Artikel

Lahirnya Manusia yang Begitu Didambakan

Senin, 12 Rabiul Awwal “tahun gajah” lahirlah kekasih Allah SWT yang diutus menjadi Penutup para nabi untuk menuntun dan menyempurnakan agama umat di dunia.

Sebelum Rasulullah Saw dilahirkan ke bumi, terlebih dulu ditandai beberapa peristiwa yang muncul yaitu singgasana Raja Persia yang bergoyang-goyang hingga menimbulkan kegaduhan lalu 14 balkon istana pun runtuh, lalu padamnya api sesembahan kaum Majusi di kuil pemujaan di Persia, padahal api ini diyakini sudah menyala seribu tahun lebih dan tidak pernah padam sekalipun. Masyarakat Majusi pun terus berusaha untuk menghidupkan kembali api tersebut agar bisa kembali disembah namun selalu gagal. Lalu peristiwa yang terjadi di tempat lainnya yaitu surutnya danau Sawa yang dikultuskan dan dianggap suci oleh rakyat Persia.

Dan satu peristiwa paling tersohor yaitu kehancuran pasukan gajah yang dipimpin oleh Raja Abrahah. Seorang Raja di Abysinia, Yaman yang merasa iri terhadap perekonomian di Makkah dengan adanya Ka’bah itu jauh lebih maju dari pada Yaman. Pasalnya, di Yaman sangat sedikit orang yang pergi ke kuil di Abysinia, sedangkan banyak sekali orang yang berziarah ke Ka’bah sehingga dapat mendongkrak perekonomian Makkah kala itu.

Akhirnya Raja Abrahah dan pasukan gajahnya pun mendatangi Makkah dan menyerang Ka’bah. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Quran surah Al-Fiil. Disebutkan bahwa ketika pasukan gajah memasuki kota Makkah itu sudah dihujani batu yang dibawa oleh sekelompok burung Ababil atas perintah Allah SWT, lalu pasukan gajah pun kocar-kacir sehinnga kota Makkah beserta isinya pun selamat dari serangan pasukan gajah.

Dan tak lama, lahirlah Baginda Nabi Muhammad SAW dari pasangan Abdullah putra Abdul Muthallib, sang pemimpin suku Quraisy dengan Aminah putri Wahab pemimpin Bani Zukhrah. Beliau dibesarkan dalam keadaan yatim, karena pada saat Nabi Muhammad SAW berusia 3 bulan di dalam kandungan sudah ditinggal Sang Ayah yang wafat ketika sedang berdagang ke Negeri Syam.

Dan kini, kita sebagai umatnya hanya bisa memperingati hari kelahiran manusia yang paling dicintai.

Pertama kali memperingati maulid Nabi pada abad ke IV oleh dinasti Fathimiyyah di Mesir, yang telah menguasai Mesir sejak tahun 362 H. Pada awalnya perayaan tersebut tidak hanya untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW saja, akan tetapi langsung membuat 6 perayaan sekaligus yaitu hari lahirnya Ali bin Abi Tholib, Fatimah, Hasan dan Husen dan hari lahirnya raja yang berkuasa kala itu, sekaligus merayakan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW.

Memperingati Maulid Nabi diartikan sebagai ekspresi kegembiraan bagi umat Islam atas kelahiran Sang Pemimpin. Kita sebagai umat beliau, sudah semestinya merayakan kelahiran seseorang yang sebabnya lah semesta ini diciptakan, termasuk kita. Seseorang yang kelak hanya beliau yang mampu menolong kita.

Hingga kini memperingati Maulid Nabi pun masih sering dilakukan mayoritas umat Islam dan biasanya dalam memperingati Maulid Nabi mereka mengilas balik peringai Rasulullah, dengan membaca Sirah(riwayat hidup), al-Barzanji, Maulid Simtuduror, al-Dziba’i dan lain sebagainya. Namun terdapat ikhtilaf mengenai hal ini. Bahkan tak jarang seseorang membid’ahkan amaliah yang entah sejak kapan dilakukan oleh salafus salih itu.

Imam Syafi’i mengatakan “suatu kebaikan yang baru dan tidak bertentangan dengan kalam Allah, sunnah, dan ijma’ dinilai terpuji. Sesungguhnya tidak semua bid’ah itu haram. Jika semua bid’ah itu haram, niscaya haramlah pengumpulan lembaran Al-Quran yang dikumpulkan oleh para khalifah dan zaid”.

Perayaan maulid juga bisa didasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud “Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, ia pun dipandang baik di sisi Allah SWT, dan apa yang dipandang buruk oleh kaum muslimin, ia pun buruk disisi Allah SWT”.  Karena baik buruknya suatu perayaan yang bisa menimbulkan polemik umat, sangat tergantung dengan keyakinan masing-masing manusia. Wallahu a’lam.

Oleh: Chusnul Mutia

Editor: Khoirun Nisa

About the author

Redaksi PP Al-Fattah

Redaksi PP Al-Fattah

Website dikelola oleh tim redaksi Pondok Pesantren Al-Fattah

Add Comment

Click here to post a comment