Home / Artikel / IMPLEMENTASI SANTRI LITERASI MENELADANI RASULULLAH SAW DALAM PERINGATAN MAULID NABI

IMPLEMENTASI SANTRI LITERASI MENELADANI RASULULLAH SAW DALAM PERINGATAN MAULID NABI

Peringatan Maulid Nabi selalu disambut dengan meriah oleh umat Islam di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Adapun pelaksanaan Maulid Nabi berisikan kegiatan yang berkaitan keagamaan, seperti: Pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran, Kajian terhadap hadis-hadis Nabi, pengajian akbar dan pujian atau shalawatan yang berbentuk syair kepada Rasulullah SAW. Kegiatan ini tentunya menciptakan euphoria tersendiri dilingkungan masyarakat terutama lingkungan para santri.

Pengadaan peringatan maulid Nabi tak lepas dari pro dan kontra dikalangan masyarakat. Bukti bahwa keabsahan peringatan Maulid masih diperdebatkan adalah bahwa banyak ulama dari berbagai mazhab secara eksplisit menunjukkan sikap pro dan kontra mereka. Al-Suyûti, seorang ulama terkemuka dari mazhab Shâfi‘î, mengemukakan pendapatnya dalam sebuah kitab yang khusus mendiskusikan keabsahan peringatan Maulid (Hamim, 2014). Kitab yang berjudul Husn al-Maqsid fî ‘Amal al-Mawlid ini dipandang sebagai sumber otoritatif bagi para pendukung tradisi peringatan Maulid, terutama bagi mereka yang sejalan dengan mazhab Shâfi‘î.

Orang-orang yang mendukung kegiatan ini tentunya adalah umat Islam yang mampu merefleksikan diri dalam meneladani Rasulullah SAW dengan sebenarnya. Sedangkan untuk orang-orang yang tidak mendukung pelaksanaan kegiatan Maulid Nabi adalah para umat Wahabi yang menganggap sebagai hal Bid’ah. Pemikiran yang tidak sejalan tersebut yang akhirnya menjadikan adanya pertentangan dengan pengadaan kegiatan Maulid Nabi. perbedaan pendapat semacam itu memang disebut kontroversi dengan konotasi negatif, karena perselisihan dalam tataran pendapat tadi bisa berkembang menjadi perseteruan antara para pendukung dua pendapat yang berlawanan.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi ketika ditanya perihal maulid beliau menjawab secara eksplisit dengan sebuah karya kitab yang diberi nama Husnul Maqshad fi Amalil Maulid. Menurut beliau, “Hukum asal maulid Nabi yang mana di dalamnya terdapat orang yang membaca ayat suci al-Qur’an dan hadits Nabi tentang pengarai Rasulullah, begitu juga ayat yang ada hubungan dengan kisah kenabiannya. Dilanjutkan dengan acara ramah tamah, lalu bubar tidak lebih dari itu. Maka, itu adalah bid’ah hasanah dan pelakunya mendapat pahala.” Husnul Maqshad, halaman 251-252 (NU Online). Sejatinya dalam suatu kegiatan yang terkandung nilai-nilai sosial yang baik pasti dapat diambil hikmahnya untuk kehidupan manusia. Dengan diadakannya kegiatan Maulid Nabi itu sendiri akan mengingatkan kita sebagai umat manusia untuk senantiasa meneladani dan mengingat perjuangan dakwah Rasulullah SAW.

Sikap Rasulullah yang perlu dan harus dihidupkan dikalangan para santri untuk di representasikan dalam kehidupan sehari-hari adalah kegiatan literasi (Pramono, 2015). Sama halnya dengan kegiatan yang selalu diagendakan dalam rangkaian Maulid Nabi yaitu dengan adanya pembacaan ayat suci Al-Quran dan Hadis. Dari situlah perlu kita ketahui sisi positif dengan adanya peringatan Maulid Nabi adalah sebagai penggugah atau alarm para santri untuk senantiasa gemar membaca dan menulis.

