Home / opini / Pembunuh Berdarah Dingin

Pembunuh Berdarah Dingin

Plagiator
    Plagiasi adalah salah satu dosa besar. kelakuannya tidak bisa dimaafkan secara akademis. Di negara maju, ketika seseorang sudah di vonis memplagiasi, bahkan menyalin secara keseluruhan bisa berakibat sangat fatal, yakni penghapusan gelar, pangkat dan pekerjaannya. Bahkan hukum pidana sudah menanti dirinya.
   Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI), plagiat adalah mengambil atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya orang lain dan disiarkan sebagai karangan atau pendapat dan sebagainya sendiri.
   Tindakan seperti yang tersebut diatas dapat digolongkan dalam kejahatan intelektual. Kejahatan amoral tidak hanya berupa penganiayaan, anarkis, dan pelecehan seksual. Plagiarisme adalah merupakan suatu tindak kejahatan yang paling amoral di bidang keilmuan.
   Tindakan amoral yang dilakukan seorang akademisi lebih hina daripada seorang yang meminta-minta dan pencuri, bisa dikatakan lebih rendah dari seorang pengemis. Ketika seorang akademisi melecehkan ilmu pengetahuan, apakah yang seperti itu masih berhak untuk di hormati secara akademis?
   KH. Hasyim Asyari( pendiri Nu ) pernah dawoh bahwa ukuran seorang mulia dalam derajad keilmuan, salah satunya adalah mereka yang memiliki moral tinggi. Sikap dan perbuatannya mengandung tanggung jawab risalah ketuhanan.

Predator
   Seorang plagiator tidak ada bedanya dengan yang namanya predator. Perbuatan dan sikapnya hampir sama, yakni pembunuh berdarah dingin. Membunuh demi ke-eksistensinya sendiri. Keduanya melakukannya dengan seenaknya sendiri, tak peduli etika dan tanggung jawab.
   Menghalangi seorang plagiator sama halnya dengan menghalangi predator untuk membunuh, sangatlah sulit.
Apakah ada obat yang bisa menghentikan pergerakan plagiasi?
Mungkin hanya bisa dengan menyadarkan tentang kesadaran intelektual sikap dan pola pikir atau mungkin dengan membumi hanguskan karakternya sebagai akademisi.

– بحري –

About admin

Check Also

Fenomena Kecanduan Gadget pada Santri

Teknologi alih-alih mendekatkan, malah menjauhkan para santri untuk bercengkrama dengan teman sebelahnya. Smartphone merupakan alat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *