Khazanah

Muasal Hizb Bahr

Imam Syadzili. Nama lengkapnya adalah Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar bin Yusuf Abu al-Hasan al-Hadzali al-Syadzili. Lahir pada tahun 1196 di Ghomara, Maroko. Sedari kecil Imam Syadzili adalah pengelana, berpindah dari Maroko ke Tunisia, setelah itu bepindah lagi ke Mesir dan terakhir berpindah ke Iraq. Di Iraq ia bertemu dengan Syaikh Abul Fatah al-Wasithi. Tetapi kemudian ia kembali lagi ke Maroko atas anjuran salah satu gurunya dan berguru kepada Syaikh Abdussalam bin Basyisy(sebagian riwayat mengatakan Masyisy).

Gelar al-Syadzili dinisbatkan pada Syadzilah, sebuah desa yang terletak di Afrika. Nasabnya bersambung sampai kepada Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib, dari buyutnya Yusuf bin Yusya’ bin Bard bin Baththal bin Ahmad bin Muhammad bin Isa bin Muhammad bin Sayyidina Hasan bin Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Imam Syadzili adalah pendiri tarekat Syadziliyah. Tarekat ini termasuk dalam tarekat “yang dihormati”(mu’tabar) yang memiliki rantai sanad bersambung sampai Rasulullah Saw. Di Indonesia, Jawa khususnya, tarekat ini sangat populer di samping tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah. Dan yang lebih populer dari tarekat Syadziliyah sendiri adalah Hizb Bahr-nya Imam Syadzili. Hal ini tak lain adalah karena barakah masyhur pada Hizb Bahr.

Muasal Hizb Bahr

Diceritakan dari Syaikh Abul Azaim Madhi bin Sulthan dan Syaikh Syaraf al-Din, bermula ketika Imam Syadzili hendak melakukan perjalanan haji dengan moda transportasi perahu dari Kairo. “Aku diperintah haji tahun ini, carikanlah kendaraan di sungai Nil untuk kita tumpangi.” Kata Imam Syadzili kepada santri-santrinya yang segera sendiko dawuh mencari perahu.

Searah bertukar jalan, semua orang di sana memiliki maksud yang sama untuk pergi menunaikan haji. Akhirnya mereka tidak menemukan perahu untuk mereka tumpangi kecuali milik serombongan orang nasrani yang dipimpin seorang pendeta. “Bolehkah kami ikut menumpang perahu ini?” tanya salah satu santri yang kemudian dipersilakan untuk menaiki perahu bersama mereka.

Mulanya perahu berlayar dengan lancar tanpa ada kedala. Angin berhembus dengan kencang. Tetiba ketika sampai di tengah perjalanan angin berhenti berhembus. Layar perahu yang terbentang lebar tidak berimbas apa-apa. Tanpa angin perahu tak akan berlayar. Tak mungkin juga untuk mendayungnya. Mereka hanya bisa pasrah, tak ada lagi cara yang mereka upayakan selain hanya merapal doa dalam-dalam semoga segera ada angin berhembus mendorong perahu mereka.

Alih-alih angin datang, perahu mereka malah berjalan kembali ke Kairo. Berhari-hari mereka dalam keadaan seperti itu. Di atas perahu yang hanya berjalan mengikuti arus sungai yang malah membawanya kembali ke pangkalan.

Mimpi Imam Syadzili

Pada waktu siang itu, Imam Syadzili tidur dan bermimpi bertemu dengan datuknya, Rasulullah Saw. Dalam mimpi itu Rasulullah mentalqinkan Hizb Bahr kepada Imam Syadzili. Sebelum berlalu Rasulullah berpesan kepada Imam Syadzili, “Gunakanlah doa ini, karena di dalamnya terdapat Ism al-A’dhom. Jika doa ini dibaca di suatu tempat, maka tempat itu akan menjadi aman.” Setelah itu Imam Syadzili terbangun dan langsung mencari ketua rombongan. “Siapa pimpinan rombongan ini?” tanya Imam Syadzili.

“Saya.” Jawab seseorang yang tiba-tiba keluar dari kabin.

“Siapa namamu, Tuan?” tanya Imam Syadzili.

“Mismar.” jawab ketua rombongan.

“Wahai tuan Mismar, suruhlah anak buahmu untuk membentangkan layar.”

“Kita akan kembali ke Kairo!”

“Insya Allah kita akan melanjutkan perjalanan.”

‘Tetapi angin membawa kita kembali.”

“Dengan berkah Allah, bentangkanlah layar perahu ini.”

Akhirnya Mismar segera memerintahkan anak buahnya untuk membentangkan layar. Sejurus kemudian angin kencang datang mendorong perahu berlayar. Mismar yang melihat kejadian itu mengakui bahwa ini bukanlah kebetulan. Wal akhir, ia dan saudara-saudaranya masuk Islam di tangan Imam Syadzili. Tinggallah seorang pendeta yang masih kekeuh dengan agamanya.

“Sungguh rugi anak-anakku dalam perjalanan ini.”  Sesal pendeta kepada Imam Syadzili.

“Tidak, mereka berdua beruntung dalam perjalanan ini.” Jawab Imam Syadzili.

Siang berganti malam. Pada malam itu si pendeta bermimpi melihat dunia sangat kacau seakan-akan kiamat telah terjadi. Ia melihat kedua putranya bersama serombongan orang berjalan ke surga. Ia ingin mengikutinya tetapi ia ditolak. “Kamu bukanlah bagian dari kami sampai kamu ikut agama kami.” Si pendeta segera bangun dan mencari Imam Syadzili. Ia ceritakan semua yang ada di mimpinya itu kepada Imam Syadzili. Dan akhirnya si pendeta masuk Islam dengan sepenuh hati. Dan mereka semua melaksanakan haji bersama-sama.

Wasakhkhir lanaa kulla syai’, ya man bi yadihi malakutu kulli syai’.

Sumber:

  1. Durrat al-Asrar wa Tuhfat al-Abrar fi Manaqib al-Imam al-Syadzili, Ibnu Shibagh.

–http://archive.org/download/dorrat_al-asrar_wa_tohfat_al-abrar/dorrat_al-asrar_wa_tohfat_al-abrar.pdf

  1. Thabaqat al-Auliya’, Ibnu Mulaqqan.

http://archive.org/download/waq36150/36150.pdf

 

Oleh: Khoirul A. A., 21 Jumadil Ula 1441 H.

About the author

Redaksi PP Al-Fattah

Redaksi PP Al-Fattah

Website dikelola oleh tim redaksi Pondok Pesantren Al-Fattah

Add Comment

Click here to post a comment