Wahyu pertama kali yang merepresentasikan kewajiban manusia untuk membaca segala hal yang ada di dunia, diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW adalah Q.S Al-Alaq. Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan (Q.S Al-Alaq Ayat 1). Ayat tersebut menjelaskan bahwasanya umat manusia di perintahkan untuk membaca. Membaca memiliki makna yang luas baik itu membaca kondisi umat manusia di zaman sekarang ini, membaca keadaan alam semesta, membaca perilaku manusia, dan juga membaca secara yang dimaknai secara harfiahnya yaitu kegiatan merepresentasikan aksara dalam bentuk tulis ataupun lisan.

Dengan membaca santri dapat membuka jendela ilmu pengetahuan dari mana saja sesuai dengan kemauan dan kemampuannya. Ilmu yang sejatinya memiliki sumber yang jelas, baik itu dari dari Hadis, Al-Quran, dan Buku adalah kajian yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Santri yang memiliki kesadaran membaca tentu tidak akan mudah terbawa arus dengan adanya berita hoax yang acap kali kian menyebar luas tanpa filtrasi.

Peranan santri dalam tatanan kehidupan itu sangat dibutuhkan sebagai agen perubahan di lingkungan masyarakat untuk mendakwahkan ilmu yang di peroleh selama di pesantren. Tujuan dakwah dari santri itu sebagai salah satu Jihad Fi Sabilillah memerangi kebodohan masyarakat atas dasar ketidaktahuan. Karena sejatinya segala hal yang tidak diketahui tentu saja bisa dipahami dari pembelajaran pribadi maunpun saling berdiskusi. Dengan kesadaran membaca santri menjadi salah satu pelopor untuk menghapus buta huruf dikalangan masyarakat dan itu menjadi sebuah realisasi dakwah Rasulullah kepada para pengikutnya di dunia.

Ilmu adalah bahasan yang tidak akan pernah usai untuk dikaji para manusia, karena ilmu akan senantiasa mengolah karakter, pemikiran dan jati diri manusia untuk menjalani hidup di dunia dan sebagai bekal di akhirat nantinya. Seorang ulama besar Imam Syafii mengatakan bahwa “Jika kamu tidak dapat menahan lelahnya belajar, maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan”. Dari sini kita bisa memahami bahwasannya suatu ilmu pengetahuan itu didapatkan dari suatu proses perjuangan, pergerakan, pengorbanan dan perencanaan yang matang. Siapapun orangnya harus kuat untuk bertempur dimedan perang sehingga rasa takut, malas, dan canggung tidak bisa menghantui dirinya.

Kecerdasan Intelektual antara agama dan pengetahuan umum harus dimiliki oleh diri para santri. Keduanya harus bisa dikuasai dengan beriringan sehingga santri juga masuk dalam masyarakat secara keselurusan di ranah keilmuan. Hal tersebut tentu tidak bisa didapatkan dengan mudah, maka dari itu budaya santri literasi baik itu membaca dan menulis harus tertanam sejak dini di diri santri.

Oleh: Septi Wulan Sari

REFERENSI

http://www.nu.or.id/post/read/84116/penjelasan-para-ulama-tentang-maulid-nabi-muhammad

Hamim, T. (2014). Tradisi Maulid Nabi di Kalangan Masyarakat Pesantren. Jurnal Studi Agama-Agama, 4(2).

Pramono. (2015). LITERASI MAULID NABI DI KALANGAN ULAMA MINANGKABAU: PEMERIAN NASKAH DAN ANALISIS DINAMIKA WACANANYA. Jurnal Kebudayaan Islam, 13(1).

 

 

About admin

Check Also

PERAN SANTRI MENCEGAH PERTUMBUHAN IDEOLOGI TERORISME DI LINGKUNGAN MASYARAKAT SEBAGAI WUJUD CINTA TANAH AIR

Pondok Pesantren Al-Fattah Kartasura, Sukoharjo Pesantren menjadi salah satu bagian penting dari suatu pendidikan nasional …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *