Artikel

Adab-Adab Membaca Al-Quran

Manuskrip al-Quran Sumber; republika.co.id

Al-Quran adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui perantara malaikat Jibril, dari surah al-Fatihah hingga surah al-Nas, yang bernilai ibadah bagi siapa yang membacanya di antara umat Nabi Muhammad Saw.

Membaca al-Quran merupakan ibadah lisan yang paling mulia di antara zikir kepada Allah. Sebagaimana dalam firmanNya;

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتۡلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ سِرّٗا وَعَلَانِيَةٗ يَرۡجُونَ تِجَٰرَةٗ لَّن تَبُورَ ٢٩

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rizki yang telah Kami anugerahkan keada mereka, baik dengan diam-diam maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (Fathir: 29)

Kemudian dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad Saw mengumpamakan seorang mukmin yang membaca al-Quran seperti buah jeruk; aromanya wangi dan rasanya manis. Sementara seorang mukmin yang tidak membaca al-Quran diumpamakan seperti minyak kasturi; yang wangi aromanya namun rasanya pahit. Sedang seorang munafik yang tidak membaca al-Quran diumpamakan seperti brotowali; aroma tak ada, rasa pun juga pahit. Demikianlah di antara keagungan al-Quran yang telah dijelaskan baik al-Quran dan hadis.

Maka sudah semestinya bagi seseorang untuk memperhatikan adab-adab dalam membaca al-Quran. Dalam kitab al-Tibyan fi Adab Hamalati al-Quran anggitan Imam Nawawi al-Damasyqi (631 H – 676, seorang ulama prolifik dari kampung Nawa, sebuah desa yang terletak di Hauran, Damaskus, telah dijelaskan di antara adab-adab membaca al-Quran;

  1. Bersiwak

Dianjurkan bagi seseorang yang hendak membaca al-Quran untuk membersihkan mulut serta giginya dari sisa-sisa makanan atau aroma yang tak sedap dengan menggunakan siwak. Diperbolehkan menggunakan benda lainnya, jika tidak menemukan siwak. Selanjutnya berdoa;

اللهم بارك لي فيه يا أرحم الراحمين

  1. Suci

Disunnahkan ketika membaca al-Quran dalam keadaan suci dan berada pada tempat yang suci(bersih). Jika seseorang membaca al-Quran dalam keadaan hadats kecil maka boleh menurut ijma’. Imam Haramain menambahkan; boleh, namun ia meninggalkan yang lebih utama. Tentu yang lebih utama di sini adalah dalam keadaan suci. Baik tempat maupun pakaian.

Di antara tempat yang diutamakan adalah masjid sebagaimana penuturan ulama. Karena selain kemuliaan tempat, membaca al-Quran di masjid juga memperoleh keutamaan lainnya, yaitu iktikaf. Maka disunnahkan berniat iktikaf ketika memasuki masjid.

  1. Menghadap Kiblat

Nabi Muhammad Saw. bersabda;

خير المجالس ما استقبل به القبلة

“Sebaik-baik majelis(tempat duduk) adalah yang menghadap kiblat.”

Dianjurkan pula ketika membaca al-Quran, duduk dengan tenang dan tidak banyak gerak, menundukkan kepala, seperti ketika sedang sowan atau menghadap guru.

Diperbolehkan juga membaca al-Quran dengan berdiri, tidur miring, di atas tempat tidurnya, selagi suci dan bersih, atau dalam keadaan apa pun. Tetapi hal tersebut bukanlah yang paling utama.

  1. Membaca Ta’awuz dan Basmalah

Allah Swt berfirman;

فَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَٱسۡتَعِذۡ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيۡطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٩٨

“Apabila kau hendak membaca al-Quran, maka meminta perlindunganlah kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (al-Nahl: 98)

Di antara redaksi taawuz yang masyhur adalah;

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم

Atau sebagian ulama mengucapkan

أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم

Pilihlah di antara keduanya, namun yang paling utama adalah redaksi pertama. Setelah membaca ta’awuz diteruskan dengan membaca basmalah. Anjuran basmalah ini mudah dilakukan karena hampir semua al-Quran yang kita jumpai tertulis lafal basmalah di setiap permulaan surah selain al-Taubah. Dan yang terakhir membaca al-Quran sembari menekuri, menghayati kandungannya. Karena hal itu akan menyebabkan hati menjadi terbuka dan terang oleh nur al-Quran.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ …٨٢

“Tidakkah mereka menghayati al-Quran.” (al-Nisa`: 82)

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turukan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan(merenungkan) ayat-ayatnya dan supaya mereka mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shad: 29)

About the author

Redaksi PP Al-Fattah

Redaksi PP Al-Fattah

Website dikelola oleh tim redaksi Pondok Pesantren Al-Fattah

Add Comment

Click here to post a comment