian aku makan dan istirahat. Beberapa hari dirumah, tibalah saatnya puasa ramadhan. Baru tahun ini, aku awal puasa di rumah sebab adanya wabah Corona ini. Padahal sesungguhnya dari dulu aku pengin merasakan ramadhan di pondok, dan berharap tahun ini bisa terlaksana. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Allah ingin semua kumpul dengan keluarga dan melewati ramadhan ini bersama orang-orang tercinta.

Selama dirumah, aktivitasku kuliah online, nonton televisi, nonton youtube, chattingan, bantu orang tua pastinya. Aku dan ibu menjalankan hobi kami yaitu mencoba resep-resep cemilan yang mudah dan tentunya yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Aku dan ibu pun membuat cemilan seperti donat, kerupuk, keripik, mie kremes, untuk dijual di angkringan depan rumah milik kakakku.

“Buk,besok bikin donat ya” ajakku pada ibu

“Iya, tapi aku sama mau bikin kerupuk singkong lho” jawabnya

“Oke siap buk” sautku

Ayahku pun mendukung aktivitas kami yang satu ini. Senang rasanya memiliki keluarga yang saling mendukung. Oh ya karena ayah memiliki kebun singkong sendiri, jadi singkong untuk membuat kerupuk dan keripik tidak perlu beli deh.

Wabah ini mengajarkan kita untuk lebih bersabar dan yakin pada Allah bahwa Allah akan memberi yang terbaik. Begitulah pesan ayah pada keluarga. Ibu pun selalu mengatakan bahwa kita harus bersyukur karena kita hidup di desa yang notabene rasa sosialnya tinggi. Seperti ketika kita meminta sayur-mayur milik tetangga, pasti sangat boleh. Coba kalau di kota, semua serba menggunakan uang. Aku pun menyadari bahwa memang seharusnya kita pandai-pandai bersyukur, walaupun keadaan tak sesuai dengan harapan kita.

Biodata singkat penulis

Penulis yang memiliki nama Atik Septiani ini merupakan mahasiswi jurusan Sejarah Peradaban Islam semester enam dan berasal dari Blora, Jawa Tengah. Ia memiliki akun IG : atik_sep, Fb: Atik Septiani.

About the author

Redaksi PP Al-Fattah

Redaksi PP Al-Fattah

Website dikelola oleh tim redaksi Pondok Pesantren Al-Fattah

Add Comment

Click here to post a comment