Home / Artikel / ULAMA SEBAGAI INSPIRASI AGAMA, BANGSA DAN PENA

ULAMA SEBAGAI INSPIRASI AGAMA, BANGSA DAN PENA

Hakikat manusia tidak ada bedanya, yang membedakan adalah usaha, cita-cita, kesungguhan dalam bidang apapun. Di dunia ini dianjurkan untuk bercita-cita setinggi langit, sampai pun bercita-cita menjadi seorang wali, hanya satu yang tidak diberbolehkan bercita-cita menjadi seorang Nabi dan Rasul, karena menjadi Nabi dan Rasul tidak bisa didapat dengan usaha melainkan itu adalah anugrah langsung dari Allah. Seandainya ada orang yang bertanya apa yang membedakan kita dengan Syekh Abd a-Qadir al-Jilani, jawababannya hanya satu yaitu “amal perbuatan” karena amal itu akan membedakan satu dari yang alain.
Dari proses itulah Allah juga akan merespon kebutuhan hamba-hamba-Nya, tidak ada manusia yang lahir kedunia dengan berilmu, manusia lahir kedunia dengan tidak berpengatahuan.
Cintailah masa muda, dengan meletakkan takdir pada usaha. Jangan mendahulukan takdir, karena takdir itu adalah pilihan. Jangan mendahulukan kegelapan selama ada cahaya. Jangan pernah menyerah selama kuasa. Jangan pernah tunduk pada kebodohan, itu adalah masa-masa Arab Jahiyah, dan itu yang membawa kehancuran. Jangan pernah bilang tidak mampu, tidak bisa, karena itu termasuk orang-orang yang memutuskan pada rahmat Ilahi. Jangan pernah menjauh dari ulama, karena ulama membawa misi kenabian. Jangan pernah menjauh dari pena, karena pena itu akan mengabadikan takdir tulisan-tulisan.
Dari sinilah, akan memetik pesan dan kesan dari orang-orang yang meletakkan takdirnya pada usaha, karena menduhulakan takdir tanpa berusaha itu bagian dari orang-orang yang bodoh. Ulama kita tidak ada diantara mereka yang tanpa jerih paya, maka hasilnya pun akan memuaskan sepanjang masa. Simaklah kutipan-kutipan dibawa ini:
Di Indonesia khususnya pada ke-20 an, telah lahir beberapa ulama yang berjasa pada agama, Nusa dan Bangsa diataranya, Hadratu al-Syekh K.H. Hasyim Asya’ri, KH. Shalih Darat, K.H. Yasin al-Fadani, K.H. At-Thimiyathi, K.H. Imam Nabawi, K.H Mahfud Termas dan lain-lain.
Kesungguhan dalam mencari jati diri, itu tidak akan pernah lepas dari segala cobaan, cobaan menurut ulama adalah anugrah, karena itu akan mengantarkan pada jenjang yang lebih tinggi, berharaplah kepada Allah swt, dengan Rahmat-Nya dan hidayah-Nya diberikan karunia anugrah untuk meniru perjuangan mereka, baik dari keilmuan, pengabdian, keandilan dalam berjuang, dan jasa-jasanya serta ketwadu’annya. Dunia ini akan selalu gelap tanpa Seorang Rasul, para ulama dan para intlektual yang telah mewariskan karyanya.[1] Ummat Islam akan selalu jaya, sejahtra, apabila mereka selalu mempelajari al-Qur’an dan al-Sunnah. Ummat Islam selama berpegang teguh dengan kitab Allah dan Rasul-Nya tidak akan pernah tersesesat selama-lamanya. Dunia akan selalu hidup apabila dipimpin oleh ulama, intlektual, dunia akan sirnah apabila tidak ada ulama. Bahkan lebih lanjut, kolektivitas dari orang-orang terdidik Muslim daalam berbagai perhimpunan akan menghidupkan dunia luas, tidak lebih kiranya ungkapan Yudi Latif, mengutip pendapat Gramsci,[2] Dari sinilah penulis akan mengungkapkan sejarah Ulama Nusantara dan pemikirannya, karena mereka memiliki ciri has tersendiri dan pengusaan disiplin keilmuan, kapasitas itu menunjukkan adanya keberagaman corak keilmuan mereka yang paling dominan.
Sebagian orang mengatakan bahwa para saudagar Arab yang berdagang ke Nusantara tidak murni untuk berdakwah, namun pada kenyataannya telah terjadi spiriual interaction atau interaksi kebatinan antara para saudagar Timur Tengah dengan penduduk asli pribumi. Oleh karenanya, memang tidak dapat dipungkiri telah ada sebagian da’i dari Timur yang memang datang ke pribumi berniat untuk berdakwah. Hal ini bisa dibuktikan dengan terjadinya perkawinan antara saudagar Arab dengan pribumi hingga menjadikan masyarakat pribumi memeluk Islam sekaligus berketurunan Islam. Masuk dan diterimanya Islam untuk menapakkan kakinya di bumi Nusantara ini dalam teori terakhir telah ada sejak abad ke-7M. Hal ini tentunya memberi ruang yang cukup beruntung bagi para da’i untuk menyebarluaskannya hingga seluruh pelosok Nusantara.
Dari abad ke-abad perkembangan Islam Nusantara selalu mengalami kemajuan khususnya dari Abad 13-20 an, sebagaimana yang telah disampaikan Gus Dur lewat tulisan-tulisannya.[3] Dengan demikian itu mereka membawa orietasi baru,[4] Dalam perkembangannya Islam di Nusantara pun membawa corak tersendiri dari para da’i-nya. Mereka datang ke Nusantara dengan berbagai corak yang menarik bagi penduduk pribumi Nusantara.[5] Ketika Sriwijaya meminta kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk mengirimkan ulama ke Sriwijaya, maka hal ini boleh jadi merupakan indikasi bahwa hadis pun mulai akan dikenal di Nusantara. Karena sebagaimana diketahui bahwasanya Khalifah Umar bin Abdul Aziz merupakan sosok umara sekaligus ulama yang sangat menitik beratkan pada tadwin al-hadis, hingga terjadinya pengumpulan dan pembukuan hadis besar-besaran pada saat itu. Artinya, ketika masa Umar bin Abdul Aziz banyak pula terdapat ulama-ulama hadis. Sehingga dimungkinkan ia mengirimkan ulama yang mempunyai ilmu di bidang hadis yang diakui kredibilitasnya. Walaupun dalam literatur sejarah belum dipastikan siapa yang dikirim sang khalifah untuk mengajarkan Islam di Sriwijaya (Nusantara).

 

OLEH: MOH.AZAM

________________________________________
[1] Allah mengajari pada hamba-hamba-Nya lewat pelantara pena, Allah mengari pada manusia sesuatu yang belum ia ketahui dari ilmu dan pengetahuan, dan memindahkan dari kebodohan menuju puncak cakrawala pengetahuan, seakan-akan Allah mempelajari dengan pelatara kepenulisan dengan pena. Allah memberikan peringatan tentang keutamaan ilmu kepenulisan, karena itu akan meliputi manusia, ilmu-ilmu tidak di kodifikasi, hukum-hukum tidak di catat, berita-berita orang-orang terdahulu tidak bisa di koreksi kecuali dengan kepenulisan. Seandainya bukan karena kitabah (menulis) urusan-urusan dunia dan akhirat tidak akan pernah lurus selamanya. (Muhammad Ali al-Shabbuni, Shafwat al-Tafâsîr, Jilid III, Beirut: Dârul Lil-Qur’an al-Karim, tt, h. 582).
[2] Tak ada organisasi tanpa intlektual, dengan kata lain, tanpa pengorganisir dan pemimpin, tanpa aspek teoritis dari kesatuan teori dan praktek yang dalam kongkretnya terwujud dalam strata orang-orang yang ‘berspesialisasi’ dalam elaborasi konseptual dan filosofis. ( Yudi Latif, Intelegensia Musli dan Kuasa Geneologi Muslim Indonesia Abad Ke-20, (Jakarta: Democraci Project, 2012, h. 38).
[3] Masa abad ke-13, Islam datang di Indonesia dalam yang dikembangkan di Persia dan kemudian di anak Benua India, yang berorentasi pada sangat kuat pada tasawuf, abad ke-16, menunjukkan dengan jelas bahwa manisfetasi fiqh sufistik telah merasuk kehidupan orang Islam. Setelah abad berikutnya terjadilah pengiriman anak-anak muda dari kawasan Nusantara untuk belajar di Timur-Tengah dan akhirnya mereka menghasilkan korps ulama yang tangguh yang mendalami ilmu-ilmu agama di Semenanjung Arabia, terutama di Mekkah. Lahirlah ulama-ulama besar seperti Kiai Nawawi Banten, Kiai Mahfudz Teramas, Kiai Abdul Ghani Bima, Kiai Arsyad Banjar, Kiai Abdus Shomad, Kiai Hasyim As’ari, Kiai Kholil Bangkalan. (Humanisme Gus Dur, Pergumulan Islam Dan Kemanusian ,Yoyakarta: ar-Ruzz Media, cet, I, 2013, h. 90-92).
[4] Mereka itu ini membawakan orietasi baru pada manifestasi keilmuan di lingkungan pesanteren, yaitu pendalaman ilmu-ilmu fiqh secara tuntas. Perdebatan mengenai hukum agama dilakukan dengan serius, tidak hanya melakukan kajian terhadap kitab fiqh yang besar-besar, melainkan juga dengan mengembangkan alat bantunya, seperti ilmu-ilmu bahasa Arab yang tuntas, ilmu tafsir, ilmu hadis, dan juga tidak lupa ilmu akhlak. Namun berbeda dengan ulama-ulama di daerah lain, terutama di Timur Tengah, para ulama yang menamakan diri sebagai ulama syari’at itu, tetap saja saja berpegang pada akhlak sufistik yang telah berkembang selama berabad-abad di Indonsia. (Ibid, h. 92).
[5] Kesuksesan para saudagar dalam menyebarkan agama Islam melalui perdagangan dapat dilihaht dengan munculnya bandar-bandar perdagangan, itu menjadi menjadi kerajaan beragma Islam. Inilah yang tumbuh dan berkembang Islam di Indonesia hingga saat ini. Banyak para pedagang Muslim, status ekonomi dan status sosial, dari mereka banyak yang kondisinya lebih baik baik, kalau di bandingkan dengan penduduk pribumi. Dengan demikian itu banya putri-putri bangsawan pribumi tertari pada mereka, sehingga dianatara mereka banyak yang melakukan akad nikah dengan di Islamkan terlebih dahulu. Perkembangan Islam dengan lewat pernikahan para saudagar Islam dengan para putri anak bangsawan pada akhirnya banyak melahirkan keturunan Muslim. (Agustina Soebachman, Sejarah Nusantara Berdasarkan Urutan Tahun, Yogyakarta: Syura Media Utama, cet-I, 2014, h. 86-89).

About admin

Check Also

IMPLEMENTASI SANTRI LITERASI MENELADANI RASULULLAH SAW DALAM PERINGATAN MAULID NABI

Peringatan Maulid Nabi selalu disambut dengan meriah oleh umat Islam di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *