Home / Suara Santri / Kisah / AKU MENYESAL

AKU MENYESAL

penyesalan
penyesalan

Mentari pagi, sehangat bara api yang sedang membakar  bongkahan es dingin di pagi hari, kurasa hangatnya pas sekali untuk hanya sekedar menyeruput teh hangat dan menikmati udara segar pagi hari didesa ini sambil mendengar kicauan burung yang saling bersahut – sahutan.Tiba – tiba pikiranku menerobos pada kisahku lima tahun yang lalu, masa – masa buram hatiku,history hidupku…..
“Pak wiyoko, ini data tentang WP yang sudah membayar pajak bulan ini dan uangnya akan ditransfer dari berbagai daerah sore ini akan sampai ke kantor kita.” kata salah satu pegawai yang berprofesi sebagai pegawai yang menangani kas masuk dan keluar perpajakan dikantor tersebut.
“ iya, saya tunggu pemasukan pajak dari WP nya.” balas pak wiyoko dengan nada tenang.
Suasana terik matahari diluar gedung seolah tak terasa bagiku yang statusnya sebagai pegawai negeri III A Direktorat Jendral pajak kementrian Keuangan.Disana aku  bekerja tak kenal lelah untuk menghidupi keluargaku dilantai bergedung lima belas itu aku  merasa bahagia akan profesi yang kusandang saat ini.
“ bagaimana tidak, pak wiyoko sekarang enak ya kerjanya di gedong magrong – magrong, gedong yang katanya berAC, panas gak kepanasan hujan nggak kehujana.,” beber salah satu tetangga pak wiyoko di desa yang sedang ngerumpi membicarakan keluarga baru didesa itu.
Tiba – tiba ditengah rerumpian itu aku  melintas dengan wajah tampak sayu karena mungkin terlalu lelah dalam bekerja seharian,dan serempak ibu – ibu yang tadi membicarakanku diam seribu kata.
“ pak wiyoko baru pulang pak?” sapa salah satu dari ibu – ibu yang tadi membicarakanku, kuyakin sapaan itu hanya basa – basi saja
Dalam hatiku aku dongkol sekali melihat wajah – wajah munafik dari mereka aku hanya membalas sapaan basa – basi itu dengan senyum sekadarnya karena sebenarnya aku tahu bahwa sapaan itu hanya untuk mengelabuhiku agar aku seolah tidak mendengar rerumpian mereka tentangku.
Aku terus berjalan menyusuri lorong – lorong kampung menuju rumahku dengan derap kaki yang amat berat, kulihat suasana kampungku sepi sekali hanya sesekali terdengar bunyi tukang krupuk keliling yang berusaha menghabiskan dagangannya.
“ puk….krupuk…, krupuk pak? “ tawarnya sambil melihat kearahku
Aku hanya cukup menggelengkan saja yang merupakan isyarat bahwa diriku sedang tidak ingin krupuk yang ia tawarkan.
Tukang krupukpun berlalu, kini dari kejauhan rumahku sudah terlihat, anak dan isteriku tampak dihalaman rumah, anakku Dila yang masih berusia tujuh tahun itu sedang berlari mengejar kupu – kupu dihalaman rumahku, Sarah isteriku tampak mengejarnya sambil membawa sesondok makanan, tampaknya ia sedang mengejar permata hatinya sembari menyuapinya dengan sesondok nasi.
Ya, anakku Dila memang sudah agak besar seusia bocah – bocah dikampungku yang biasanya tidak perlu disuapi oleh ibunya ketika makan karena dianggap sudah mandiri, tetapi Dila berbeda dia anak semata wayang kami jadi maklumlah kalau kami begitu memanjakannya.
“ Assalamu’alaikum Dila” sapaku dengan tersenyum lebar menatap wajahnya yang lucu itu
“ wa’alaikumsalam, ayah…” katanya sambil berlari kearahku dan kamipun saling berpelukan dengan hangat, rasanya seluruh rasa lelahku tampak sirna ketika kulihat senyum anak dan isteriku menyambut kedatanganku.
Malam itu suasana kurasa sangat dingin, isteriku menyuguhiku secangkir kopi di meja kerjaku karena dia tahu saat ini aku sedang lembur didepan  komputerku mungkin sampai jam dua malam baru selesai.
“ ini mas, diminum dulu kopinya.” suguhnya sambil meletakkan secangkir kopi itu dimeja kerjaku
“ iya dik, terimakasih. “ lalu tak lama setelah itu kusruput wedang teh hangat buatannya, ya lumayan sedikit menghangatkan tubuhku.
“Mas, aku boleh berbicara sesuatu?” katanya dengan mengerutkan dahi tanda serius.
“ Lo, kok pakai boleh atau tidak boleh to dik,jawabannya ya tentu saja boleh sudah bicara saja ada apa? “ tanyaku balik
“ Begini mas,administrasi sekolah Dila kurang, uangnya nggak ada.” katanya dengan wajah yang sedikit sayu, entah karena terbawa suasana bicaranya yang mendayu atau karena matanya ngantuk aku tidak tahu.
“ Lo kemarinkan udah tak beri uang dua juta rupiah dan kurasa dua juta rupiah itu selalu kuberikan setiap bulan bukan ?” tanyaku penuh selidik.
“ Itu saja tidak cukup mas, uangnya udah habis untuk mencukupi  kebutuhan sehari-hari. “ sahutnya dengan nada kecut.
“ kebutuhan sehari – hari apa? Apa memasak dan merawat Dila membutuhkan uang sebanyak itu dalam sebulan? Kataku lagi mempertegas keraguanku
“ Ya, aku kan juga wanita mas, modis dikit lah… aku buat  nyalon. Kenapa, apa mas mau marah? Emangnya aku salah? Masa isteri PNS perpajakan kumel, dekil, dan nggak modis? kan nggak lucu,  apa mas tak cinta lagi padaku?“ pekiknya sambil memalingkan muka.
“ Baiklah sayang, jangan marah oke…aku akan berusaha mendapatkan uang sebanyak- banyaknya untukmu dan untuk Dila.” Kataku dengan mantap Karena aku tidak mau isteriku marah apalagi sampai kehilangan isteri dan anakku.
“ Nah, gitu dong mas, itu baru kepala rumah tangga yang hebat, suamiku yang nomor satu didunia.” jawabnya sambil tersenyum bahagia
Keesokan harinya, aku berangkat kerja dengan pikiran tak menentu memikirkan bagaimana aku bisa mendapatkan uang yang banyak dalam waktu dekat ini, sementara gajiku dua juta tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka dan tiba – tiba terlintas dibenakku ucapan dari indera rekan kerjaku yang dulu pernah menawarkan bagaimana  kalau kita mengambil uang sedikit saja dari seluruh setoran pajak Negara ini, kalau sedikit kan nggak ada yang curiga. Toh, uang pajak kan banyak? Dengan begitu kita bisa membahagiakan keluarga kita dengan maksimal mas.Kata – kata itu terus menggelayuti pikiranku.dan puncaknya adalah ketika karyawan bagian penerimaan uang pajak itu menghitung uang pajak yang begitu banyak, aku meliriknya lalu tiba – tiba dalam otakku aku harus mengatakan kalau aku harus mengambil sebagian dari uang itu.
“ Iya ya, benar kata indera, kalau ambil sedikit kan nggak masalah..”gumamku dalam hati.
Lalu dengan langkah secepat kilat aku menghampiri karyawan bagian penerimaan uang pajak itu dan mengajaknya bekerja sama untuk penggelapan dana sekitar dua ratus juta rupiah, dan spontan karyawan bagian penerimaan uang pajak itu menerima tawaranku. Dan rencanapun berhasil.Dalam setengah tahun saja rumahku kini bak istana yang berdiri diantara rumah – rumah kecil yang kumuh, isterikupun semakin menarik, bak isteri presiden yang selalu perawatan ke salon.Keluargaku kini bahagia bergelimang harta.
Tetapi sore itu ketika kami sedang berkumpul bersama tiba – tiba ada suara yang mengetuk pintu dengan sangat keras…
“ Tok-tok-tok…selamat sore..” suara itu gagah berwibawa.
“ Iya sore pak, ada apa ya?” sahut isteriku sambil membuka pintu.
“ Apa benar ini rumah bapak wiyoko” selidik polisi itu dengan nada sedikit keras
“ Iya benar pak, saya isterinya ada apa ya?” Tanya isteriku
“ Suami Anda terseret kasus penggelapan uang perpajakan sebesar dua ratus juta”
“ Apa?”.spontan isteriku pingsan terkulai dilantai.
Aku yang tadi berada diruang keluarga terkaget dan langsung keluar menuju pintu,dan langkah polisi cepat memborgol tanganku dan aku segera diseret menuju mobil tersangka yang dipakainya.
“ Sial, polisi ini telah mempermalukan diriku didepan tetangga – tetanggaku dan isteriku,ah…mau kutaruh mana wajahku ini semua orang akan mencibir keluargaku kalau tahu bahwa aku bekerja slama ini hanya untuk memalsukan uang beratus ratus juta” gumamku dalam dada.
Bertahun – tahun dipenjara kulihat tidak seorangpun dari keluargaku yang menjengukku.hingga suatu hari aku terbebas dari penjara.aku pulang kerumah dan suasanapun telah berbeda kala aku melihat dari jendela luar rumahku yang transparan ada isteriku, anakku Dila, dan laki – laki asing yang tak kukenal, siapa dia? Penasaranku dalam hati.aku masuk kedalam rumahku dan langsung isteriku menyambutku tapi kali ini sambutannya lain, dia tidak memberikan senyum manisnya yang dulu tapi..
“ Pergi kau, koruptor aku bukan isterimu lagi.” pekiknya dengan suara tinggi. Anakkupun turut menimpali…
” Aku bukan anakmu lagi koruptor pergilah…ini ayah baruku, aku tidak mau teman – temanku menghinaku lagi dengan sebutan anak koruptor..pergi!!!! “ usirnya dengan keras.
Lalu aku pergi meninggalkan istanaku itu dengan wajah sedih. Dan ditengah jalan aku melihat para pemulung, para petani – petani tua, dan orang miskin lainnya berjalan bersama untuk pulang menuju rumah mereka masing – masing dengan bahagia, aku ikuti langkah mereka hingga mereka berhenti pada sebuah perkampungan miskin dimana mereka dan keluarga mereka bahagia menimati setiap keringat halal yang mereka peroleh, meskipun itu sedikit tapi mereka sangat mensyukurinya, aku merasa iri dengan kehidupan mereka yang sangat nikmat itu dan dalam hatiku aku menyalahkan setiap tindakanku yang telah dengan saja mencuri uang haram itu yang seharusnya mereka nikmati selaku warga Negara yang juga membayar pajak untuk negeri ini. Seharusnya mereka disejahterakan.bukankah itu salah satu fungsi dari pajak?? Ah, aku terlalu picik, aku memikirkan diriku sendiri, karena begitu cintanya aku terhadap keluargaku aku tidak peduli dengan nasib dan kesejahteraan mereka.oh Tuhan jika Kau ingin menghukumku hukumalah aku yang berdosa ini, aku menyesal wahai Tuhan.
“Kang Wiyoko”, suara kang Deni saudara iparku mengagetkanku dan sekaligus mengahkhiri lamunan history hidupku yang penuh hikmah dan sejak saat itu aku bertekad tidak akan menjadi pejabat ataupun orang biasa yang tidak jujur karena aku yakin bahwa koruptor – koruptor itu lebih kejam dari algojo dan lebih berbahaya dari teroris,andaikan rakyat – rakyat miskin seperti mereka bisa menjerit mereka akan menjerit sejadi – jadinya bahkan mereka akan memusnahkan tikus – tikus pengambil mentega haram itu, yang seharusnya milik mereka.
By: Liana Intan

About admin

Check Also

Kebersamaan kelas parkiran

Kebersamaan itu indah. Bersama dengan keluarga ponpes al-fattah ini adalah suatu kebahagiaan yang sederhana tetapi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *