Home / Kegiatan / Ramadan Mengaji Dan Tafakkur

Ramadan Mengaji Dan Tafakkur

tasyakuran dengan buka bersama santri-santri Al Fattah, usai mengkhatamkan kitab Nashoikhul 'Ibad
tasyakuran dengan buka bersama santri-santri Al Fattah, usai mengkhatamkan kitab Nashoikhul ‘Ibad

Kelas praktek amtsilati yang di ampu oleh ust Habib, pada Selasa (21/6) telah merampungkan, pengajian sebuah kitab yang selama beberapa bulan di kaji dan di pelajari. Kitab yang telh di khatamkan yaitu kitab Nashoikhu ‘Ibad, sebuah kitab klasik karangan Syekh Nawawi Al Bantani yang bercorak tassawuf serta pelajaran moral. Bertepatan di hari ke 17 atau bersamaan dengan peringatan nuzulul qur’an di harapakan selesainya pembelajaran kitab dengan gramatika bahasa Arab metode Amtsilati dan kandungan makna kitab ini, semua santri yang dapat memperoleh keberkahan kitab tersebut serta dapat menjadi ilmu yang bermanfaat.

Sang pengampu kitab, Habib berujar, Yang terkesan ketika Imam nawawi dalam kitab Nashoih ‘Ibad mengutip pendapat seorang ahli bijaksana mengatakan, (hikmah)
آنفوجدته في التفكر طلبت نور القلب في المواعظ وقراءة القر
Dari sini sudah jelas bahwasannya, cahaya hati dalam diri manusia tidak hanya di peroleh dari nasehat, dorongn dari orang lain serta membaca al-qur’an saja. Akan tetapi manusia harus berfikir atau di imbangi dengan berfikir. Hati mempuyai sifat lembut, tenang, mencerahkan kehidupan, mendamaikan jiwa, mendidik akal, semua itu merupakan bagian-bagian yang bisa di peroleh ketika seseorang mau bertafakkur secara mendalam dalam memahami isi Al-Qur’an, kemudian di tambah dengan mau belajar dari kehidupan dan kenyataan baik di dunia maupun ahirat serta selalu ingat kekurangan akan diri kita masing-masing, dan hal penting pula yang tidak boleh di lupakan adalah istiqomah. Ustadz habib menambahkan kembali bahwa,
Al-Qur’an tidak hanya sebagai bacaan tapi juga  harus di peraktekkan, Al-Qur’an bukan hanya untuk di pajang akan tetapi harus di buat pedang, Al-Qur’an bukan cuma untuk di simak tetapi harus di cerna, dan terakhir Al-Qur’an tidak hanya sebagai hiasan tapi juga  harus bisa di amalkan.

Meskipun mayoritas santri Al Fattah juga berstatus sebagai mahasiswa, akan tetapi karena kesabaran dan kemauannya yang besar untuk mengaji dn menimba ilmu dengan para ustadz, di sela-sela kesibukan, akhirnya kitab Nashoikhul ‘Ibad tersebut dapat terselesaikan. Dan semoga menjadi bekal yang bermanfaat untuk kehidupan di masa yang akan datang.

About Mella El Maula

menulis adalah proses mengabdikan diri

Check Also

AKSI TOLAK FDS (FIVE DAY SCHOOL) Se-SOLO RAYA.

Sekitar 25 ribu warga NU (Nahdlatul Ulama) se-Solo raya melakukan aksi tolak five day school, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *