karya santri

SANTRI YANG ISTIQOMAH: PENJAGA TRADISI DAN PEMBENTUK PERADABAN MASA DEPAN

Kata santri telah lama melekat dalam masyarakat Indonesia sebagai simbol kekokohan nilai-nilai budaya dan agama. Menurut KH. Abdurrahman Wahid (dalam Bahri, 2018), mendefinisikan santri sebagai seseorang yang dididik melalui pesantren untuk menjadi alim dalam ilmu agama melalui bimbingan seorang kyai, serta diarahkan agar mampu mengamalkan ilmunya dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan pesantren tidak hanya menjaga moral dan menyebarkan ajaran agama, tetapi juga melestarikan tradisi lokal sembari mendorong perbaikan sosial (Bambang Ilyasin, 2022). Namun, derasnya arus globalisasi dan tranformasi digital, menuntut santri untuk mempertahankan tradisi tanpa kehilangan relevansi. Oleh karena itu, nilai istiqomah menjadi kunci agar santri tetap menjadi penjaga tradisi sekaligus inovator peradaban masa depan. Esai ini akan membahas bagaimana istiqomah membentuk karakter santri yang adaptif namun tetap berprinsip, dengan menyoroti praktiknya di era digital.

Kehidupan santri erat dengan radisi mulia seperti kedisiplinan, tawadhu’ kepada guru, serta konsistensi dalam ibadah dan etika sosial. Istiqomah yang secara etimologis berasal dari kata ”qoma” yang berarti berdiri atau tegak lurus, mencerminkan sikap teguh pada pendirian dan tidak mudah goyah. Umar bin Khatab r.a mengatakan: “Istiqomah adalah komitmen terhadap perintah dan larangan dan tidak boleh menipu sebagaimana tipuan musang” (Makhromi, 2014), dapat dipahami bahwa istiqomah merupakan komitmen pada perintah dan larangan Allah tanpa tipu daya. Hal ini juga ditegaskan dalam Q.S Al-Hud:12, ”Maka tetaplah (istiqamahlah) kamu pada jalan yang benar…” (Al Quran, 2020). Bagi santri, istiqomah tidak hanya berarti rajin beribadah, tetapi juga menjaga akhlak, menaati aturan pesantren, dan menghindari perilaku tercela, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Era media sosial menghadirkan godaan besar mulai dari konten yang tidak mendidik hingga budaya viral yang sering kali bertentangan dengan nilai kesopanan.Di era inilah, santri memiliki tantangan baru untuk mempertahankan jati dirinya di tengah gempuran pengaruh-pengaruh negatif media sosial.

Dalam menjaga nilai-nilai istiqomah, Pondok Pesantren Al-Fattah Kartasura sebuah pondok pesantren mahasiswa berbasis semi modern di sekitar kampus UIN Raden Mas Said Surakarta juga menghadapi tantangan tersebut. Pesantren ini berupaya menjaga pakem tradisi seperti kajian kitab kuning, kedisiplinan harian, serta kegiatan pengabdian masyarakat seperti tahlilan dan yasinan di rumah warga setiap malam Jumat. Kehadiran santri di tengah masyarakat menjadi penguat nilai spiritual sekaligus teladan sosial.

Namun Al-Fattah tidak berhenti pada pelestarian tradisi, tetapi juga melakukan adaptasi digital dengan mengelola konten positif pondok pesantren melalui plattfrom online seperti Youtube, TikTok dan Instagram untuk menunjukkan eksistensi pesantren yang produktif dan positif. Selain itu Pondok Pesantren Al-Fattah juga melakukan pelatihan wirausaha dalam pembuatan roti, yang bertujuan untuk melatih ketrampilan para santri dalam berwirausaha. Pelatihan kepenulisan juga dilakukan di sini, untuk membekali pengetahuan akademis santri dalam menjalankan perkuliahan di kampus. Hal ini menjadi bentuk upaya pesantren dalam memberikan penguatan keterampilan bagi santri agar tidak hanya menjadi penjaga moral, tetapi juga menjadi agen perubahan sosial dan ekonomi. Sinergi antara tradisi dan inovasi inilah yang membuktikan bahwa istiqomah bukan berarti kaku terhadap perubahan, melainkan konsisten dalam kebaikan meskipun zaman berubah. Santri yang istiqomah bukan hanya pandai membaca kitab, tetapi juga mampu mengelola konten digital, membangun usaha, berdakwah dengan bahasa milenial, dan tetap menjaga adab dalam setiap langkahnya.

Dengan berpegang pada nilai istiqomah, santri tidak hanya menjadi penjaga tradisi lama, tetapi juga pembentuk peradaban baru. Mereka mampu berdiri tegak di tengah arus globalisasi tanpa kehilangan jati diri. Esai ini menunjukkan bahwa istiqomah bukanlah sikap pasif, melainkan energi aktif untuk bertahan dan berkembang secara bermartabat. Maka, santri layak didukung dan difasilitasi agar tetap istiqomah, sehingga pesantren terus menjadi cahaya peradaban Indonesia di tengah perubahan zaman.

Author : Safithri Khairunnisa (Juara 2 Lomba Essay, Perwakilan kamar Musdalifah dan Amaliyah)

DAFTAR PUSTAKA
Al Quran (Iwan Setia). (2020). Cardoba International Indonesia.
Bahri, S. (2018). Pemikiran KH. Abdurrahman Wahid tentang Sistem Pendidikan Pesantren. EDUGAMA: Jurnal Kependidikan Dan Sosial Keagamaan, 1(2018), 1689–1699.
Bambang Ilyasin. (2022). Santri Merawat Tradisi Lokal (Studi atas Kompolan Tera’ Bulan di Kecamatan Gapura). JSP: Jurnal Studi Pesantren, 1(2), 157–173. https://doi.org/10.59005/jsp.v1i2.185
Makhromi. (2014). Istiqomah Dalam Belajar ( Studi atas Kitab Ta ’ lim Wa Muta ’ allim ). Jurnal Pemikiran KeIslaman, 25(1), 163–176.

About the author

Redaksi PP Al-Fattah

Redaksi PP Al-Fattah

Website dikelola oleh tim redaksi Pondok Pesantren Al-Fattah

Add Comment

Click here to post a comment

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses