Home / cerpen / Stone

Stone

Namaku Chilya, nama pemberian ayah 17 tahun yang lalu. Kali ini mendung telah mengintai di raut wajahku, aku masih tidak bisa melupakan peristiwa yang menimpa ayahku , sehingga ia telah menutup mata dan mengakhiri hidupnya.

Aku adalah seorang anak indigo, mempunyai kelebihan tersendiri dari pada orang lain. Pengetahuanku tentang makhluk halus sudah mendarah daging pada kehidupanku, karna hal ini merupakan warisan dari kakeku. Sejak ayah meninggal kemampuanku meningkat, bukan makhluk halus saja yang aku ketahui namun aku juga mulai bisa mendengarkan percakapan antara binatang satu dengan yang lainnya. Hal ini membuat aku hidup harus berteman dengan earphone untuk mengindari keramaian para binatang.

###

Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah, butuh satu minggu aku harus move on dari ayah. Langkah kakiku terus berjalan menelusuri lorong yang lama-kelamaan ramai oleh penghuninya hingga kakiku berhenti tepat di depan lokerku. Aku membukanya dengan kode 999 dan terlihat jelas apa isi di dalamnya. Aku mengerutkan kening ketika aku melihat sebuah benda mungil tergeletak di atas berkas-berkasku. Aku mengamati batu tersebut, berbentuk oval berwarna putih dengan satu bulatan penuh berwarna hitam di tengahnya. Apakah batu ini untukku????? Milik siapa ini????? Tanyaku dalam hati. Tak lama bel berbunyi, aku segera memasukkan batu tersebut dalam kantong dan mengambil berkas-berkas penting untuk materi Pak Abas.

Ketika sampai di kelas, suasana masih tetap sama. Ramai seperti biasa. Naya yang berada tak jauh dariku menyambutku dengan hangat, dia adalah sahabatku, dan aku menyapanya dengan senyuman manisku. Tak lama aku duduk di bangku, tiba-tiba saja aku mendengar suara hentakan kaki yang sangat keras sehingga terdengar kacau di telingaku.

Pak Abas sudah berada di ambang pintu, dengan gayanya yang masih tetap ganteng juga bingkai mata yang menambah fariasi pada wajahnya. Namun yang membuat aku tak percaya adalah, kehadiran perempuan bermata sayu yang kini lebih tepatnya berada di atas kepala Pak Abas. Sungguh sangat tidak sopan. Dan aku masih terus memejamkan mataku dan membukanya lagi, memastikan bahwa ini adalah nyata. Nggak percaya saja, sudah lama aku tidak melihat makhluk halus, dan kali ini! Aku melihatnya lagi. Sumpah ! hal ini sangat menggangguku. Aku terpaksa harus membohongi diri jika aku tak melihat gadis itu untuk bisa fokus memahami penjelasan pak Abas.

“ Mona!kamu nggak mau turun dari kepala guru itu” tegur sang cicak yang berada di atap. “ Biar saja! Bentar lagi aku mau buat sekolah ini hancur” tukas Mona dengan memainkan rambut Pak Abas. Dan justru perkataan Mona barusan yang membuat aku terkejut dan menahan nafas. “ Mau ngancurin bagaimana” tanya cicak lagi yang kini jaraknya yang mendekat pada Mona.” Udah liat aja nanti! Dan sebelum guru ini mati aku mau muas-muasin dulu bermain dengan dia”.

Nafasku benar-benar sesak. Pertemuanku kali ini  dengan makhluk halus adalah hal yang sangat mengerikan. Tak lama Mona turun dari atas kepala Pak Abas dan pergi entah kemana. Dan hal ini yang mebuatku tambah penasaran, kemana  Mona akan pergi. Aku ijin ke belakang mengikuti langkah Mona dari jauh hingga titik terakhir berada pada gudang. Oh….! Ternyata ini tempat Mona tinggal. Aku mengintip dari jendela, menyaksikan Mona yang menguap lebar dan mulai tertidur di atas almari berdebu. Di saat aku akan kembali ke kelas aku tak sengaja melihat pintu yang penuh dengan coretan kapur. Aku mendekatinya dan membacanya. Tulisan yang tak beraturan ini membuat aku harus memilih dari mana aku akan memulai membacanya, aku melihat coretan paling kiri pada tahun 2013 peristiwa meninggalnya bu Endang, juga malapetaka –malapetaka yang lain yang terjadi di sekolah ini. Dan aku baru sadar! Semua ini adalah rencana Mona. Apa maksudnya. Aku semakin tidak paham dua buah pintu gudang yang tertutup rapat, padat dengan coretan kapur acak dari Mona. Sesuatu yang lebih mengejutkanku adalah coetan paling kanan yang menyatakan akan terjadinya sebuah peristiwa pada tanggal 08 Juli 2016 tepatnta pada hari ii. Harus bagaimana aku.

Aku segera kembali ke kelas, namun tiba-tiba aku di hadang oleh seorang laki-laki yang sangat asing utukku. Dia menyedekapkan kedua tangannya di depan dada dan menatap tajam tepat dia maniak mataku. Aku mengerutkan kening, memasang wajah garang yang sebetulnya tidak mau kalah dengan tingkah laki-laki ini.

“Siapa kamu” tanyaku dengan menyedekapkan tangan di depan dada, lebih tepatnya mengikuti gaya laki-laki ini

.

“ Aku Bima, seseorang yang akan menolongmu” terangnya, sedangkan aku langsung menoleh menatapnya. “ Maksudnya????? Kali ini aku lagi tidak butuh pertologan” terangku.

“ Tentang Mona” tukasnya, aku tambah tak mengerti. Ada apa lagi ini. Dan aku semakin geram dengan tingkah lakunya yang berjalan mondar-mandir di hadapanku.

“ Apa yang kamu ketahui tentang dia” “ Kamu! Nggak usah banyak tanya, yang terpenting hari ini peristiwa yang terjadi di sekolah adalah tanggung jawab kamu” aku mebulatkan mata.” Apa alasan kamu! Aku sama sekali tidak tahu siapa itu Mona”.

Bima terdiam sebentar lalu duduk di pinggiran lorong dengan mata yang menerawang jauh di depan sana. “ Dia adalah gadis yang meninggal tiga tahun yang lalu dia bersama kekasihnya telah di bunuh oleh seorang guru yang mengajar di sini, dan pada saat itulah muncul peristiwa- peristiwa pembunuhan” terang Bima litih. Aku jadi ikut-ikutan duduk di sebelahnya, dan berharap ia akan bercerita banyak tentang Mona.

“ Apakah Bu Endang yang membunuhnya????” pertanyaanku ini membuat Bima menatapku dengan pandangan memastikan.” Iya, Bu Endang yang membunuh” “ Lalu apa maksudmu, tentang pertolonganmu itu” 

Bima menghela nafas dan beranjak berdiri. “ Hanya kamu Chilya gadis titipan yang bias menghentika perbuatan Mona”. “ Dengan apa menghentikannya” suaraku semakin tidak yakin dengan kenyataan yang ada. Ada apa ini aku tidak mengerti! Kenapa masalah menyeretku dalam masalah hantu?????

“ Kamu yang punya batu itu, nanti pulang sekolah Mona akan melaksanaka aksinya, kamu pahamkan apa yang aku maksud tadi” ucap Bima terakhir dengan pergi dan menghilang di belokan perpustakaan. Aku masih membayangkan bagaimana cara aku menghentikannya????? Dengan batu ini……., kiriman dari siapa ini?????? Lalu! Bima! Siapa dia? Kenapa aku tidak menanyakan identitasnya, sesalku yang berkelanjuta membuatku aku ingat pada jam pertamaku yang masih bersama Pak Abas.

Aku masuk kelas dengan penuh hati-hati, takutnya pak Abas mengetahui ijinku yang terlalu lama, dan ia akan menghukumku. Namun mataku membulat dan mulutku yang langsung membentuk O atas ketidak percayaanku tentang pelajaran pak Abas kali ini. Mana mungkin! Aku yang ijin dari tadi seperti tidak terhitung menit dalan jamku, papan tulis yang masih sama tergores coretan Pak Abas persis terakhir kali aku meninggalkan kelas ini. Aku megela nafas dan sengaja menyubit lenganku menyadari bahwa ini adalah nyata.

Waktu terus berputar hingga pergantian jam dan istirahat tiba, aku merasaka kelegaaan dan sedikit ingin merasakan terpaaan agin di luar sana. Namun aku mendengar suara tawanan dari arah belakang. Ternyata kumpulan para cewek-cewek centil yang ada di kelasku yaitu Qistya, Sabela, Very, Fika, Ayu, Latif  juga Oni. Mereka membentuk lingkaran dan tertawa bersama menyaksikan apa yang telah mereka mainkan di tengahnya. Namun di saat itu mataku langsung membulat melihat Mona yang sudah berada di sebelah Oni.

Aku tersentak kaget disaat Naya menyenggol tanganku. Astaga! Aku sedang berhalusinasi rupanya.” Ada apa” tanyaku malas. Naya menunjuk ke arah belakang. Aku mengikuti arah telunjuknya.” Ikut main mereka yuk”

Aku mengeritkan kening. Ragu apa yang sedang mereka lakukan. Aku beranjak berdiri menghampiri kumpulan cewek-cewek centil yang lagi asyik bermain di belakang. Ya Tuhan! Mereka bermain sama persis apa yang telah aku halusinasikan barusan. 

“ Carly, Carly, Carly can we play” ritual mereka dengan serius. Aku semakin terkejut di saat permainan yang membutuhkan dua buah pensil yang mereka tumpuk menjadi silang di atas kertas folio yang berkolom empat dengan tulisan yes, no, no yes. Dengan cepat pensil itu berputar. Apa yang mereka harapkan. Pensil itu jatuh pada tulisan yes, artinya berarti ritual mereka mengundang setan telah sukses, tawanan ada pada mereka. Dengan saling menakut-nakuti satu sama lain. Nafasku tak teratur berharap apa yang aku fikirkan benar-benar tidak terjadi . namun terlambat harapanku. Di sebelah Oni sudah berdiri Mona yang matanya membulat menyaksikan apa yang telah mereka lakukan. Aku yakin mereka nggak bakal aman. Aku segera menarik tangan Naya untuk keluar. Aku semakin yakin ketika tangan Mona sudah di letakkan di leher Oni yang sedang tertawa. Aku tahu Naya penuh pertanyaan menatapku, namun bagaimana dengan Oni. Lalu aku kembali masuk membubarkan keberhasilan mereka. Aku bingung harus menjelaskan bagaimana, sedangkan Mona masih tetap pada tujuannya menatap lekat tepat di tengah urat leher Oni.

“ Please! Nyawa kalian, nggak akan selamat” ucapku memohon, dan sesekali melirik Oni.” Apa maksud kamu! Beraninya kamu menentukan nasib kami” cela Sabela dengan beracak pinggang di depanku. “ Aku berani sumpah! Kali ini nyawa Oni akan terancam. Dan jika kalian mau mengikuti saranku untuk keluar dari kelas ini, kalian akan aman” ucapku terakhir dan meyakinkan teman-teman yang lain untuk segera keluar.

Naya menungguku di luar, ia menyanyakan “Ada apa sebenarnya” dengan raut wajah yang sanggat ngepoin aku. Aku hanya menjawab. “ Kamu nggak usah banyak tanya” . dan disaat itu hanya tinggal sebagian saja yang berada di kelas, tepatnya cewek-cewek tadi yang masih meragukan prediksiku, tiba-tiba pintu tertutup. Semua tatapan tertuju pada pintu yang kini sudah tertutup. Dan suara teriakan dari dalam setelah mengetahui Oni yang menjerit-jerit kesakitan karena Mona nyaris mematahkan lehernya.

Aku melihat batu besar, aku segera menghantamkannya pada jendela kelas yang lumayan besar. Aku menyuruh mereka segera keluar melewati jendela kelas. Mereka baru percaya dan disaat Sabela yang terakhir kali merangkak keluar, Mona langsung menarik kerah bajunya kebelakang. Sabela terpental kebelakang. Kita semua menyaksikan penyiksaan Mona kali ini, dan tak lama keributan kelas kami terdengar oleh semua penghuni kelas. Pak Bon dan pak Misnan sibuk dengan alat mereka untuk bisa membuka pintu kelas dan menyelamatkan Sabela dan Oni yang kini benar-benar tak berdaya di dalam.

Aku segera mengeluarkan batuku. Meremasnya dan berharap aksi Mona kali ini bakalan berakhir. Hasilnya benar. Sabela yang sedang di seretnya segera ia pelantingkan ke tembok dan pintu terbuka. Semua terkejut tak lain juga aku yang melihat sendiri pelakunya sedang Keluar. Mona seperti mencari sesuatu. Astaga! Jangan-jangan Mona mencari aku. Aku langsung memasukkan batuku dalam kantong dan mengikuti yang lain untuk menolong Sabela dan Oni. Mereka segera di bawa ke UKS untu di obati. Aku menghela nafas lega di saat Mona pergi menghilang dari kelas kami. Dari arah timur Qistya cs menghampiriku. Mereka menanyakan bagaimana aku mempunya prediksi yang sangat tepat, sedangkan aku hanya melirik Naya dan tersenyum tak mau menjawab.

KBM masih tetap berlanjut, meski keadaan masih menakutkan di kelas kami. Hingga jam berputar sampai dengan pukul 11. Sekolah memang mengadakan rapat hari ini. Hingga kita di pulangkan lebih awal, mungkin pembahasan Oni dan Sabela juga diikutkan.

Semua siswa keluar kelas dan memadati tempat parkir dan halaman. Aku melihat lapangan basket, dan tak sengaja aku temukan Mona yang sedang asyik duduk di atas bola ketika bola sedang di mainkan. Aku hanya menggelengkan kepala. Ketika aku sudah berjalan hingga sampai pada gerbang sekolah. Tiba-tiba suara teriakan berasal dari lapangan basket. Aku berlari bersama dengan siswa lainnya, menyaksikan apa yang sedang terjadi. Ternyata Rista, tubuhnya tergolek lemas tak sadarkan diri dan wajahnya yang penuh dengan lumuran darah. Semua yang melihat menjerit ketakutan. Dan tidak tahu siapa pelakunya. Para dewan guru ikut menyaksikan keadaan Rista dan segera mengangkat tubuh Rista ke UKS.

Ditengah kesibukan mereka mengangkat tubuh Rista, tiba-tiba kami mendengar suara drible_an bola di tengah lapangan. Bola itu memantul sendiri, kali semua mundur karna takut. Hanya aku saja yang tidak  mundur pada barisan kami. Aku masih fokus menatap Mona. Dia asyik dengan bolanya. Tak tunggu lama dan entah baimana nasibku selanjutnya, aku langsung beranjak menghampiri Mona. “ Chilya! Jangan! Mau apa kamu” aku dengar larangan dari pak Prapto disaat ia melihatku melangkah menuju tengah lapangan. Namun aku masih tetap tidak menggubrisnya.

Awalnya Mona tak menghiraukan kedatanganku, namun ia baru sadar disaat aku berjalan yang jaraknya tak jauh lagi. Jujur! Jantungku berhenti sejenak disaat itu. Juga langkah kakiku, ketika Mona membalas tatapanku. Dua bola matanya sayu, ada raut keraguan dari wajahnya. Aku menarik nafas dan menyapanya “ Hai Mona!” sapaku dengan wajah segirang mungkin dengan tangan yang aku lambaikan ke atas. Mona masih tak menjawab sapaanku. Mona mengerutkan kening. Aku tahu dia masih tak mempercayai diriku. “ Siapa kamu” tanyanya dengan tatapan yang menembus jantungku. Awalnya aku agak ragu, karena aku benar-benar berdialog dengan makhluk halus. “ Kamu nggak perlu siapa aku! Yang aku pinta dari kamu, kamu mau menghentikan permainanmu ini” jelasku kemudian. Mona membulatkan matanya, kemarahanya sudah berada di ubun-ubun kepala, dua bola matanya seperti mau keluar dan akan menerkamku. Sumpah aku sangat ketakutan melihatnya, sedangkan aku, aku terasa sangat kecil kali ini. “Apa maksud kamu” sentaknya dengan suara serak, seperti mau menelanku. Aku menutup telinga mendengarnya. Dasar hantu nggak punya sopan santun. “ Aku sudah bilang kamu nggak usah banyak tanya! Yang aku harapkan dari kamu, kamu tidak mengganggu sekolah kami lagi, udah gitu aja” sewotku gantian.

Aku menyedekapkan kedua tangan di depan dada. Padahal tingkahku kali ini sama sekali kontras dengan perasaanku yang sangat-sangat takut dengan tatapan Mona. “ Jika aku mendatangkan musibah lain! Apa yang akan kamu lakukan” tanyanya gantian menyedekapkan tangannya di depan dada. Aku mengerutkan kening. “Coba saja” tukasku sombong. Tak lama angin topan datang dari arah barat menyeret orang-orang yang berada di dekatnya, tak lain pak Abas yang akan melangkah menuju kantor. Namun kali ini tubuhnya sudah berada di pusaran angin topan. Mona tersenyum melihat ke kacauan di sekolah. Semua yang menyaksikan menjerit-jerit aku langsung mengeluarkan batuku dan meremasnya. Mengucapkan dalam hati bahwa aku bisa menghentikan perbuatan Mona. Angin topan berhenti seketika. Pohon-pohon yang awalnya terombak-ambik diam sekatika juga orang-orang yang terseret pusaran angin langsung jatuh ke bawah. Dan Mona langsung menatapku, sedangkan aku hanya mengangkat bahu. Dan tak lama kemudian air hujan turun sangat deras. Semua yang sibuk menyelamatkan korban angin topan terburu-buru menuju lorong kelas dan tinggalah aku yang masih berdiri berhadapan dengan Mona yang kini jaraknya agak menjauh denganku. Aku meremas batu lagi dan hujan berhenti seketika. Dan lagi-lagi Mona menatapku, dari kejauhan dia mengepalkan tangan, jantungku tak beraturan melihat kemarahannya.

Sungguh! Kali ini aku benar-benar takut. Aku langsung mengeluarkan ponsel yang untung saja tidak kemasukan air hujan, aku mengirim pesan suara pada grup Bbm, Whatshap, Line, juga aplikasi yang lain. Disana aku berpesan bahwa hari ini adalah hari terakhir hidupku, aku sudah bertemu dengan hantu yang membuat kekacauan di sekolah namanya Mona. Kali ini dia menatapku tajam nyawaku ada pada genggamannya, tolong sampaikan salamku pada nenek bilangin maaf aku nggak bisa makan masakan nenek yang terakhir kali, tapi sungguh aku benar-benar mencintai nenek, juga sahabat-sahabatku yang selalu ada dalam lembaran hidupku, guru-guruku yang terkadang aku membohongi mereka, pak Bon, mpok Lela yang hutangya belum sempat aku bayar ikhlasin aja ya mpok, dan satu lagi Noki laki-laki yang berhasil membuat hatiku terpana meski cintaku nggak pernah dia balas. Jangan kawatir semuanya, jika aku mati nanti, aku akan menceritakan hal ini pada ayahku supaya ayah bisa menyampaikan langsung pada Tuhan dan mengusir Mona dari sini. Sudah ya Mona sudah ada di hadapanku dada.

Aku sempat terharu dengan hal barusan aku lakukan. Aku menyeka air mata di hadapan Mona. Dan tiba-tiba saja aku mendengar teriakan kata semangat dari teman-temanku yang kini menyaksikanku di lorong kelas. Aku sempat melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebelum Mona berdehem dengan tingkah lakuku. Aku tersentak sadar, Mona akan memulai pembicaraannya namun aku mencegahnya terlebih dahulu. Aku memasukkan ponsel dan merapikan baju, meski kali ini sudah basah kuyup tapi setidaknya aku mati dengan keadaan rapi, juga mengatur nafasku supaya aku benar-benar ikhlas mati di hari ini.

“Siapa kamu sebenarnya” tanyanya

“Untuk apa kamu tahu tentang namaku, yang aku mau sekarang kamu berhenti membuat onar di sekolahanku”

“Apa yang kamu ketahui! Kamu tidak tahu apa-apa, dan apa penyebab aku jadi seperti ini”

“Kata siapa! Aku tahu, kamu mati bersama kekasihmukan. Yang membunuh kalian bu Endangkan tiga tahun yang lalu. Jadi perlu apa lagi! Aku tahu semuanya, jadi tak ada alasan lagikan untuk tidak mengganggu kami” tukasku tak kalah dengan nada tinggi. Mona seperti terkejut mendengar penjelasanku. “ Siapa kamu” tanyanya dengan tubuh yang benar-benar di dekatkan pada tubuhku, seakan akan aku benar-benar membuka mata hanya untuk melihatnya. Aku menghela nafas. “ Chilyana Monica” jawabku singkat. Namun jawabanku ini membuat Mona melangkahkan kaki ke belakang, aku sedikit heran melihat raut mukanya yang tiba-tiba bingung seperti itu. “ Kenapa kamu” tanyaku.

“ Kamu! Chilyana Monica” ucapnya, aku mengangguk. Masih heran ada apa dengan Mona. “ Kamu yang mempunyai batu itu?” tanyanya lagi aku terkejut, bagaimana dia tahu jika aku memiliki batu ini. Aku mengaguk dan menunggu respon dari Mona.

“ Apa kamu tahu siapa aku?”

Aku mengangkat bahu “ Mona!” jawabku datar. “ Hanya itu yang kamu ketahui?” aku mengangguk lagi. “ Aku Mona Monarissa, saudara sepupumu” ucapnya kemudian. Dan aku tambah nggak paham lagi. “ Apa maksud kamu”. “Batu itu! Adalah mata dari pamanku, berarti batu itu adalah mata dari ayahmu” Terangnya yang sangat membuatku terkejut. Oh tuhan! Bagaimana bisa batu ini adalah mata dari ayah. Durhakanya aku Tuhan meremas remas mata ayah. Ayah aku benar-benar tidak tahu. Mona mendekat, dan aku masih punya rasa takut pada dirinya, bisa sajakan dia tiba-tiba menghabisiku kali ini.

Tanpa di undang, tiba-tiba saja Bima datang di antara kita, aku sempat terkejut bagaimana Bima bisa datang begitu saja. Dia tersenyum ke arah Mona, Mona membalasnya. Jangan- jangan Bima hantu juga. Bagaimana mereka bisa bercinta di depan manusia, emangnya ini pemandangan yang enak di lihat apa. Mereka sadar di sini ada aku, dan aku hanya meminta penjelasan dari mereka, ternyata benar, batu ini adalah salah satu mata dari ayah, ayah meninggal di hotel karena di bunuh dan tubuhnya di gantung di balkon kamar 125. Dan disaat itu salah satu mata ayah menggelinding ke jalan dan disaat itu ada Bima sebagai hantu sekolahan yang sedang kelayapan menemukan mata ayah. Dan disaat itu ayah berpesan bahwa matanya yang berubah menjadi batu untuk dikirimkan padaku (anaknya) agar ayah bisa mengawasiku di setiap saat dan membantuku. Dulu ayah juga pernah berpesan bahwa Mona juga akan tetap pada pengawasannya hingga akhirnya kita sama-sama mengerti bahwa peran ayah bagiku sangat penting hingga ia sudah tiada juga Mona yaang memang sejak dulu sudah menganggap ayahku sebagai paman tak lain sebagai ayah maski semua itu tanpa sepengetahuanku. Aku sangat lega hingga pada akhirnya aku bisa menyelesaikan masalah semua ini. ###

Aku berjalan menyusuri lorong dengan hati yang benar-benar bahagia setelah kejadian di hari ini benar-benar terselesaikan. “ duk……” aw… begonya aku jalan nggak liat-liat hingga aku bisa fatal menabrak tiang yang jelas-jelas berada di depanku.

“Chilya” aku menoleh pada asal suara, Oh God. Keajaiban apa lagi ini sampai-sampai aku belum memikirkannya bahwa hari ini Noki memanggilku. Aku tersenyum ketika Noki berjalan mendekat ke arahku. ###

“Brakkkkk…………..” suara denturan ini sangat menyakitkan telingaku. Ada apa ini. Aku melihat wajah pak Abas yang mengganda juga wajahnya yang garang menatapku tajam. Astaga! Bahkan juga ada Mona di atas kepala pak Abas. Mona melambaikan tangannya padaku, aku benar-benar baru sadar bahwa ini hanyalah sebuah mimpi. “Ah……………..” sesalku. Namun mataku langsung membulat ketika aku melihat batu berbentuk oval dengan warna putih penuh dan di tengahnya ada bulatan berwarna hitam di mejaku.

Oleh: Pujilestari

About admin

Check Also

Aku manusia? 

Aku Manusia? (Gubahan: Me Midad Ei Ak) “Mengertilah, kau bukanlah Malaikat yang selalu bersujud kepada-Nya, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *