Home / Suara Santri / Puisi / Takdirmu Di Mana?

Takdirmu Di Mana?

index

Jika takdirmu melanda keburukan maka rubahla
Jika hidupmu dalam kesempitan maka rubahlah
Jika hidupmu dalam kebodohan maka rubahlah
Jika hidupmu dalam kegelapan maka rubhalah
Jika hidupmu dalam ketertindasan maka rubahla
Jika hidupmu dalam kesedihan maka rubahlah
Jika hidupmu membuat orang tua menagis maka rubahlah
Jika hidupmu menjadi racun masyarakat maka rubahla
Jika hidupmu membuat guru menagis maka rubahla

Jejak masa mudamu akankah hadir kembali
Sisah waktu berlalu akankah berjumpa kembali
Apakah kehidupan ini hanya sebatas hidup
Akankah ada maslahat….?

Dunia yang pahit, fatamorgana, kehancuran, bayangan
Akankah rela dibawa naungan petir yang seram
Kakipun seribu langkah tergesah-gesah masuk masjid
Terlanda bencana petir dimata, telinga, kakipun bergetar
Apakah itu tidak cukup buat pelajaran dan peringatan
Daunpun kelaparan, kekeringan, tanah pun terasa gersang
Dipisah oleh waktu dan masa mudah.

About Moh.Azam As-syaf

lahir di kabupaten Sumenep, takdir adalah pilihan, setiap orang lahir kedunia sedikitpun tanpa berpengatahua, dunia ini gelap tanpa seorang intelektual dan ulama. jangan pernah berkata saya tidak bisa, karena potensi akan lahir melalui proses. mencintai keilmuan adalah suatu keharusan yang harus melekat pada jiwa seseorang, tanpa ilmu manusia akan menduduki kehinaan dunia akhirat, dan hormatilah orang-orang yang ahli ilmu, berarti ia memulyakan Allah dan Rasul-Nya.

Check Also

Suara NU untuk Negeri

Suara NU untuk Negeri Siapa kita... NU! NKRI.....Harga Mati! Pancasila...Jaya! Mau jadi apa, Indonesia tanpa Madrasah.. Mau jadi apa, anak bangsa tanpa Madrasah.. Indonesia tanpa Madrasah, akan hancur moral bangsa.. Permendikbud 23, ayo cabut sekarang juga.. Aju maju, kita lawan, tolak FDS sekarang juga Bukanlah aku bersorak karena aku gila, aku berteriak karena aku masih muda. Bagaimana orang tua mengeluarkan suara lantang, sedang aku hanya diam menikmati keadaan? Malu, malu jika ku hanya membisu dan terdiam.. Bukanlah aku mengangkat tangan karena sekedar ikut-ikut saja.. Kepalan tanganku keluar dengan semangat yang membara.. Karena aku tahu sudah waktunya para sesepuh melihat penerus yang teguh dan dipercaya.. Bukanlah aku ikut aksi karena sekedar gengsi.. Barisanku terdiri dari tua-muda, Banom-banom NU, pejabat-rakyat, kiai dan santri. Bukanlah aku ikut tanpa arah tujuan... Kami pertahankan Madin dari ancaman musnah peradaban Terkikisnya karakter di zaman yang serba edan Terjajahnya Indonesia dari pikiran dan pemahaman yang serba kebarat-baratan dan ketimur-timuran. Aku memang NU, tapi aku berjuang bukan atas namaku dan golonganku.. Aku mewakili kalian di jalan.. Aku hanya ingin mempertahankan pesan leluhurku : “Hubbun Wathon minal Iman.” Adakah kalian yang menertawakanku? Madin dan pesantren tempat lahirnya para pejuang kemerdekaan.. Mereka itu, mereka itu bagaimana? Pelajaran agama dianggap tidak relevan dengan zaman sehingga disepelekan.. Pendidikan yang dianggap serba kekurangan tetapi kurang diperhatikan.. Aku yang salah, atau mereka-mereka itu yang salah kaprah? Aku yang penuh ketidak tahuan, atau mereka-mereka yang mengatur kebijakan? Aku yang berbuat seenaknya, atau mereka-mereka itu yang ditentang 25.000 masa? Aku kerahkan tenagaku untuk negeriku Aku kobarkan semangatku untuk negeriku Aku lantangkan teriakanku untuk negeriku Adakah diantara kalian yang menertawakanku? Tidakkah keadaan negeri ini menjadi bukti yang terang? Tidakkah sejarah negara ini telah berbicara secara gamblang? Masihkan pemimpin-pemimpin itu bersikeras mempertahakan Kebijakan? Kami butuh Kiai dan santri Kami butuh madin dan pesantren Jika tak ada mereka, aku tidak tahu seperti apakah masa depan negeri ini.. Ditulis oleh : Arif ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *