Home / Suara Santri / Kisah / MAULID CINTA

MAULID CINTA

Pemenang lomba menulis Cerpen juara ke 2
Pemenang lomba menulis Cerpen juara ke 2

Pagi itu aku menghirup segarnya udara Telaga Wangi begitu memikat.Telaga Wangi adalah sebuah desa dimana aku dan keluargaku setiap detik, menit ,jam , hari bahkan tahun bercengkerama di desa asri itu. Sebuah kebahagiaan bagi kami menjadi salah satu penghuni desa nan permai itu, masyarakatnya yang ramah ditunjang oleh suasana pedesaan yang jauh dari polusi baik itu polusi lingkungan maupun polusi hati yah, warga desaku sangat religius dan ketaatannya terhadap agama itulah yang membuatku betah tinggal di desa baruku itu karena sebelumnya aku adalah seorang gadis kota yang haus akan suasana permai nan damai dengan nila – nilai agama yang kental.
Di desa itu aku melihat sesuatu yang berbeda dan yang membuat hatiku berdetak kencang seorang pemuda yang bagiku sangat agamis hal itu akan menjadi sangat kontras apabila dibandingkan dengan diriku, diriku yang hanyalah seorang gadis metropolitan yang tidak mengenal apa itu agama dan pengaruhnya dalam hati kurasa disini butir – butir halus dari manfaat itu telah meresap dalam hatiku dan entahlah aku tidak peduli tentang itu tapi yang jelas  namanya adalah Hasan. Sejak pertama bertemu di masjid desa ini aku telah jatuh hati dengan caranya bertutur kata, bersikap dan semua tentangnya aku menyukainya entah perasaan macam apa ini aku hanya bisa berharap jika ini adalah perasaan cinta maka dekatkanlah aku dengannya secara halal wahai Tuhan tapi jika bukan maka pisahkan hatiku dengannya secara perlahan sehingga aku tak akan merasakan sakit akibat jauh darinya.
Langkah kakiku menyeretku membawa ke masjid meski hanya sekedar melihat hasan yang setiap sore menjelang maghrib telah standby di masjid sembari membaca alqur’an dan berdzikir, dari kejauhan dibalik tajamnya kaca jendela aku melihatnya begitu tampan saat membaca alqur’an dan berdzikir. Tidak!!! Aku benar – benar jatuh hati, bagaimana ini resahku dalam hati, pantaskah aku bila mencintai seorang sesempurna hasan? Ah, aku terlalu naïf bila sekedar menjadi pengagum rahasianya.
“ Assalamualaikum..” aku tertegun ketika mendengar suara lembut nan damai itu memanggilku dari belakang aku balikkan badanku untuk melihat siapa kiranya yang memanggilku dan ternyata setelah aku palingkan wajahku ke belakang hasan seorang yang aku kagumi telah berdiri di depanku dengan gayanya yang menurutku menyejukkan  hati.
“ waalai..kum..salam “ jawabku terbata.
“ maaf kenapa diluar dan hanya memandangi masjid mbak?, mari masuk dan mempersiapakan diri untuk melaksanakan shalat maghrib “ sarannya padaku yang masih grogi berada di depannya
“ iya mas, nanti saya menyusul, saya wudlu dulu ya “ jawabku dengan wajah memerah karena teramat malu
Dengan beralasan wudlu langkah demi langkah aku meninggalkannya untuk menuju tempat wudlu yang ada di masjid Nurul Iman.waktu maghribpun kini telah tiba puluhan jamaah masjid Nurul Iman berduyun – duyun datang menuju rumah ibadah itu dengan hati yang senang dan wajah yang sumringah tanda kebahagiaan dalam hati untuk menuju pertemuan yang dinantikan setiap waktunya kepada Sang Illahi tak terkecuali aku yang sejak sore tadi telah menundukkan  kepala pada lembaran – lembaran ayat suci-Nya dan mulai berdzikir akibat perintah dari hasan seorang yang kukagumi.
Seperti biasa seusai shalat berjama’ah imam masjid memberikan ceramahnya tentang syari’at agama dan ajaran – ajaran kebaikan yang tidak aku dapat di kota dulu atau mungkin bahasa syar’inya adalah dakwah ‘amar ma’ruf nahi munkar yang konsisten dilakukan disini, tetapi tema kali ini kurasa sangat menarik, imam shalat jum’at itu menuturkan sedikit demi sedikit kata – kata yang konsisten diulang dan mungkin itu kata kunci dari ceramah kali ini, telingaku menangkap dua kata yang asing kudengar yaitu kata Rabi’ul awal dan maulid nabi, aku yang buta agama saat itu merasa linglung terhadap bulan dan tradisi yang akan dijalani beberapa minggu kedepan.
***
Haripun berganti kokok ayam membangunkan setiap telinga yang angkuh hanya untuk mendengar azan subuh karena terlalu panjang hari dan aktivitas yang dilalui, pagi itu kembali cerah ketika hasan tiba – tiba menghampiriku di pelataran rumahku yang rindang akan pepohonan dimana ada sebuah bangku panjang yang melintas didepannya dia menyampaikan sebuah surat dari kepala desa untuk membentuk sebuah tim yang terdiri dari beberapa pemuda untuk meramaikan desa di bulan maulid dengan kegiatan – kegiatan islami yang bermanfaat seperti menghafal alqur’an , membaca kitab dan albarzanji sungguh aku tertegun aku tidak menyangka seorang yang aku kagumi datang menghampiriku di rumahku, jujur aku bahagia tetapi aku tidak mengerti dalam kegiatan yang akan aku lakukan.
“ maaf mas aku tidak mengerti apa yang harus lakukan?” tanyaku ragu
“ begini mbak meskipun mbak adalah seorang yang baru di  desa ini tapi kepala desa dan karang taruna  kami menginginkan mbak bisa ikut berkontribusi bagi desa ini, nanti tak perlu khawatir kami akan membantu mbak dalam kegiatan ini, mbak bersedia kan?” tanyanya balik
“ jangan panggil mbak mas, panggil saja aku regita “ elakku seraya mengalihkan pembicaraan
“ oh iya regita, tapi tolong jawab dahulu ya bersediakah kamu?” tegasnya seolah tak menghiraukan basa – basiku
“ mmmm.iya mas insyaallah “ jawabku ragu.
Sepulang hasan dari rumahku, akupun mulai berpikir akankah aku menyanggupi permintaan seorang yang aku cinta sedangkan aku tidak mengerti akan budaya dan adat istiadat yang akan kugarap? Tetapi apapun itu aku yakin ajakan yang ia tawarkan adalah sesuatu yang baik tetapi apakah aku bisa? Dengan latar belakangku yang tidak faham terhadap agama kegiatan yang seharusnya mudah terasa susah bagiku tapi dalam yakin aku tidak pernah ragu dengan pilihan seorang yang suci dan kukagumi” aku pasti bisa” pekikku dalam hati
Hari – hari yang kulalui mulai penuh dengan warna dengan rasa cinta yang aku rasakan baik cinta pada desa, masyarakatnya, adat istiadatnya dan dia. Dia seorang yang membuatku bisa mendekatkanku pada Tuhan , dia yang selalu hadir dalam mimpiku dan dia yang selalu membawaku ke cahaya yang lebih terang dan rasa dalam dadaku semakin membuncah.
Hari pertama pelaksanaan kegiatan maulid nabi yang telah dirancang beberapa hari sebelumnya berjalan dengan lancar dan kuarasa aku mulai menyukai dengan alqur’an, membaca kitab dan salah satu budaya yang aku tak pernah tahu sebelumnya, shalawat….yah kata hasan sebagai seorang muslim atau muslimah yang baik kita harus mengapresiasi terhadap apa yang Rasulullah SAW ajarkan dan setelah nabi kita tiada sebagai seorang yang mengakui Rasulullah SAW sebagai rasul dan kekasih Allah kita harus memperingati hari lahirnya dengan suka cita dan ikhlas untuk bershalawat.
Alunan musik rabbana menggetarkan hatiku dan suara merdu  hasan terasa bagai tetesan embun yang mengalir lembut dalam jiwaku aku terpaku dengan setiap kata – kata, shalawat  dan perilakunya yang santun , dia dapat memahamiku yang masih terlalu awwam untuk memahami ajaran agama dan budaya barzanji yang seharusnya telah aku pahami jauh – jauh hari meskipun demikian aku tetap bersemangat dalam mendendangkan shalawat di bulan istimewa bagi Rasul kita, kekasih setiap ummat muslim dan pencapaian akhir dari puncaknya pengharapan bergelora dalam syafaatnya.
Suatu hal yang menancap dalam hatiku ketika siang yang cerah itu hasan berkata padaku
“  kamu tahu tidak, apa manfaat dari kita melaksanakan barzanji ini?” tanyanya padaku dengan penasaran
“ entahlah, aku tidak tahu yang aku tahu aku ingin mencintai nabi seperti kamu dan orang – orang di desa ini mencintai nabi “ jawabku penuh percaya diri
“ dengan kita selalu mendendangkan shalawat khususnya di bulan maulid ini ada sebuah pengharapan yang mulia kepada baginda untuk mendapatkan syafaat yang agung darinya di yaumul akhir nanti di akhirat dimana tidak ada yang mampu memberikan  cinta kasih syafaat kepada kita selain dia karena begitu cintanya dia kepada kita selaku ummatnya, nah apabila telah demikian bukankah kita sebagai ummatnya seharusnya lebih  mencintainya dengan mengagungkannya melalui shalawat bukan?” jelasnya panjang lebar
“ oh ya…, menarik sekali “ jawabku penuh pengapresiasian terhadap penjelasannya
“ iya, manusia, hewan, tumbuhan, alam , malaikat bahkan Allahpun bershalawat atas nabi “ tambahnya
“ masyaallah ..” jawabku kagum.
Kegiatan penyongsong maulid nabipun hampir berakhir dan ini adalah hari terakhir kegiatan itu yang dilaksanakan selama dua belas hari berturut – turut, rasanya berat sekali aku yang mulai suka dengan barzanji menginjak hari terakhir aku berharap ada kegiatan rutinan seperti ini sepanjang bulan.sungguh rasa cintaku terhadap barzanji telah berada dalam level akut
Malam itu seusai pembacaan barzanji dan pendendangan shalawat tiba – tiba hasan menghampiriku tampaknya dengan wajah yang agak sedikit tertunduk entah karena apa akupun tak tahu
“ mmm assalamualaikum regita “ sapanya
“ waailaikumussalam mas hasan “ jawabku
“ maaf sebelumnya jika aku mengganggumu, aku hanya ingin memberitahumu  suatu hal  kamu tidak keberatan kan ?” pintanya dalam Tanya
“ iya mas insyaallah tidak, ada apa ya?”
“ sebelumnya mohon maaf jika saya lancang saya hanya ingin mengatakan sesuatu bahwa “ ukhibuuki fillah “ “ucapnya lirih dengan raut wajah yang merah padam
“ apa ukhibbukai fillah? Apa itu mas “ selidikku penasaran
“ mungkin kamu tidak memahaminya karena itu berbahasa arab, artinya adalah “ aku….aku mencintaimu karena Allah Regita “ jawabnya tegas penuh pengharapan
“ apa mas? Maaf mas tidak salah?” selidikku penasaran seraya menyembunyikan perubahan wajahku yang mendadak berubah total karena terkejut
“ tidak regita tidak ada yang salah “ tegasnya ulang
“ tapi aku hanya wanita biasa yang tidak pantas bersanding denganmu kelak di kesucian cinta menuju Allah, aku hanya wanita biasa mas “
“ bagiku kamu adalah wanita istimewa yang telah dipilih Allah untuk menetap dihatiku, meskipun kamu belum mengerti tentang agama secara sepenuhnya tapi kamu adalah seorang yang mau berusaha mendekatkan diri kepadaNya dan aku menyukai itu dan jika berkenan aku akan membimbingmu menuju jalanNya, tapi semua terserah kepadamu aku tidak ingin memaksamu mengiyakan rasa yang Allah titipkan padaku, aku hanya ingin membina bahtera rumah tangga dengan seseorang yang mampu aku bimbing untuk sama – sama menuju ridloNya “ pintanya dalam kepasrahan
“ bismillahirrahmanirrahim aku menerimamu mas “ jawabku mantap
“ Alhamdulillah..” bibirnya yang indah spontan mengucapkan kalimat tahmid
“ secepatnya aku akan menghitbahmu dan menjadikanmu bagian dari hidupku secara halal insyaallah “
“ Alhamdulillah, aamin “
Malam itu terasa panjang dan menyenangkan bagi hatiku yang sedang berbunga seseorang yang tidak pernah aku sangka sebelumnya akan memilki rasa yang sama terhadapku, malam ini ia mengungkapkan rasa itu padaku dengan segenap kerendahan hatinya ia sampaikan itu dengan bahasa yang teramat lembut dan penuh dengan kepasrahan, mungkin ini yang dinamakan bercinta karenaNya tak peduli cinta itu berharta, bertahta  ataupun tidak tetapi yang jelas cinta itu akan mengantarkan kita pada kecintaan yang hakiki kepada Allah dan RasulNya itulah essensi cinta yang sesungguhnya.
( Intan Liana / kelompok7 / Jadidah )

About admin

Check Also

Kebersamaan kelas parkiran

Kebersamaan itu indah. Bersama dengan keluarga ponpes al-fattah ini adalah suatu kebahagiaan yang sederhana tetapi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *