Home / Suara Santri / Kisah / Kaburnya Cahaya

Kaburnya Cahaya

cahaya
Udara pagi ini terasa menyengat dan tak sesegar biasanya itulah yang kurasaka. Aku seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang merasakan pilunya hati terasa nyeri dan mati. Yah Irene, itulah namaku yang sering disebut teman – temanku sebagai gadis yang selalu murung.
Entah darimana aku bisa bercerita tentang musibah yang menimpa keluaga kecilku. Seolah aku telah kehilangan lenteraku , lentera penerang hidupku yang kurasa telah padam satu tahun silam tepatnya dimana hati otak dan ragaku seoalah tak sinkron dan gila. Senja ini kembali kelam dan sorotan mentari diatas awanpun murung karena harus kembali ke peraduannya dengan sinar jingganya yang redup, tanpa tersadar aku menyusuri lorong waktu mencoba masuk ke masa lalu masa – masa buram jiwaku history hidupku.
“ Pokoknya aku tidak mau tahu aku harus menyelesaikan pekerjaanku mala mini juga! “ tegas mama
“ Tapi ma ini sudah malam, papa tidak mengizinkannya “ tolak papa
“ Tapi pa aku harus ke kantor malam ini juga dan seluruh pekerjaan harus mama selesaikan mala mini juga “ ulang mama
“ Oh jangan – jangan mama punya selingkuhan di kantor sampai mama jarang pulang ke rumah akhir – akhir ini “ selidik papa
“ Apa yang papa katakana , jangan mengada – ada mama lembur demi keluarga kita pa! “ bantah mama “
“ Stop !! hentikan ma, pa! Irene bosan setiap hari harus mendengar pertengkaran kalian “ teriak Irene
“ Irene! Jangan ikut campur kamu masih anak – anak kamu belum tahu apa – apa ! ini masalah orang tua! “ jelas mama
“ Mama jangan pernah menyalahkan dan membentak Irene seperti itu dia masih anak – anak, jangan sangkut pautkan dia dalam masalah kita “ bela papa
“ Terserah apa kata kalian! “
Lantas mampun pergi begitu saja dan saat itulah aku membenci mamaku sendiri  ibu kandungku sendiri.
Setelah pertengkaran yang terjadi kemarin mama sering tidak pulang bahkan untuk menemani aku dan papa sarapanpun bagi mama hanya membuang – buang waktu saja. Dan semenjak saat itu rasa benciku terhadap mamaku semakin bertambah. Bahkan aku telah lupa bagaimana mama yang dulu selalu membuatkanku sarapan setiap paginya, mengantarkanku ke sekolah bahkan sekedar menemaniku ketika aku ingin istirahat dan aku berusaha melupakan bagaimana mamaku telah berjuang melahirkanku . Bagiku mama telah mati !
Kisahkupun berlanjut dua bulan setelah pertengkaran itu teernyata membawa dampak besar dalam hidupku. Aku siswi SMA yang semula rajin cerdas dan patuh terhadap aturan sekolah bahkan sempat menjadi siswi teladan nomor satu di sekolahku tapi semua itu dulu ! sekarang hidupku bagai angin, aku tak tahu kemana harus melangkah ikut papa yang selalu membelaku tapi tak pernah ada untukku ataukah ikut mama yang akhir – akhir ini sibuknya melebihi papa,bahkan memandang wajahnya saja aku lebih baik kmati. Aku frustasi hingga aku telah berubah seratus delapan puluh derajad.
“ Hai rene, sedih muluk kenapa kamu? “ sapa Thomas
“ Ngga papa kok tom “ sahutku pelan
“ Hidup itu perlu dinikmati, ayolah hilangkan kesedihanmu , ikutlah denganku kamu akan bahagia “ ajak Thomas
“ Apa benar aku bisa bahagia ? dengan apa caranya?” tanyaku penasaran
“ Nanti malam kita ketemu “
“ Dimana ?”
“ Nanti tak jemput pokoknya kamu siap – siap saja “ bujuk Thomas
“ Oke “ sahutku gembira
Kukira perjumpaanku dengan Thomas yang menawarkan kebahagian akan membuatku benar – benar bahagia tapi ternyata aku salah. Thomas hanya menawarkan kebahagiaan sesat untukku yang justru akan merusak hidupku. Malam itu ia menawarkan minuman alcohol padaku awalnya aku tidak setuju tapi karena dia memaksaku akhirnya air haram itu masuk kedalam mulutku bersama dengan beberapa narkotika yang aku sendiri tidak tahu entah berapa jumlahnya. Dan benar malam itu aku akan merasa bahagia, rasanya aku terbuang dan membuang masalah – masalah hidup yang telah lama bersarang di otakku. Dan lama kelamaan kebiasaan mabuk dan mengkonsumsi narkotika telah melekat dalam hidupku. Setiap hari aku pulang malam dengan seragam SMA ku yang basah oleh minuman dan mama hanya bisa memarahiku dan papa membelanya itulah yang terus menerus terjadi hingga aku jenuh mengingatnya. Hingga suatu hari aku menemukan sesuatu di laci papa
“Surat Cerai” bacaku dengan teliti disana tertera keterangan yang menyebutkan mama telah resmi bercerai dengan papa dua hari yang lalu aku kaget buka main dan tidak percaya dengan apa yang telah kubaca. Pantas saja aku selalu kesepian dua hari ini papa entah kemana akupun tidak tahu bahkan tidak melihatnya sementara mama yang kulihat dia hanya hadir saat sarapan saja itupun hanya beberapa menit aku kehilangan saat – saat bersama dengan keluargaku. Entah kenapa aku merindukan hal itu dan betapa terkejutnya aku tatkala  aku berada di meja makan bersama mamaku dan dia memberi sarapan yang panas bagi telingaku.
“ Irene, mama akan ke Amerika dan akan menikah disana bulan ini” ucap mama enteng
“ Apa? Lalu aku disini sama siapa ma?” tanyaku
“ Dengan tante dan om di bogor ka nada kamu kesana aja “ saran mama
“ Mama jahat! Ibu macam apa mama ini “ bentakku
“ Udahlah Irene ngga usah manja kamu harus bisa hidup sendiri disini, setelah sarapan mama akan ke bandara , jaga diri baik – baik !” pesan mama tanpa dosa
Lalu mamapun meninggalkanku dengan langkah tanpa dosa sementara aku berada di rumah ini sendiri seperti halnya sampah yang ingin di tendang, rumahku memang besar aku berasal dari keluarga yang kaya raya tapi aku tidak ingin ini . apa salahku? Hingga mereka membuangku seperti sampah ! sekotor itukah diriku . aku tidak percaya hal yang paling aku takuti telah terjadi aku tak ubahnya budak yang keseepian dan ditelantarkan oleh majikannya lalu kepada siapa aku harus mengadu ? Dimanakah lenteraku ? yah lentaraku kini telah padam seperti padamnya aku dalam kehidupanku. Tali setengah lingkaran yang kugantung diantara rerimbunan pepohonan hutan ini menjadi saksi malangnya hidupku dan akhir kehidupanku.

By : Intan Liana

About admin

Check Also

Kebersamaan kelas parkiran

Kebersamaan itu indah. Bersama dengan keluarga ponpes al-fattah ini adalah suatu kebahagiaan yang sederhana tetapi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *