Opini Suara Santri

Generasi Malas dan Takut Lapar

sumber: kumparan.com

Malam itu saya bersama teman-teman memesan makanan di aplikasi pesan antar makanan melalui layar ponsel. Sebenarnya kami tidak terlalu lapar, namun karena kita berkumpul cukup lama, ada teman yang mengusulkan membeli kudapan malam. Baiklah, saat itu juga kami memesan dua porsi roti bakar. Tidak berselang lama, makanan tersebut sudah datang dengan diantar oleh mas-mas ojek online yang melayani pesanan kami.

Semenjak marak bermunculan aplikasi layanan pesan antar makanan, kita semakin dimudahkan untuk melakukan transaksi kuliner dengan varian harga dan jenis makanan yang beraneka ragam. Tanpa harus repot menggerakkan tubuh, cukup dengan bantuan layar ponsel yang kita sentuh, makanan penggugah selera dapat kita nikmati dengan segera.

Namun sadar atau tidak, fenomena aplikasi pesan antar makanan ini sebenarnya berpeluang menjadikan kita semakin malas bergerak, atau bahkan dapat mempengaruhi prilaku hidup yang bertambah konsumtif. Bayangkan saja, aplikasi pesan antar makanan tersebut dapat kita akses setiap saat dalam situasi apapun 24 jam non stop, asal kita masih bisa mengakses jaringan internet, aplikasi tersebut akan siap sedia melayani kita dengan setia mengusir rasa lapar yang mendera.

Padahal sebelumnya saya ingat betul, dulu sebelum keberadaan aplikasi pesan antar makanan, ketika di asrama sekolah saya merasakan lapar di tengah malam, hal yang bisa saya lakukan hanya menahan rasa lapar tersebut dengan minum air putih atau langsung saya beranjak tidur. Sebab mustahil saya harus keluar asrama malam-malam dengan berharap masih ada warung makan yang buka di waktu tengah malam. Kalaupun masih ada satu dua warung makan yang buka, saya terlalu malas untuk menempuh jarak terlalu jauh menuju warung tersebut dalam suasana malam yang sepi dan dingin.

Rasa lapar yang saya alami saat itu bukanlah persoalan serius. Sebab saya yakin, lapar itu akan berakhir besok pagi dengan menu sarapan di kantin asrama. Namun hari ini naluri bertahan dari rasa lapar sudah jarang kita rasakan. Ketika lapar, gampang saja tinggal buka aplikasi, pilih menu, deal dan siapkan uang, lalu tunggu pesanan datang. Tak perlu menunggu lama makanan yang kita harapkan akan siap tersaji di hadapan mulut kita.

Di zaman yang serba canggih  seperti sekarang ini, kita semakin dimudahkan untuk mendapatkan sesuatu, termasuk makanan. Hanya saja kemudahan yang kita dapatkan melalui layanan aplikasi pesan antar makanan, justru membuat kita seolah semakin merasa ketakutan menahan lapar terlalu lama. Lapar itu aib. Lambat laun, suatu saat kita akan lupa nikmatnya perut lapar ketika bertemu makanan. Kita akan lupa lapar sebab sebelum lapar mendera, kita sudah menyiapkan sekian daftar menu yang siap kita pesan di layar ponsel.

Takut Lapar

Takut dan tak mau merasai lapar mungkin bisa jadi sesuatu yang buruk bagi kita. Melupakan lapar bisa juga diartikan melupakan biografi perlawanan terhadap ketidakadailan. Kita dulu sering mendengar istilah “mogok makan” yang menjadi senjata andalan para pendemo untuk menyuarakan aspirasi kepada para pemangku kebijakan. Dengan tidak makan dan menahan lapar selama beberapa waktu, para pendemo berharap agar tuntutan mereka segera dikabulkan.

Di dunia maya kita bisa mendapati sederet laman berita yang mewartakan demo dengan jalan mogok makan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa. Seperti di laman berita Okezone tertanggal 23 November 2011, yang bertajuk “Demo Mogok Makan, 3 Mahasiswa Ternate Kritis”. Selain itu Solopos.com pada tanggal 27 Maret 2012 juga pernah mengangkat berita tentang 15 mahasiswa IAIN Semarang yang melakukan aksi mogok makan untuk mendemo kenaikan harga BBM.

Lapar yang dirasai oleh para mahasiswa yang melakukan demo tersebut, adalah lapar yang bermartabat dan patut kita kenang sebagai bentuk idealisme kaum intelektual. Lapar adalah jalan terakhir untuk melakukan negosiasi kepada para pemangku kebijakan yang sudah tidak bisa lagi diajak dialog dengan kata-kata. Mahasiswa-mahasiswa tersebut tentu tidak menyesal telah melakukan aksi menahan rasa lapar dengan mogok makan. Mereka tidak takut lapar, mereka lebih takut perut kenyang tapi hati dan mata melihat pembiaran ketidakadilan.

Namun hari ini kita justru mendapati maraknya mahasiswa yang menjadi salah satu konsumen paling taat menggunakan layanan pesan antar makanan. Seperti apa yang saya alami sendiri, banyak diantara teman-teman saya sesama mahasiswa yang gandrung untuk memesan makanan melalui aplikasi tersebut. Bisa dipastikan juga, sebagian besar mahasiswa pasti memiliki aplikasi layanan pesan antar makanan di smartphone mereka untuk memenuhi hajat mengenyangkan diri.

Degradasi pemaknaan rasa lapar di kalanagan mahasiswa tentu membawa kekhawatiran tersendiri, selain ini merupakan babak awal dari kelahiran generasi takut lapar, kontribusi layanan pesan antar makanan sedikit banyak berpengaruh terhadap prilaku konsumtif di kalangan mahasiswa. Hedonisme kuliner menjadi gaya hidup baru di kalangan mahasiswa yang semakin kalap melahap segala jenis menu baru yang ditawarkan.

Nampaknya kehadiran layanan pesan antar makanan juga berkontribusi untuk membantu kita merasai lumpuh dini dan bisu sosial. Dulu sebelum era layanan pesan antar makanan hadir, kita masih sempat untuk meluangkan waktu pergi ke warung tetangga, entah itu jalan kaki ataupun berkendara. Sesampai di warung, kita masih bisa mengobrol dengan pemilik warung. Berbicara tentang banyak hal sebagai bentuk keharmonisan antar tetangga. Dengan obrolan tersebut, kepedulian sosial antar sesama dapat bertambah semakin mesra.

Lengkap sudah penderitaan yang ditanggung generasi bangsa ini mendatang. Selain takut lapar, mereka juga semakin malas untuk mengobrol dan menggerakan tubuh. Kecanggihan teknologi memang dapat mempermudah segala aktivitas dan keinginan kita. Namun, kita perlu sejenak untuk berfikir kritis, bahwa di sisi lain teknologi juga membawa ancaman yang menakutkan bagi kelangsungan peradaban, salah satunya adalah terciptanya generasi pemalas yang takut lapar.

 

Oleh: Khoirun Nisaa, aktif di santri pergerakan.

Artikel ini pernah dimuat di Solopos, rubrik Mimbar Mahasiswa, pada 18 Februari 2020.

Tags

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment