Kisah

Peran KH Subkhi dalam Kemerdekaan

nu.or.id

Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran Ulama dan Santri, dari berbagai daerah Indonesia banyak hal yang menarik untuk di pelajari salah satunya di kota Temanggung, ada berbagai laskar yang berjuang memperebutkan kemerdekan RI laskar itu diantaranya adalah Barisan Muslimin Temanggung (BMT), Barisan Bambu Runcing (BBR), Tentara Hizbullah, Pasukan Sabilillah, BKR, AMRI, dan masih banyak lagi. Ada pula beberapa ulama yang kharismatik yang mampu memimpin para Rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia salah satunya adalah ulama dari temanggung yaitu K.H SUBKHI atau sering di panggil dengan nama Mbah kyai Subeki Parakan beliau adalah seorang ulama yang pertama mempelopori Bambu Runcing sebagai senjata melawan para penjajah, beliau sangat di segani oleh para masyarakat sekitar terlebih lagi para orang-orang islam

Biografi Mbah Subeki Parakan

Kyai Subkhi lahir di Parakan Temanggug, Jawa Tengah pada tahun 1850 M beliau merupakan putra sulung dari 8 bersaudara ayahnya bernama K.Harun Arrasyid yang merupakan penghulu di masjid AL-BAROKAH daerah ini sering di sebut dengan nama KAUMAN, orang-orang Temanggung dulunya   menamai daerah Kauman  karena dulunya di daerah itu pasti ada masjid, dan di tempati seorang Penghulu/Modin yang disebut dengan Mbah Kaum, di daerah temanggung banyak sekali daerah yang dinamakan Kauman, salah satunya Kauman Parakan tempat lahir Kyai Subkhi. Nama kecil Kyai Subkhi adalah Muhammad Bejing kemudian ketika kyai Subkhi menikah beliau berganti nama dengan nama R.SOMOWARDOJO dan baru ketika mbah Kyai ini pulang dari Makkah atau setelah menunaikan Haji berganti lagi namanya dengan SUBKHI, Kyai Subkhi atau Mbah Subeki memiliki 8 anak dengan istri pertamanya, kemudian sepulang dari haji beliau menikah lagi dengan seorang janda beranak 2 karena istri yang pertamanya meninggal. Kakek dari Kyai Subkhi bernama Kyai Abdul Wahab yang merupakan keturunan dari Tumenggung Suroloyo Mlangi Yogyakarta, Kyai Abdul Wahab adalah seorang pengikut Pangeran Diponegoro namun ketika perang jawa (1825-1830) dan di tangkapnya Pangeran Diponegoro membuat para pengikutnya pergi melarian diri, Kyai Wahab melarikan diri sampai ke daerah Parakan sebagai tempat bermukim, karena daerah ini merupakan titik penting transportasi antara karisidenan Kedu dan Banyumas, dan Kyai Wahab pun menjadikan tempat tersebut sebagai tempat penggemblengan para santri.

Kyai Subkhi sejak kecil dididik di pesantren beliau di pesantrenkan di Somolangu Kebumen asuhan Kyai Abdurrahman Somolangu, dengan ini Kyai Subkhi mampu mebentuk pribadi muslim yang tinggi dan menanamkan paham kebangsaan yang tinggi, terbukti ketika beliau sudah bermukim beliau mampu memimpin berbagai laskar pejuang kemerdekaan. Pada awal abad 20 kota Temanggung menjadi basis pergerakan Sarekat Islam (SI) para santri di Parakan menjadi tulang punggung Kaderisasi SI, Kyai Subkhi bersama para Kyai yang lain juga pernah menyelenggarakan Kongres SI pada tahun 1913 yang sekaligus dihadiri pemimpin SI yaitu HOS. Tjokroaminoto dan kemudian didirikan SI cabang TEMANGGUNG pada tahun 1915 dengan jumlah 4.507 anggota.

PERAN MBAH SUBKHI DALAM MEMPERJUANGKAN KEMERDEKAAN

Dalam memperjuangkan kemerdekaan, rakyat Indonesia berjuang terus-menerus dengan berbagai usaha untuk mengambil alih kemerdekaan Indonesia tak lupa juga dengan perjuangan kaum Santri dan Kyai terutama di wilayah Parakan Temanggung, wilayah ini menjadi tempat penggemblengan santri untuk menimba ilmu keagamaan sekaligus menanamkan jiwa nasionalisme terlebih lagi  ketika pengurus NU Cabang Temanggung menerima intruksi dai Pengurus Besar Nahdhotul Ulama SURABAYA Tgl 22,Oktober,1945 seruan jihad fisabilillah bagi seluruh umat islam setempat dan hukumnya adalah Fardhu ‘Ain. instruksi tersebut adalah fatwa KH.Hasyim Asy’ari yang sebelumnya bermusyawarah bersama ulama-ulama besar pada waktu itu yang tergabung dalam Komite Hijaz, hal itu membuat seluruh masyakat temanggung terbakar semangatnya dan bertambah keberanian dalam berjuang. Berbagai laskar yang ada di Temanggung yang di kerahkan untuk mengusir penjajah yaitu

  1. Barisan Muslimin Temanggung (BMT)
  2. Barisan Bambu Runcing (BBR)
  3. Barisan Keamanan Rakyat (BKR)
  4. Pasukan Sabilillah
  5. Tentara Hizbullah
  6. AMRI

Berbagai perlawanan Masyarakat Temanggung telah di kerahkan semua berjuang dari berbagai kalangan, ada kaum santri dan kyainya serta pemuda-pemudi dan petani yang ada membantu memperebutkan kemerdekaan.

