Home / Suara Santri / Kisah / Hadiah Isra’ Mi’raj

Hadiah Isra’ Mi’raj

 

pemenang lomba santri menulis kategori cerpen terbaik di peroleh Faricha Sa’adatul Ummah
pemenang lomba santri menulis kategori cerpen terbaik di peroleh Faricha Sa’adatul Ummah

“Umi.. umi.. uuuuuumiiiiiiii.. .“Panggil seorang gadis kecil dengan nada khas anak usia tujuh tahunan kepada ibunya.

Haba-Uminya-Zahra berjalan menghampiri putri kecilnya itu, lalu berjongkok untuk mengimbangi tingginya dan mencubit pipi gadis kecilnya yang menggemaskan seperti tomat itu. “Ada apa sayang..?.”

“Mi. kata bu gurunya Zahra semua siswa dari kelas satu sampai enam harus pakai baju muslim” jelasnya dengan mata berbinar-binar. “Bu guru bilang kalau besok itu umat Islam memperingati hari isra’ mi’raj.. hari isra’ mi’raj itu hari apa sih umi?. Besok itu kan hari jumat umi! Berarti isra’ mi’raj itu setiap hari jumat ya mi?” Zahra mengernyitkan dahinya sampai kedua alisnya nyaris bertautan, tanda dia tengah berpikir.

“Sini dek, umi mau cerita tentang isra’ mi’raj.” Ajak uminya sambil menepuk-nepuk kursi di sebelahnya yang kosong.

Dengan penuh antusias, Zahra langsung menghamburkan tubuh mungilnya ke samping Haba.

“Gini, dek. Dulu itu ada seorang laki-laki yang sangat gagah, wajahnya tampan sekali. Dia sangat menyayangi semua orang. Terlebih anak-anak. Sehingga semua orang menyukai laki-laki tadi. Nama laki-laki itu adalah Muhammad. Dek Zahra tau tidak Muhammad itu siapa?.” Jelas Haba pada gadis kecilnya tak kalah antusiasnya.

Zahra menyipitkan matanya. “Muhammad itu-“ dia memberi jeda sebentar, mencoba mengingat-ingat. “ Rasulnya Allah kan mi? iya kan mi?.”

Haba tersenyum, lalu menyentuh puncak kepala Zahra. “Yup. Kamu pintar sekali!. Kamu tau kapan peristiwa itu terjadi?.” Tanya Haba pada Zahra.

Zahra langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. “Isra’ mi’raj itu terjadi di malam hari pada tanggal 27 Rajab beribu-ribu tahun yang lalu.” Haba menambahkan.

Seketika mata Zahra membulat. Bibirnya juga melengkung. Terlihat senyumnya sampai ke mata. Manis sekali. Tangan imutnya menarik-narik baju uminya, meminta uminya melanjutkan ceritanya yang sudah terlanjur membuatnya penasaran.

“Lalu pada suatu ketika, Allah menyuruhya untuk jalan-jalan ke langit. Karena tidak hanya manusia saja yang menyayanginya. Allah pun juga sangat sayang kepada Muhammad. Allah ingin memberikan hadiah kepadanya. Tapi, sebelum ke langit, Muhammad harus pergi dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha. Setelah itu baru ke langit.”

“loh! Bagaimana Muhammad ke langit umi, Kan… langit itu tinggi sekali umi?.” Tanya Zahra dengan penasaran. Terlihat diwajahnya yang sarat akan tanda tanya besar.

Kini Haba memiringkan tubuhnya. Menyejajarkan duduknya dengan Zahra dan menatap lembut wajah cantik gadis kecilnya itu. “Muhammad jalan-jalan ke langit dengan burok. Dek Zahra tau ngg-.“

“Burok itu kayak pesawat itu ya mi? bisa terbang? Terbangnya cepat nggak mi?” Sergah Zahra pada uminya karena terlalu semangat

Haba kembali tersenyum. “Iya, dek. Tapi, burok itu bentuknya seperti kuda. Kuda yang sangat cantik sekali. Dia juga mempunyai sayap untuk terbang. Dan terbangnya cepat sekali seperti kilat. Wuuusshh! Langsung sampai. Adek pernah lihat film Barbie kan?.“

“Hmmm.. Berarti burok itu mirip kuda poni ya mi?. wahhhh… Zahra pengen naik burok ke langit mi…”Celotehnya dengan wajah menengadah ke hadapan Haba-uminya-.

Umi Zahra menggelengkan kepalanya pelan. “ Nggak bisa sayang. Karna burok itu hanya ada di zamannya Muhammad. Sekarang sudah tidak ada. Umi lanjut ceritanya ya?” lanjut Haba yang disambut anggukan Zahra.

“Jadi, setelah Muhammad sampai di masjdil Aqsha, dia langsung naik burok menuju langit yang pertama. Di sana Muhammad bertemu dengan Adam.”

“Adam manusia pertama yang diciptakan Allah di surga.” Tambah Zahra dengan yakin.

Lagi-lagi Haba tersenyum. Melihat gadis kecilnya-Salsabila Zahra Baskoro- tumbuh dengan cepat dan menjadi gadis yang cerdas. “Lalu Muhammad memberikan salam kepada Adam. Begitupun juga selanjutnya sampai dia tiba di langit yang ketujuh. Sesampainya di langit ketujuh, Muhammad mendapat hadiah dari Allah.”

“Hadiah? Hadiah apa mi? Muhammad sedang ulang tahun ya mi? ayo mi lanjutin ceritanya!.” Haba mencubit hidung Zahra karena gemas mendengar pertanyaannya yang kelewat kritis itu.

“Bukan dek. Di langit ketujuh Allah memberikan perintah shalat lima waktu kepada Muhammad. Shalat itulah yang sampai sekarang dilakukan oleh umat muslim di seluruh dunia.”

“Jadi, sholat yang selama ini Zahra lakukan itu adalah hadiah dari Allah ya mi?.” Zahra meyimpulkan cerita uminya.

“Itu merupakan perintah Allah kepada umatnya. Agar umat Muhammad selalu mengingat Allah. Ucap Haba dengan penuh hati-hati.

Zahra membenahi duduknya. Tangannya mulai bergerak-gerak seperti akan memulai pembicaraan. “Umi. Sekarang Zahra mengerti, apa itu isra’ mi’raj. isra’ mi’raj itu adalah perjalanannya Rasul Allah-Muhammad-di malam hari pada tanggal 27 Rajab dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha, lalu di jemput buroknya Allah untuk jalan-jalan ke langit ketujuh menerima perintah shalat lima waktu. Iya kan mi?.” racau Zahra menyimpulkan cerita uminya tentang isra’ mi’raj.

“iya dek. Kamu memang putrinya umi yang paling pintar!. Sekarang ganti baju dulu ya! Setelah itu makan siang. Dan jangan lupa-.“

“SHALAT.” Timpal Zahra dan langsung lompat dari kursi menuju kamarnya.

 

Karya: Faricha Sa’adatul Ummah

About admin

Check Also

Kebersamaan kelas parkiran

Kebersamaan itu indah. Bersama dengan keluarga ponpes al-fattah ini adalah suatu kebahagiaan yang sederhana tetapi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *