Home / Artikel / Ilmu Agama dan Dunia

Ilmu Agama dan Dunia

pengurus pp alfattah bersama abah yae
pengurus pp alfattah bersama abah yae

Zaman akan selalu berubah dengan adanya tuntutan dan kebutuhan, kita tidak bisa menghela hal itu. Tapi hukum tidak akan pernah berubah (hukum shul), inilah kadang yang banyak terjadi dunia moderen. Belajar agama hanya sebagai tuntutan bukan kebutuhan, hidup didunia pesantren hanya tutuntan bukan kebutuhan, dunia hanya dipersempit dengan masa depan yang tidak jelas, lebih mendahulukan angan-angan dan refleksi, padahal itu hanya bayangan yang tidak pasti.
Kadang dunia ini seakakan-akan dikekang oleh propesi dan keinginan yang tinggi, serta mencari nilai dan makna yang melanggar agama. Bukannya telah sering kita ketahui orang-orang koruptor juga berpeci, bahkan sering didenagar mereka lulusa dari pesantren atau sekolah-sekolah yang dipelajari ilmu agama. Untuk menjawab persoalan ini hanya satu “karena mereka sejak dari awal telah dipengaruhi oleh tindakan dan hati yang tidak ikhlas atau mencari ilmu hanya untuk mencari kekayaan lewat ilmunya, ilmu dijadikan sebuah propesi untuk mengumpulkan dunia bukan dijadikan sebagai imam meninggikan agamanya Allah, menghilangkan kebodohan dan mencari ridha’ Allah”. Sejarah telah membuktikkan, baik dari era Nabi dan setelahnya, ada Bani Quraidzah, Bani Nadzir, dan lain-lain.
Dunia kadang lepas dari keadilan, maka datanglah kehancuran. Manusia kadang selalu ingen didepan tapi ia bukan ahlinya maka tunggulah kehancuran, dunia akan sirnah dan Islam tinggal namanya, jika hanya dipinpin oleh orang yang pintar ceramah, tanpa berpengetahuan yang mendalam dalam ilmu agama. Salah satu tanda kiamat bermunculan orang-orang yang pintar cerama, hampir ceramanya tidak masuk tenggorokan apalagi masuk kedalam hati.
Segala perlainan dan perubahan tingkatan pandangan hidup manusia itu, timbul karena perlainan tingkatan pendapat akal. Berlainan pendapat karena berlainan pengetahuan, pendidikan dan berlaianan pula bumi tempat tegak. Jika akal itu sudah telah tinggi karena tinggi pengetahuan (ilmu) dipatrikan oleh ketinggian pengalaman, bertambahlah tinggi derajat orang yang mempunyai. Kareana sesungguhnya seagala sesuatu yang ada dalam alam ini, hakikatnya sama saja, yang berubah adalah pendapat orang yang menyelidikinya. Maka kepandaian manusia menyelidiki itulah yang menjadi pangkal bahagia atau celaka.
Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambahlah datang bahagia. Bertambah sempit akal, bertambahlah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka. Oleh agama perjalanan bahgia itu telah diberi berakhir. Puncaknya yang penghabisan ialah kenal akan Tuhan, baik ma’rifat kepada-Nya, baik taat kepada-Nya dan baik sabar ats musibah-Nya. Tidak lagi hidupdiatas itu.
Sebab itulah sekali-sekali tidaklah bernama bahagia dan nikmat jika ini baik dan khayal kita perhubungkan dengan barang isi alam yang hari ini, yang harganya menurut keinginan kita. Jangan terlalu diperintah oleh khayal, oleh angan-anagan, oleh fantasi karena itu jugalah yang menggoncangkan kita dari bahagia yang sebenarnya tujuan hidup, yang mulanya tangis akhirnya tertawa, dan mulanya pahit akhirnya manis.
Sekarang mengertilah kita, bahwa segala sesuatu di dalam alam ini baik dan buruknya bukanlah pada zat sesutau itu, tetapi pada penghargaan kehendak kita atasnya, menurut tingi rendahnya akal kita. Apalah gunanya peana emas bagi orang yang tidak pandai mnulis? Apalah harga al-Qur’an bagi orang yang tidak beragama. Apalah harga intan bagi orang yang gila? Sebab itulah kita manusia disuruh membersihkan akal budi, supaya dengannya kita mencapai bahagia yang sejati.
Jalan menuju bahagia boleh sukar, tapi boleh mudah meskipun sekian banyak uraian pendapat ahli-ahli, kita tidak mau terlalu berenang dalam khayal. Mari kita pilih yang paling pendek. Tetapi walaupun pendek, jangan lupa bahwa durinya banyak juga. Kalau tidak banyak duri, tentu tidak terasa enaknya berburu. Kalu tidak mau payah, suruh tangkap seekor ikan, masukkan dalam belanga, lalu kali saja, habis perkara. Mana jalan yang pendek dan mudah itu? Jalan itu alah agama.
Bukan lantaran agama itu melarang orang berpikir, bahkan agamalah yang membukakan pintu pikiran, menyuruh menjalankan akan dan pendapat didalam segala perkara, dari hal alam dan dari hal manusia, bekas nikmat dan anugrah kekuasaan yang gaib. Maksud agama ialah merentangkan jalan, sedang pikiran ialah untuk membanding dan menimbang. Maka tidaklah susah mencapai bahagia menurut agama.

About Moh.Azam As-syaf

lahir di kabupaten Sumenep, takdir adalah pilihan, setiap orang lahir kedunia sedikitpun tanpa berpengatahua, dunia ini gelap tanpa seorang intelektual dan ulama. jangan pernah berkata saya tidak bisa, karena potensi akan lahir melalui proses. mencintai keilmuan adalah suatu keharusan yang harus melekat pada jiwa seseorang, tanpa ilmu manusia akan menduduki kehinaan dunia akhirat, dan hormatilah orang-orang yang ahli ilmu, berarti ia memulyakan Allah dan Rasul-Nya.

Check Also

IMPLEMENTASI SANTRI LITERASI MENELADANI RASULULLAH SAW DALAM PERINGATAN MAULID NABI

Peringatan Maulid Nabi selalu disambut dengan meriah oleh umat Islam di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *