Home / Suara Santri / Puisi / Jelmaan Sang Surya

Jelmaan Sang Surya

mentari
Terlukis indah dalam sanubari
Engkau laksana bulan dalam kegelapan
Setia menuntunku dalam perbedaan
Laksana syurga setiap hembus nafasmu
Tetapi bak neraka tetes air matamu
Dalam hidupku
Ingatlah kawan…
Bahwa mereka jelmaan sang surya
Senantiasa bersiap siaga
Menjadi payung dikala hujan
Tetapi kawan…
Sering kali….
Kau anggap mereka laksana macan
Yang sering kali mengoyak-oyak
Menerkam, meraung mencari mangsa
Hingga tetes air matanya mengguyur
Sadarlah…sadarlah…sadarlah..
Bahwa siapa yang kejam
Dirinya meraung…
Dalam batinnya terluka
Jiwanya berdarah-darah
Karena baginya engkau sangatlah berharga

About imroatul

Tak perlu bolang tuk mengerti keadaan dunia hanya butuh tulisan tuk menggenggamnya

Check Also

Suara NU untuk Negeri

Suara NU untuk Negeri Siapa kita... NU! NKRI.....Harga Mati! Pancasila...Jaya! Mau jadi apa, Indonesia tanpa Madrasah.. Mau jadi apa, anak bangsa tanpa Madrasah.. Indonesia tanpa Madrasah, akan hancur moral bangsa.. Permendikbud 23, ayo cabut sekarang juga.. Aju maju, kita lawan, tolak FDS sekarang juga Bukanlah aku bersorak karena aku gila, aku berteriak karena aku masih muda. Bagaimana orang tua mengeluarkan suara lantang, sedang aku hanya diam menikmati keadaan? Malu, malu jika ku hanya membisu dan terdiam.. Bukanlah aku mengangkat tangan karena sekedar ikut-ikut saja.. Kepalan tanganku keluar dengan semangat yang membara.. Karena aku tahu sudah waktunya para sesepuh melihat penerus yang teguh dan dipercaya.. Bukanlah aku ikut aksi karena sekedar gengsi.. Barisanku terdiri dari tua-muda, Banom-banom NU, pejabat-rakyat, kiai dan santri. Bukanlah aku ikut tanpa arah tujuan... Kami pertahankan Madin dari ancaman musnah peradaban Terkikisnya karakter di zaman yang serba edan Terjajahnya Indonesia dari pikiran dan pemahaman yang serba kebarat-baratan dan ketimur-timuran. Aku memang NU, tapi aku berjuang bukan atas namaku dan golonganku.. Aku mewakili kalian di jalan.. Aku hanya ingin mempertahankan pesan leluhurku : “Hubbun Wathon minal Iman.” Adakah kalian yang menertawakanku? Madin dan pesantren tempat lahirnya para pejuang kemerdekaan.. Mereka itu, mereka itu bagaimana? Pelajaran agama dianggap tidak relevan dengan zaman sehingga disepelekan.. Pendidikan yang dianggap serba kekurangan tetapi kurang diperhatikan.. Aku yang salah, atau mereka-mereka itu yang salah kaprah? Aku yang penuh ketidak tahuan, atau mereka-mereka yang mengatur kebijakan? Aku yang berbuat seenaknya, atau mereka-mereka itu yang ditentang 25.000 masa? Aku kerahkan tenagaku untuk negeriku Aku kobarkan semangatku untuk negeriku Aku lantangkan teriakanku untuk negeriku Adakah diantara kalian yang menertawakanku? Tidakkah keadaan negeri ini menjadi bukti yang terang? Tidakkah sejarah negara ini telah berbicara secara gamblang? Masihkan pemimpin-pemimpin itu bersikeras mempertahakan Kebijakan? Kami butuh Kiai dan santri Kami butuh madin dan pesantren Jika tak ada mereka, aku tidak tahu seperti apakah masa depan negeri ini.. Ditulis oleh : Arif ahmad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *