Home / Suara Santri / Santri sebagai Kunci

Santri sebagai Kunci

Santri merupakan identitas manusia yang sangat berkerabat dengan ilmu, akhlak, dan mencari ilmu pendidikan di pesantren yang diasuh oleh figure seorang kyai. Predikat santri mempunyai makna yang sangat luas yang harus kita mengerti dan kita jalani.
Kata santri berasal dri bahasa Sansekerta. San berarti suci, Tri berarti tiga. Jadi santri harus memiliki tiga kesucian, yaitu suci dari kemaksiatan, suci dari kedzoliman, dan suci dari kebodohan. (K.H. Sholih Bahruddin : 2006). Penyebutan santri tidaklah asal-asalan. Seorang santri harus memiliki akal yang kuat, pendidikan yang maju, ilmu yang luas, serta kemauan untuk merubah peradaban dunia ini terutama perubahan pada dirinya sendiri dalam menghadapi maslah hidup, santri harus menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Santri butuh perjuangan dan identik dengan istilah “tirakat”. Dari nama Santri yang berasal dari bahasa arab, masing-masing huruf hijaiyah memiliki arti tersendiri.
Sin ( Satrul Jahli) yang artinya menutup kebodohan. Seorang santri harus semangat mencari ilmu. Santri itu tidak bodoh, tujuan mencari ilmu adalah menghilangkan kebodohan.
Nun (Naibul ‘ilma) yang maknanya adlah pengganti para ulama. Santri adalah generasi muda penerus para ulama terdahulu. Generasi muda yang mampu mencetuskan dan mengatasi masalah agama.
Ta ( Tarkul Ma’ashi) yaitu meninggalkan maksiat. Seorang santri harus meninggalakan maksiat. Seorang santri harus ikhlas dan ridho dalam mencari ilmu, santri harus bersih dari dosa-dosa yang menyebabkan kemadharatan hatinya.
Ro ( Roisul Umat) yakni pemimpin umat. Santri harus bisa jadi yang terdepan. Bisa memimpin masyarakat sekitar.
Ya (Yaqruqu Baina Khaq Wal bathil) yang maknanya membedakan antara yang hak dan bathil.
Itulah predikat santri dari segi nama yang memiliki arti sangat dalam, sehingga memiliki fungsinya sebagai pembentuk karakter untuk menyongsong masa depan. Santri adalah kunci,kunci perubahan masa depan, kunci gerbang ilmu pengetahuan, yang seharusnya mampu mengemban amanah serta memajukan bangsa, agama, dan Negara. Santri harus mampu ikut andil dalam merubah peradaban dunia, dan ikut mempengaruhi sejarah. Dari gambaran itulah santri harus memiliki mentalitas, religiusitas dan totalitas kesadaran untuk mengembalikan pemahaman konsep ajaran islam yang sebenarnya.
Karya : Afroini

About admin

Check Also

Toleransi ala Gus Dur

Dr. K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur adalah tokoh Muslim Indonesia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *