Hadis

Abu Hurairah; Kucing, Hadis dan Riwayat Singkat

Mula-mula, tak ada yang tahu pasti berapa jumlah orang yang bertemu dengan Nabi Muhammad kala sugeng (baca: hidup). Kumpulan orang yang bertemu nabi itu kemudian hari disebut sebagai sahabah (صحابة). Kata ini merupakan bentuk singular, atau istilah yang kita akrabi, mufrad. Pluralnya, jamaknya, adalah ashab (أصحاب).

Sekali lagi, kata ini, dalam bentuk singularnya diendonesakan menjadi sahabat dengan takrif; kawan; teman; dan handai. Kata lain yang seakar, sahib, yang dipungut dari isim fail, istilah bagi urutan ketiga dalam morfologi Arab (sharf) diartikan sebagai; sahabat; yang empunya; atau pemilik. Sahibulhajat, sahibulbait, sahibulhikayat dan sahibul mal adalah beberapa contoh yang dapat kita temukan di dalam kamus besar kita, Kamus Besar Bahasa Indonesia V daring.

Mari kita tasrif fiil sha-hi-ba dengan mengikuti wazan bab empat; fa’ila-yaf’alu. Cukup.

Dari ribuan nama sahabat Nabi Muhammad, tentu tak asing lagi dengan nama Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Kita akrabi nama itu dari riwayat-riwayat hadis, baik yang kita baca atau dengar. Kecuali yang tidur ketika ngaji~

Sahabat Abu Hurairah memiliki nama Abdurrahman bin Sakhr. Begitu yang disebut dalam hadis kesembilan kitab al-Arbain al-Nawawiyyah. Kakeknya adalah Tsa’labah bin Salim bin Fahm bin Ghanm bin Daus al-Yamani. Dari nama terakhir ini, Abu Hurairah menyandang nisbat, al-Dausiy. Belum lama ini, saya baru tahu, bahwa nama Abdurrahman adalah nama pemberian Nabi Muhammad. Konon nama aslinya adalah ‘Abd Syams. Begitu yang terbaca dalam Abu Hurairah, Rawiyat al-Islam (1982) karya Dr. Muhammad ‘Ajjaj al-Khatib.

Ihwal penamaan Abu Hurairah—bentuk ini kita kenal dengan istilah kun-yah—ini bermula ia membawa seekor kucing di jalan, lalu memasukkannya ke dalam saku baju. Hal tersebut membuat orang-orang yang berpapasan spontan memanggilnya Abu Hurairah, Bapaknya Kucing. Tapi dalam satu riwayat lain, Abu Hurairah agak tidak berkenan dengan kunyah-nya itu. Ia lebih suka dengan panggilan Nabi kepadanya; Abu Hirrin. Mudzakkar itu lebih baik ketimbang muannats, begitu alasannya.

Sewaktu kecil, saban pagi ia meggembala domba milik keluarganya. Baru ketika matahari beranjak ke titik kulminasi, ia pulang dan bermain-main dengan mamalia kecil dari familia Falidae itu. Besar kemungkinan, kucing Abu Hurairah ini masuk dalam Genus Felis Margarita, atau kucing pasir yang memiliki kepala dan telinga yang tampak lebih lebar ketimbang kucing piaraan kawan kita, Kholil.

Tidak banyak catatan tentang Abu Hurairah sebelum masuk Islam. Yang jelas, ia lahir dan dewasa di Yaman, yatim, menggembala domba keluarga, dan hidup berkekurangan. Hingga kemudian Allah meletakkan Islam di hatinya. Sejak itu hidupnya serba berkebaikan.

Kisah singkat Islamnya Abu Hurairah dapat kita simak berikut.

Adalah al-Thufail bin Amr al-Dausiy, seorang lelaki penyair beroleh nama di hati kaumnya. Keharuman namanya dikenal oleh kabilah Quraisy di Makkah. Kala al-Thufail ingin bertolak ke Makkah, orang-orang rewel mewanti-wantinya supaya tak mengindahkan seorang lelaki pembuat onar jika ia telah sampai di Makkah nanti. Yang mereka maksud lelaki pembuat onar itu adalah Nabi Muhammad Saw.

Namun, setibanya al-Thufail di Makkah, di depan Kakbah, ia melihat seorang lelaki gagah sedang salat. Darinya terdengar kalam-kalam yang membuat al-Thufail terkesima. Alangkah indahnya kalam yang keluar dari lisan lelaki itu, batin al-Thufail. Ia menunggu lelaki itu sampai rampung. Tidak lama, usai lelaki itu beranjak, ia segera menghampiri dan bertanya soal kalam-kalam di dalam salatnya tadi. Diajaklah al-Thufail ke rumah lelaki itu. Diperdengarkan kepadanya ayat-ayat al-Quran. Dirasakannya manis iman. Diucapkannya dua kalimat syahadat, di hadapan lelaki yang sedari awal ia temui, Nabi Muhammad Saw, Sang Rasul yang ia persaksikan dalam syahadatnya.

Al-Thufail kemudian diutus Nabi Muhammad untuk berdakwah kepada kaumnnya di Daus. Dan di tangan al-Thufail itulah kelak Abu Hurairah masuk Islam bersama beberapa orang lainnya. Usai itu, ia berhijrah ke kota Nabi, Madinah al-Munawwarah dan menetap di sana, mendedikasikan hidupnya di sisi Nabi; melayani, belajar, berperang, bermusafir, dan aktivitas harian lainnya,  hingga akhir hayat Nabi.

Abu Hurairah adalah satu dari tujuh sahabat yang termasuk al-muktsirun, orang yang banyak meriwayatkan hadis. Tidak ada jumlah yang pasti. Konon sampai lima ribuan hadis. Namun kita dapat menyepakati definisi al-muktsirun adalah orang yang meriwayatkan hadis lebih  dari seribu sebagaimana yang Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki tulis dalam al-Manhal al-Lathif fi Ushul Ilm al-Hadits (2012).

Ada satu keistimewaan dari Abu Hurairah, yaitu ia memiliki ilmu yang tak terlupakan. Kita dapat membacanya dalam riwayat Imam al-Nawawi dalam bab ilmu, bahwa ada seorang lelaki datang dan bertanya kepada Zaid bin Tsabit. Oleh Zaid, lelaki itu direkomendasikan untuk bertanya kepada Abu Hurairah, “Tanyakanlah kepada Abu Hurairah. Pernah suatu ketika aku, Abu Hurairah dan seseorang yang berzikir duduk bersama di dalam masjid. Tiba-tiba Rasulullah Saw datang. Kami hanya terdiam. Lalu Rasulullah menyuruh kami untuk melanjutkan obrolan yang terjeda.

Di hadapan Abu Hurairah dan Rasulullah, aku bersama seseorang teman berdoa. Mereka berdua mengamini doa kami. Giliran Abu Hurairah yang berdoa di hadapan kami dan Rasulullah, “Ya Allah, aku memohon kepadaMu seperti apa yang dimohonkan oleh kedua orang temanku ini, dan aku memohon kepadaMu, ilmu yang tak terlupakan.” Doa itu kami dan Rasulullah amini. Tahu doa kami ingin ilmu yang tak terlupakan, Rasulullah dhawuh kepada kami (Zaid dan seorang kawannya), “Kamu berdua telah didahului oleh putra Daus (baca: Abu Hurairah).”

Hidup selama 47 tahun pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw, Abu Hurairah wafat di Madinah dalam usia 78 tahun tahun 57 H. Kita dapat melihat betapa giatnya Abu Hurairah mendokumentasikan hadis-hadis Nabi Muhammad Saw, lalu mempublikasikannya kepada banyak orang. Hingga hadis-hadis riwayat Abu Hurairah (dan riwayat sahabat lain) itu, sekarang tersaji di hadapan kita. Allahumma zidna ‘ilman nafi’an.

About the author

Khoirul Athyabil Anwari

Khoirul Athyabil Anwari

Jayeng kopi di gothakan

Add Comment

Click here to post a comment