Pada waktu itu Indonesia masih kurang dalam persenjataan ada yang masih menggunakan senjata seperti Keris,Pujang,Pedang, dan senjata Tradisional lainya bahkan ada yang menggunakan pistol atau bedil yang dirampas dari penjajah, namun berbeda dengan masyarakat Temanggung pada umumnya, masyarakat Temanggung menggunakan senjata BAMBU RUNCING untuk mengusir penjajah yang di pelopori oleh Mbah K.H Subkhi.

Bambu runcing banyak di bicarakan di berbagai narasi, bahkan di sekolah-sekolah pun siswa di ajarkan sejarah perlawanan rakyat Indonesia dengan senjata bambu runcing , namun belum banyak yang mengetahui siapa yang mempelopori dan kelebihan dari bambu runcing yang di gunakan sebagai senjata melawan penjajah, Mbah Subkhi ini adalah salah seorang yan mempelopori melawan menggunakan senjata bambu runcing. Bambu runcing yang digunakan bukan sembarang bambu, karena bambu tersebut terbuat dari bambu pilihan, ada dua jenis bambu yang digunakan yaitu bambu wulung dan bambu legi  yang kemudian di runcingi lancip dan setelah itu di beri doa dan di tiupkan keujung bambu maka atas izin Allah Bambu tersebut menjadi senjata yang dahsyat melebihi senjata-senjata milik Belanda, Masyarakat Temamnggung lebih mengenalnya dengan bambu yang di sepuhkan (Suwuk), sebenarnya bukan hanya bambu saja yang di sepuhkan tapi berbagai senjata yang bisa di buat untuk melawan penjajah. Tak hanya itu, ada pula Sekul legi atau (Nasi Manis) yang jika dimakan membuat rasa tahan lapar yang lama dan berbagai khasiat lainya, ada juga Toyo Kendel / Banyu Wani (Air Berani) yang jika di minum menjadikan Kuat dan berani menghadapi musuh-musuh, Mbah Subeki tidak sendiri tetapi di bantu para ulama dan kyai yang berada di situ, awalnya mbah subeki menyepuhnya dengan sendirian tetapi setelah itu ada fase kedua yang di bantu para kyai yang lain karena semakin banyak yang berbondong-bondong meminta doa dan menyepuhkan senjata, bahkan lokasi tempat penyepuhan pun sangat ramai hingga membludak kalau bahasa jawanya, ada catatan dari kyai Ikhtasor Al-Hafizd yang menyebutkan bahwa pada waktu itu para pejuang yang ingin meminta doa setiap hari berjumlah kurang lebih 10.000 pendatang, mereka berdatangan dari berbagai daerah menggunakan transportasi Kereta Api dan ada juga yang menggunakan Truk sampai-sampai truk yang di kendarai tersebut penuh penumpang hingga berdesakan, maka dari itu untuk mempermudah penyepuhan tersebut dijadikanya upacara penyepuhan dengan berkluater-kluater.

Banyak kyai-kyai yang membantu, diantaranya adalah KH. Sumo Gunardho yang menyepuh bambu, KH. Abdurrahman yang memberi Nasi kepal yang dinamakan Sekul legi dan Kyai Ali yang memberikan Toyo Kendel atau Air berani, air tersebut awalnya di ambil dari gunung jaran, salah satu perbukitan yang ada di Kec.Kedu, Temanggung. kemudian setelah itu air di campurkan dengan air milik kyai Ali yang ada di sumurnya mbah  Kyai Ali, sampai sekarang pun sumur tersebut masih ada di Dalem atau Rumah kyai Ali belakang pondok PPZM dan masih banyak lagi kyai lain yang membantu upacara tersebut.

Mbah Subeki pernah ngendiko “tentara belanda akan kembali menjajah Negara dan akan datang di daerah kita dan memaksa kepada kita agar kita menyerah kepada belanda, kita berjuang menggunakan Bambu Runcing yang di beri Doa, Insyaallah Belanda akan takut dan pergi dari bumi  Indonesia.

DAFAR PUSTAKA

Gnardo , Muhaiminan , 1988, Bambu Runcing Parakan, Kota Kembang, Yogakarta

Sam’ani , Ikhtasor , 1995, Sejarah Bambu Runcing. Paakan, Temanggung

Zuhri , Sifudin, 2001   , Guruku Orang-orang Dari Pesantren . Yogyakarta : Pustaka Sastra LKIS

Ansomi , 2010 , Kyai dan Bambu Runcing, “Mengungkap peran Kyai dan Bambu Runcing pada masa perang Kemerdekaan”. Semarang : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama

About the author

M Husna Rosyadi

M Husna Rosyadi

Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam IAIN Surakarta. Abdi ndalem Mangkunegaran sekaligus owner Rosadi Cofee. Hobi nembang dan bakul kopi.

Add Comment

Click here to post a comment