Artikel

Kajian Sastra Profetik dalam Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A.A. Navis

Sastra profetik adalah sastra yang berjiwa transendental dan sufistik karena berangkat dari nilai-nilai ketauhidan. Selain itu juga memiliki semangat untuk terlibat dalam mengubah sejarah kemanusiaan yang memiliki semangat kenabian. Dapat dikatakan pula bahwa sastra profetik adalah bagian dari sastra  Islami. Mengenai pendekatan profetik dan hubungannya dengan cerpen “Robohnya Surau Kami”, Al-Quran Surat Al-Qashas ayat 77 menjelaskan:

وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٧٧

Artinya; “ Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan  janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Cerpen karya Ali Akbar Navis (A.A. Navis) yang berjudul Robohnya Surau Kami menceritakan tentang seorang Garin yang bekerja sebagai penjaga surau. Masyarakat kerap memanggilnya kakek. Beliau sangat taat dalam beribadah kepada Allah SWT. Dibanding dengan penjaga surau, kakek lebih terkenal sebagai seorang yang pandai mengasah pisau. Karena begitu mahir, orang-orang sering meminta bantuannya untuk mengasah pisau. Imbalan yang ia terima pun tidak seberapa, hanya sedikit sambal dan sebatang rokok yang ia terima. Bahkan tidak jarang orang-orang hanya mengucapkan terimakasih dengan disertai sedikit senyuman tanpa memberinya apa-apa lagi.

Suatu hari, kakek terlihat begitu muram, terlihat dagunya ditopang oleh kedua tangannya seakan menyiratkan kegalauan kelas kakap. Sementara itu, di sampingnya terdapat beberapa peralatan asahan beserta pisau cukur tua. Usut punya usut, penyebab kemurungan Kakek diakibatkan oleh cerita yang disampaikan Ajo Sidi. Ajo si pembual yang terkenal dengan bualannya yang aneh, unik, dan mengundang tawa. Namun pada hari itu, kakek lah yang menjadi objek bualannya. Pada intinya, Ajo Sidi sengaja menyindir kakek melalui cerita yang disampaikannya.

Ajo Sidi bercerita tentang seorang yang alim dan taat kepada Allah SWT. Ia bernama Haji Shaleh. Ajo Sidi bercerita juga bahwa di akhirat kelak, Allah akan memeriksa orang-orang yang sudah berpulang termasuk Haji Shaleh. Tibalah giliran Haji Shaleh yang ditanya oleh Allah dengan berbagai macam pertanyaan. Luar biasanya, pada seluruh pertanyaan yang ada, Haji Shaleh menjawabnya dengan tenang dengan diliputi senyum kebanggaan. Maklum karena semasa di dunia merasa sudah melakukan banyak ibadah. Di luar dugaan, kenyataannya Haji Shaleh dimasukkan ke dalam neraka.

Haji Shaleh memang takpernah mengingat urusan duniawi karena selalu fokus beribadah. Hal tersebut yang membuat Haji Shaleh lalai dalam mengurus dirinya sendiri. Ironisnya Ia bahkan melupakan kewajibannya untuk mencari nafkah halal yang akan diberikannya kepada keluarganya. Haji Shaleh hanya memikirkan persoalan akhirat dan menyerahkan sepenuhnya urusan rezeki kepada Allah tanpa berusaha untuk bekerja. Dia larut dalam kekhusyukannya hingga jarang berbaur dengan masyarakat di sekitarnya. Padahal dia hidup tidak sendiri. Namun tiada yang dipedulikannya selain bersujud dan memuji Allah siang dan malam tanpa henti. Karena sebab tersebut Haji Shaleh ditempatkan di neraka.

Setelah mendengar cerita yang dipaparkan oleh Ajo Sidi, Kakek pun langsung merenungkannya dalam-dalam. Ia seolah ikut merasakan nasib Haji Shaleh dalam bualan Arjo Sidi.

Keesokan harinya, Kakek mengakhiri hidup di surau dalam keadaan yang mengenaskan. Kakek menggorok lehernya sendiri dengan menggunakan pisau cukur. Semua warga kampung ikut mengurus jenazah kakek. Tetapi, Ajo Sidi yang dapat dikatakan sebagai biangkerok kematian Kakek, pergi berkerja tiada berada di rumahnya. Ajo Sidi hanya berpesan kepada istrinya agar dibelikan kain kafan tujuh lapis untuk jenazah Sang Kakek.

Mengacu kepada cerpen tersebut, ada baiknya menengok sedikit hadits yang diriwayatkan Ibnu Asakir dan Anas yang menjelaskan tentang keseimbangan dunia dan akhirat yang artinya:

Bukankah orang yang paling baik diantara kamu orang yang meninggalkan kepentingan dunia untuk mengejar akhirat atau meninggalkan akhirat untuk mengejar dunia sehingga dapat memadukan keduanya. Sesungguhnya kehidupan dunia mengantarkan kamu menuju kehidupan akhirat. Janganlah kamu menjadi beban orang lain.”

Pada penjelasan terjemahan hadist di atas, kehidupan yang baik ialah kehidupan yang mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya dengan menyadari bahwa hidup adalah tentang bagaimana cara mengatur visi kehidupan sehingga menjadikannya selaras serta mampu menyeimbangkan keduanya. Bisa dengan cara berusaha dan berdoa. Apabila direlevansikan, cerpen tersebut memiliki nilai amar makruf artinya menyuruh pada kebaikan. Cerpen di atas menyampaikan pesan tersirat untuk tidak perlu menyerah dengan keadaan. Pada sinopsis di atas, secara implisit, tokoh kakek hanya salah memahami cerita yang disampaikan oleh Ajo Sidi.

Cerpen “Robohnya Surau Kami” memperlihatkan adanya suatu ajaran yang menegaskan betapa pentingnya sebuah nilai sosial. Nilai tersebut memang sengaja ditonjolkan. Tujuannya ialah pembaca dapat mengimplementasikan keterlibatannya dalam hubungan pergaulan bermasyarakat dan melakukan pekerjaan halal sebagaimana mestinya. Al-Qur’an sendiri telah mengatakan bahwasanya manusia harus berbuat baik kepada orang lain dan jangan meninggalkan bagianmu dari kenikmatan dunia (bekerja).

Tentunya hidup tidak melulu hanya soal berdoa. Tidak selalu selamanya bergelut dalam kepasrahan dan pengharapan terhadap Allah saja. Manusia pun diperintahkan untuk bekerja dalam rangka menyeimbangkan dunia dan akhiratnya. Tetapi yang terjadi dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”, Kakek digambarkan sebagai sosok pemalas dan memiliki paradigma yang kecil. Akibatnya hal-hal yang tidak cukup untuk nalarnya membuat Kakek mengakhiri hidupnya sendiri. Ironisnya, Kakek pergi jauh tanpa mencerna dalam-dalam makna dari cerita bualan Ajo Sidi.

About the author

Iqbal Syahrul Akbar

Iqbal Syahrul Akbar

Mahasiswa cum Santri Ganteng yang hobi makan dan bernyanyi. Hobi menulis puisi patah hati dan melankolis. Serta sering menolong orang-orang tua, anak kecil dan wanita cantik. Eh.

Add Comment

Click here to post a comment