Home / Suara Santri / Pancasila itu Ideologi Islami

Pancasila itu Ideologi Islami

Dalam minggu ini   HTI  menjadi pembicaraan serius di Media massa. Masalahnya  HTI mau di bubarkan  oleh Pemerintah  karena  mengusung ideolgi Islam.  HTI ingin mengganti ideologi pancasila dengan “ideologi lslam” karena beranggapan bahwa pancasila adalah “ideologi thagut-kafir-sekuler” yang tidak Islami adalah pernyataan salah besar.
Pancasila itu sangat Islami, sangat Qur’ani dan sangat sya’i. Tidak ada satupun dari lima dalam pancasila itu yang tidak sesuai dengan spirit Islam juga bisa dicari “legitimasi teologisnya” dalam Al-Quran karena memang Al-Quran menjadi salah satu rujukan dalam merumuskan dasar Negara ini.
Jika pancasila tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan Al-Quran, tentu aja para ulama dan tokoh muslim yang terlibat dalam perumusan dasar Negara ini tidak akan mungkin menyeetujuinya.
Coba anda kaji dengan jernih dan seksama dengan pikiran waras dan terbuka, maka semua sila dalam Pancasila sangat Islami dan Qur’ani sekali. Misalnya, sila pertama menegaskan tentang prinsip-prinsip fundamental keesan Tuhan atau Tauhid. Sila ini juga meneguhkan Indonesia sebagai”Negara yang berketuhanan”. Kemudian sila kedua meneguhkan tentang pentingnya kemanusiaan atau humanism. Islam dan Al-Qur’an jelas menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Sila ketiga menggaris bawahi tentang pentingnya persatuan yang melintas batas agama, etnis, dan golongan. Ini juga sangat Islami dan Qur’ani sekali. Lalu, sila keempat yang anatara lain menunjukkan tentang pentingnya bermusyawarah dalam mengambil keputusan juga sangat Islami dan Qur’ani. Terakhir, sila kelima, tentang keadilan social yang jelas-jelas sangat sesuai dengan nilai-nilai keislaman, ajaran Al-Qur’an dan spirit kenabian.
Jadi atas dasar apa mengatakan bahwa Pancasila sebagai “ideology thaghut-kafir-sekuler”? apakah karena Pancasila tidak memakai bahasa Arab? Yang berbahasa Arab kan belum tentu Islami dan Qur’ani juga kan?
Jadi saya menyarankan kepada semua pembaca artikel ini dimanapun anda berada untuk membiasakan diri berfikir secara “substansial”, bukan secara “formal”. Bisakan mencermati “esensi” bukan yang tampak diluar, “isi” bukan “kulit”. Bukankah “isi” lebih oke ketimbang “bungkus”? contohny: kacang sama bungkus kacang, kan lebih enak kacang?
Yang meributkan Pancasila itu sejatinya seperti orang merebutkan merk, desain, gambar dan warna bungkus kacang tapi melupakan isi dari bungkus itu yaitu kacang yang enak dan gurih.

Created By : Huda

About admin

Check Also

Toleransi ala Gus Dur

Dr. K. H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur adalah tokoh Muslim Indonesia …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *