Home / Suara Santri / Kisah / Santri Biyayaan Jadi Teladan

Santri Biyayaan Jadi Teladan

Disebuah pondok pesantren Salafiyah, ada seorang santri bernama Hasan Bashri yang terkenal paling nakal dan bandel disana. Dia selalu membuat masalah setiap harinya seperti mengganggu teman sholat, sandal teman di sembunyikan, makanan jatah temannya di ambil dan lain-lain. Setiap harinya ada saja ulah yang dia perbuat hingga membuat semua warga pesantren mengenalnya walaupun dia merupakan santri yang baru nyantri selama tiga minggu. Hasan sering mendapat ta’zir setiap harinya namun dia tidak takut ataupun jera tetapi malah sebaliknya, kelakuannya semakin menjadi-jadi. Karena umurnya lebih dewasa daripada teman-temannya, jadi santri lawas atau ustadz segan untuk memperingatinya.
Pada suatu malam yang dimana semua santri sudah tidur, Hasan membuat keonaran di kamarnya. Dia berteriak bernyanyi sambil memukul ember yang buat mencuci pakaian. Semua santri marah kepadanya tetapi Hasan tidak peduli sama siapapun. Suara Hasan yang keras terdengar sampai ndalem pak Kyai.
“Le siapa itu yang teriak-teriak??” Tanya pak Kyai pada salah satu santri yang lewat depan ndalem.
“Ngapunten bah, itu si Hasan” jawab si santri.
“Ya mbok di peringatkan jangan teriak-teriak. Ini dah malam ganggu orang tidur” saran pak Kyai.
“Ngapunten bah, sudah di peringatkan tapi dianya bandel” jawab si santri lagi.
“Ya udah suruh Hasan ke rumah aja kalo begitu”
“Inggih bah” jawab santri itu dengan hormat.
Kemudian si santri itu memanggil Hasan untuk ke ndalem. Karena pak Kyai yang memanggil, akhirnya tanpa berpikir panjang dia langsung ke ndalem . Kalau yang memanggil teman atau ustadz, dia masih tidak menggubris. Berhubung pak Kyai yang memanggil jadi dia manut saja.
“Assalamu’alaikum,,,,permisi” kata Hasan sambil mengetok pintu rumah pak Kyai.
“Wa’alaikum salam,,, Hasan ya??” Tanya pak Kyai.
“Inggih bah” jawab Hasan di depan pintu.
“Ya udah masuk-masuk sini”pak Kyai membuka pintu sambil mengajak Hasan masuk.
Hasan masuk kedalam rumah dan berjalan di belakang pak Kyai. Kemudian pak Kyai menuju ruang tamu sambil menonton TV. Diruang tamu ada dua anak pak Kyai sementara istri beliau sudah tidur. Pak Kyai tidur mengkurap dan menyuruh Hasan memijatinya.
“San, tadi yang nyanyi-nyanyi sampeyan tho???” Tanya pak Kyai.
“Inggih bah” jawab Hasan dengan pipi memerah menundukan kepala.
“Sebenarnya suaramu itu bagus san tapi berhubung ini dah malam kasian teman-temanmu yang sudah tidur.” Kata pak Kyai tersenyum.
“Ngapuntene bah” jawab Hasan.
“Ya nih kang Hasan aneh-aneh aja. Dah malam kog malah konser rock dikamar. Gedor-gedor ember kaya tukang jual ember aja.” Celetuk neng Ninis anak pertama pak Kyai sambil tertawa pelan menuju kamar tidur bersama adeknya.
“Hust,,,gak boleh ngomong gitu nis. Siapa tau kalo dah boyong dia jadi Kyainya para penggemar music rock. Kan bagus tuh” tungkas pak Kyai sambil tersenyum.
Hasan hanya bisa tersenyum malu sambil menyesali perbuatannya. Karena dia tau tidak ada santri baru yang nakal seperti dia.
Karena hampir tiap hari dia membikin keonaran, dia juga hampir tiap hari dia di panggil ke ndalem di suruh pak Kyai melakukan apa saja. Mulai memijitinya, membersihkan kamar mandi, ngepel, dan lain sebagainya. Anehnya dia melakukan hal itu dengan ikhlas dan senang tanpa ada beban sama sekali. Tetapi dari semua pekerjaan yang di kasih pak Kyai, dia lebih suka memijiti pak Kyai karena disaat memijiti, dia selalu mendapat cerita dari pak Kyai tentang kisah-kisah ulama dahulu ketika menuntut ilmu, dan cerita lainnya. Membuat dia senang karena dia lebih suka mendengar cerita dari pada harus ngaji.
Setelah Hasan di pesantren selama tiga bulan, dia disuruh orang tuanya boyong saja karena hendak di jodohkan dengan anak desa tetangga. Padahal dia masih ingin nyantri lebih lama lagi, tetapi karena permintaan orang tuanya dan pak Kyai juga mengijinkan maka dengan terpaksa Hasan boyong. Seluruh teman-temannya gembira sekali karena si pembuat masalah sudah boyong. Hari berganti hari, teman-temannya akhirnya mengakui merasa rindu sama si Hasan karena tingkahnya yang nakal.
Beberapa minggu kemudian, Hasan sudah mempunyai istri yang cantik. Namun sampai saat ini dia belum mempunyai pekerjaan untuk menopang keluarga barunya. Akhirnya dia dengan berat hati tinggal bersama mertuanya. Mertuanya rajin sekali berjamaah di masjid karena beliau itu menjadi imam tetap di masjid walaupun dia sudah tua. Karena sungkan pada sang mertua, dia juga ikutan rajin jamaah di masjid. Suatu hari mertuanya itu sakit dan tidak bisa berjamaah di masjid. Hasan disuruh menjadi imam pada saat itu karena warga sekitar tahu kalau Hasan jebolan pesantren terkenal.
“Mas Hasan, ayo jadi imam!!!” suruh salah satu warga.
“Maaf pak, yang lain aja yang lebih tua” jawab Hasan dengan gerogi
“Wah wah mas Hasan aja lah yang lebih fasih bacaannya” tungkas warga lain sambil tersenyum.
“Enggeh mpun”jawab Hasan dengan terpaksa dia menyanggupi. Dia tidak ingin membuat malu mertuanya.
“Masak jebolan pesantren tidak bisa jadi imam sholat. Apa kata mereka nanti. Tapi surat apa ya yang tak baca,,,hhmmmm” gumam Hasan dalam hati sambil bingung memikirkan suratnya. Dahulu sewaktu ada jadwal ngaji, dia lebih banyak bolosnya apalagi harus hafalan surat-surat pendek.
“Halah yang penting berani dulu aja, hafal gak hafal pikir nanti” pikir Hasan yang dari tadi masih ngelamun.
Akhirnya Hasan menjadi imam sholat, rokaat pertama berjalan lancer. Memasuki rokaat kedua, tanpa sadar dia membaca surat Al-Kafirun bolak balik sedangkan makmum juga mengingatkan tetapi si Hasan tambah bingung pada ayat:
ولا أنتم عابدون ما أعبد…و لا أنا عابد ما عبدتم… ولا أنتم عابدون ما أعبد…و لا أنا عابد ما عبدتم…
“Waduh aku kog baca surat ini yang dlu aku gak hafal. Ni lanjutannya gimana,,wah wahhhh,,” pikir Hasan bingung dan gemetar. Dia mulai berkeringat dingin.
“Dari pada aku disini tambah malu mending aku kabur aja lah” kata Hasan dalam hati.
Tanpa pikir panjang, Hasan langsung ambil langkah seribu menerobos jamaah lari keluar tanpa malu. Jamaah yang tidak tahu kenapa Hasan lari, mereka juga ikut lari keluar semua tanpa terkecuali. Sehingga di dalam masjid tidak ada orang sama sekali. Setelah sampai di luar tiba-tiba bangunan atas masjid roboh tepat setelah mereka keluar. Mungkin karena bangunan itu sudah tua jadi menyebabkan roboh bagian tengahnya. Jamaah di luar kaget dengan apa yang mereka lihat barusan. Pasti mereka terluka atau bahkan meninggal jika mereka tidak ikut Hasan keluar masjid.
“Terima kasih nak Hasan sudah menyelamatkan kami. Hampir aja kami terluka jika nak Hasan tidak lari keluar” kata ibu-ibu setengah baya.
“Hhhmmm anu,,,iya buk” jawab Hasan masih bingung dengan apa yang terjadi. Seakan dia mimpi.
“Kog bisa ambruk ??” tanya Hasan dalam hati.
Semua warga yang sholat berjamaah di masjid mengucapkan terima kasih kepada Hasan karena mereka mengira Hasan telah menyelamatkan meraka. Padahal semua itu terjadi secara kebetulan saja.
Sejak saat itu, Hasan mulai belajar lebih giat lagi supaya tidak membikin malu orang-orang yang telah percaya kepada dia.
Seiring berjalannya waktu, Hasan sekarang sudah menjadi imam tetap di masjid itu. Karena dia belajar keras setiap harinya, dia akhirnya juga menjadi guru di madrasah. Selain itu dia juga di percaya masyarakat sekitar sebagai tokoh agama yang pantas di jadikan panutan. Dia sekarang menyesal kenapa dahulu di pesantren tidah bersungguh-sungguh dalam belajar.
Created by : Amrin Kastomo

About admin

Check Also

Kebersamaan kelas parkiran

Kebersamaan itu indah. Bersama dengan keluarga ponpes al-fattah ini adalah suatu kebahagiaan yang sederhana tetapi …

4 comments

  1. kadang, santri yang nakal lebih sukses dari santri yang pintar… dia lebih sering mendapat doa dari abahnya dibanding yang lain…

  2. maaf mbk. namanya kastomo tidak kustomo. kalau anda ingin mengubah nama seseorang harus bancaan dulu…sukron

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *