Home / Suara Santri / Opini / Budaya Literasi, Budaya Santri

Budaya Literasi, Budaya Santri

pena

Teringat sebuah kata jika ingin mengenal dunia maka bacalah, namun jika ingin di kenal dunia maka menulislah. Itulah kata-kata awal yang memotivasiku, untuk mulai mengenal dunia tulis menulis ketika statusku masih berdomisili di Pon.Pes Al Hikmah. Bak petuah yang di berikan guru pada muridnya, kata tersebut membekas dalam hati dan memori, hingga kini menulispun masih menjadi hal yang menarik untuk tetap aku pahami dan aku cari-cari.
Menulis bagiku bukan lagi hanya menjadi pemanis ketika ada form data diri atau Curiculum Vitae yang kita isi pada keterangan hobby, karena bingung mau di isi dengan apa, maka mudah saja Hoby = Membaca dan Menulis (Supaya terkesan berbobot hobinya). Semoga siapapun yang menuliskan hobinya membaca dan menulis bukan dari hati, di kemudian hari harapannya bisa menjadi kenyataan, karena goresan sederhana tersebut adalah sebuah doa kecil yang terabadikan dalam sebuah kertas.
Orang mengatakan menulis itu susah, menulis adalah passion orang tertentu, dan berbagai alasan lainnya. Akan tetapi bicara mengenai menulis, sejatinya menulis merupakan sesuatu hal yang mudah, sebab seseorang bisa menulis atau tidak, pengaruh yang paling besar adalah mau atau tidaknya orang tersebut untuk menulis. Dengan kata lain modal menulis adalah “Mau” dan “Mencoba”. Dua hal tersebut yang menjadi faktor, mendasar untuk seseorang mengawali berkaraya dalam bentuk tulisan. Dan selnjutnya tinggal di kembangkan dengan terus berlatih dan perbanyak bacaan karena semakin banyak membaca maka tulisanpun akan berkembang dengan sendirinya, selain itu sikap konsisten dalam menulis, kemudian semakin banyak referensi bacaan seseorang, maka bank katapun semakin bervariasi, jadi ketika mau menuangkan gagasan maupun pemkiran dalam bentuk tulisan, maka kata-kata yang terciptapun  akan dengan mudah mengalir seperti air. Tidak percaya? Buktikan sendiri.
Berbicara tentang budaya literasi sesungguhnya tak lepas dari dunia santri, karena sesungguhnya budaya menulis adalah budaya santri, ulama-ulama terdahulu, kyai-kyai jaman dulupun, mereka produktiv dalam dunia tulis menulis. Sebagai contoh Ibnu Katsir yang mencipkatan karya berupa tafsir Ibnu katsir yang jumlahnya mencapi berjilid-jilid. Kemudian Imam Ghazali ulama besar yang menghabiskan sebagian umurnya untuk menulis menciptakan ratusan karyanya. Tidak heran jika berbagi gelar disandingkan kepadanya. Ia dikenal dengan Hujjatul Islam (Pembela Islam), juga ‘Alim al-Ulama’ (doktor keislaman) dan Warits al-Anbiya’ (pewaris para Nabi), gelar-gelar tersebut di peroleh tidak lain dan tidak bukan karena intelektualitas serta karyanya yang berjibun. Kemudian Ulama-ulama domestic seperti Syekh Nawawi Al Bantani, Syekh Yasin al Fadani, dll adalah ulama-ulama yang produktif dalam menulis kitab-kitab Ilmu agama Islam, nama mereka tak hanya populer di dalam negeri akan tetapi juga diluar negri khususnya Timur tengah dan Saudi Arab, contoh karya ulama nusantara antara   Tafsir Marah al-Labid li Kasyf al-Ma’na al-Qur’an al-Majid (1880-an), Karya  Syaikh Nawawi al-Bantani (1815-1897), Tafsir al-Ibriz (1980), karya KH. Bisri Mustofa. Tafsir al-Azhar (1967), Karya  Buya Hamka, Tafsir al-Furqon (1956), Karya  H. A. Hassan dan masih banyak lagi.
Tokoh-tokoh tadi adalah gambaran sedikit, bahwasannya ulama maupun kyai yang notabennya adalah dari dunia pesantren, mereka dapat berkarya dan namanya abadi karena buah dari karyanya yaitu “Tulisan”. Pramodya Anantar Toer mengatakan walaupun pengetahuan orang itu setinggi langit, tatapi jika dia tidak menulis maka ia akan hilang dari sejarah dan masyarakat. Sebab menulis adalah bekerja untuk keabadian. Itulah pengaruh besar dari sebuah tulisan, maka dari itu santri masa kini seharusnya mengikuti dan meneladani para ulama dan kyai terdahulu yang menciptakan berbagai macam karyanya. Karena menulis adalah tradisi santri, sehingga santri harus mempunyai kesadaran dan spirit dalam dunia menulis. Kemudian tradisi penulisan juga sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW, yaitu menulis surat kepada Raja-raja yang berada di Negara lain, begitu pula sahabat nabi yang tergabung dalam Khulafaur Rasyidin yaitu Ali Bin Abi Thalib mengatakan Ikatlah Ilmu dengan menulis. Dan hal yang tidak boleh di lupakan juga adalah dalam  menulis antara Heart, Head and Hand harus sikron, apabila hal-hal tadi tidak sinkron maka akan sulit untuk berkarya. Dan menulis akan lebih utama jika di imbangi dengan membaca, sebab dengan banyak mmbaca tulisan kitapun akan dipercaya, karean apa yang kita tuliskan berdasarkan referensi terpercaya bukan lagi kabar Hoak.
Jadi tunggu apa lagi. Mari menulis (WriThink)

About Mella El Maula

menulis adalah proses mengabdikan diri

Check Also

PERANAN SANTRI DAN PESANTREN DALAM UPAYA MENJAGA PERSATUAN INDONESIA MELALUI SIKAP TOLERANSI TERHADAP SESAMA

Pesantren merupakan wahana menempa diri yang di dalamnya terdapat berbagai macam dinamika pelatihan kehidupan yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *