Home / Suara Santri / Kisah / AKU MENCINTAINYA, IBU…

AKU MENCINTAINYA, IBU…

Pemenang lomba menulis cerpen juara satu
Pemenang lomba menulis cerpen juara satu

“Maulidi Ahmad Al Haba.”
“Maulidi Ahmad Al Haba.”panggil lagi seorang ustadz –ustadz Radifan namanya, mengabsen untuk kedua kalinya, namun belum juga ada jawaban dari si empu nama tersebut.Murid-murid yang lain saling menoleh. Mencari keberadaan murid yang baru saja dipanggil namanya. Sayang, tak sepasang matapun yang menemukan sosok Maulidi Ahmad Al Haba, ditempatnya.
“Nggak masuk lagi dia hari ini?” Tanya ustadz Radifan… lagi. Memastikan bahwa murid baru kesayangan BK satu bulan terakhir ini masih sama. Tukang bolos dan suka berulah.
Semua murid kelas VII D menatap beliau -ustadz Radifan, dengan tatapan yang tak bisa dimengerti. “Ya sudah, kita mulai pelajaran Akhlak hari ini. Buka kitab ayyuhal walad halaman 20.”

Sinar mentari hari ini sangat tidak bersahabat sekali. Kemarau sudah datang. Seperti biasa, Kartasura selalu panas. Teriknya sungguh membakar kulit. Tak hanya kulit, tapi juga hati.. hati seseorang yang sedang porak poranda. Hati yang mati rasa. Hati yang sudah kehilangan tuannya. Dan hati yang terbunuh perlahan-lahan karna dibiarkan terus terperangkap di masa lalunya.
Seorang lelaki paruh baya melangkahkan kakinya dengan cepat. Saat pandangannya menangkap bayangan tubuh anak laki-laki dibalik gudang yang tua dan rapuh. Serapuh tubuh yang bersembunyi di sana. Tertikam sembilu.
“…”ternyata benar, dia yang sedang dicari oleh seorang lelaki paruh baya itu. Dua insan tersebut terpaku. Terkunci dalam satu tatapan yang tak bisa diartikan.
PLAK
Ini bukan yang pertama kali. Emosi yang sedari tadi ditahannya akhirnya mencuat. Kalap. “Mau kamu apa sih?, tak puas kah kamu sudah membuat ayah malu karna ulah kamu di sekolah, ha?.” Iya. lelaki paruh baya itu adalah ayahnya-Ikramullah Al Haba.
“Dalam satu bulan kamu jadi murid baru di pesantren Al-Fattah ini…,” kata-katanya menggantung. Suaranya yang tadinya meledak-ledak, kini mulai melemah. Parau nyaris tidak terdengar, seiringan dengan air matanya yang meluruh menyerah, “ Sudah 10 kali ayah dipanggil oleh pimpinan pesantren. Ayah lelah, Nak. Malu.”
Bayangan yang tadi ditatap Ikram dari jauh, sudah berubah menjadi nyata. Tapi, ia masih tetap sama. Masih saja bergeming. Pipinya panas. Sakit. Akan tetapi hatinya lebih, lebih dan lebih panas nan sakit melihat ayahnya dengan tatapan dan perlakuan yang sama. Tiap kali ia melihat ayahnya, luka dua tahun lalu yang berusaha ia kubur dalam-dalam terus mengoyak hatinya, sampai ia tak sadar, nyawanya masih ada.
Dia pergi. Tanpa sepatah katapun. Biasa,Ikram sudah terbiasa. Ikram tertunduk.Kakinya tak kuasa lagi menopang beban tubuhnya tak pelak juga beban hidupnya. Bayangan anaknya terus menjauh. Tapi tidak untuk harapannya.

Maulidi Ahmad Al-Haba dengan poin pelanggaran 150. Kesalahan sebagai berikut:
1.    Berkelahi
2.    Keluar pondok tanpa izin
3.    Tidak mengikuti kegiatan pondok
4.    Membawa HP
5.    Merokok
6.    Berkata tidak sopan
Laki-laki tersebut menyeringai tajam. Ia sudah terlampau biasa. Itu adalah surat yang kesekian kalinya ia terima dari pihak keamanan sejak dua tahun lalu.
Anakyang tampan. Sangat tampan untuk ukuran seorang laki-laki. Perawakannya jakung dan kurus atletis, kulitnya putih bersih, matanya bulat sempurna, bibirnya tipis merona, dan hidungnya bangir. Perpaduan sempurna antara darah Arab-ibunya dan Jawa-ayahnya.
Ya. laki-laki yang tak hadir di kelas, laki-laki yang dimarahi ayahnya, dan laki-laki yang membaca surat peringatan ini. Dia Maulidi Ahmad Al Haba. Nama yang selalu dibencinya. Dulu. Sampai sekarang.
Tak perlu di dikte lagi. Ahmad sudah berjalan menuju kamar mandi dan mengambil alat bersih-bersih. Itu ta’dzirannya. Belum sampai dia membersihkan satu kamat mandi, tiba-tiba ada yang mencengkeram tubuhnya dengan kasar.
BHUK
Satu pukulan mendarat mulus diwajah tampannya. Hingga ia tersungkur dan mengerang kesakitan. Dia tertegun. Tiga orang datang-kawan dari arah yang memukulnya pertama kali- juga melangsungkan aksi bogemnya pada Ahmad. Terus. Tanpa jeda. Tak ada kesempatan lagi untuknya melawan.
Terdengar derap langkah yang buru-buru dari arah berlawanan. “Ada apa ini?.” Tanya ustadz Radifan memecah keributan mereka-Zubair, Algis, Umar, dan Sakti. Tubuh mereka menjengit. Kaget bukan kepalang. Sebelum melakukan aksinya, mereka sudah yakin aman. Karena semua penghuni Al-Fattah sedang berkumpul di Masjid untuk membaca al-barzanji. Malam ini adalah malam Maulid Nabi.
“Di-dia mengambil jam tangan barunya Algis, ustadz!.” Tukas Zubair terbata sambil melirik Ahmad yang terkulai lemas dilantai.
Sayup-sayup telinganya mendengar lantunan al-barzanji. Jantungnya berpacu lebih cepat. Matanya memanas. Hatinya semakin terkoyak. Pikirannya terus dihantui bayang-bayang kejadian dua tahun silam. Rumah dinasnya disita karena Ayahnya korupsi. Ibunya yang meninggalkannya tanpa pesan. Dan sebab kematian ibunya adalah dirinya.
“Apa benar tuduhan itu, Ahmad?,” ustadz Radifan menimpali. Alih-alih mendapat jawaban. Tubuh laki-laki yang dihakimi tadi sudah tak ada di tempat. Dia berlari. Pikirannya kacau. Satu yang ia pikirkan, aku butuh Ibu.

Dia berlari. Terus berlari. Tak peduli bunyi klakson di mana-mana karena dia berlari tak terkendali. Langkahnya mulai terseok-seok. Dia lelah. Tapi ia tak hiraukan kakinya yang sudah protes. Dia hanya butuh Ibu. Hingga sampai ia disebuah rumah yang sepi. Lusuh. Dan rapuh. Itu rumahnya dulu. Sebelum Ayahnya menjadi anggota DPR.
Kreekkkk
Pintu itu terbuka. Dia berdiri. Memandangi foto Ibunya. Diraihnya foto itu, dan dipeluknya erat seperti tak ingin kehilangan lagi. “Ibu…” ucapnya lirih. Lirih sekali. Lalu hilang bersama hembusan angin malam.
Pikirannya melayang pada kepingan memori dua tahun yang lalu.
“Ibu.. aku pingin ganti nama pokoknya!” adunya pada sang Ibu-Fatimah Az-zahra dengan bersungut-sungut. Ibunya tersenyum hangat mendengar aduan putra semata wayangnya yang baru berusia 10 tahun itu. “Kenapa emangnya, sayang. Nama kamu itu bagus lo!.” Balas Fatimah meyakinkan.
“Masak temen-temen manggil aku, sapu lidiii….” Jawabnya dengan tampak jengkel dan bibir mengerucut. Fatimah memeluknya sambil melantunkan al-barzanji. Itu yang selalu disukai Ahmad. Suara Ibunya yang merdu selalu bisa membuat dirinya berdamai dengan namanya itu.
“yaa nabi salaam ‘alaika…”
Deg. Tubuhnya membeku. Puing-puing kejadian itu saling menyatu dalam pikirannya.
DARRR..
Seketika semuanya berhamburan. Takut. Dan berlari ke sana kemari mencari perlindungan entah apa yang terjadi. Hanya dia yang enggan beranjak. Dia bergeming. Pipi gembungnya ia relakan untuk arena kejar-kejaran air matanya. Jantungnya seperti terhenti. Ia tak bisa bernapas. Ibunya. Iya ibunya. Dia berlari dengan sisa-sisa kekuatannya. Dipeluknya ibunya yang sudah bersimbah darah. Tertikam peluru.
“..” ibunya hanya tersenyum. Lalu menyerahkan buku al-barzanji kepadanya. Seperti berpesan untuk menjaga buku itu. Satu detik. Dua detik. Dunianya selesai.
“Ibuuuuuuuuuuuuuuuu…..” Jeritnya tanpa suara. Dia sudah tak sanggup lagi.

Pemakaman berjalan khidmat. Semua kembali ke rumah masing-masing, pun keluarga Ahmad –ke rumah lama mereka. Rumah dinasnya sudah disita satu minggu yang lalu karena Ayahnya dituduh korupsi. Semuanya terpukul. Terlebih Ahmad kecil. Dia meringkuk kikuk. Dia terus merutuki dirinya sendiri, bahwa kematian ibunya karna dia. Jika ia tak memaksa ibunya untuk memimpin sholawatan malam maulid itu, pasti ibunya masih hidup.
Ibunya –Fatimah Azzahra, adalah kembang desa yang suaranya merdu dan pandai melantunkan al-barzanji dan selalu diundang untuk memimpin diacara tertentu. Suara yang selalu membuatnya tenang. Lantunan yang selalu ingin ia dengarkan. Tepat setelah mahallul qiyam. Semuanya selesai. Ia mulai membenci namanya. Benci maulid nabi. Dan benci al-barzanji.
BRUK
Lamunannya terpecah. Ada buku yang jatuh dibalik figura yang diambilnya tadi. Dia ingat, itu adalah buku yang diberikan ibunya disaat terakhir napasnya. Diambilnya buku itu dan dia mulai membuka halamannya satu persatu. Al-barzanji. Mata Ahmad terhenti disatu halaman yang terselip kertas putih bersih. Tangannya bergetar. Dibukanya kertas itu, ada tulisan rapi seseorang yang terukir di dalamnya. Dibacanya tulisan itu perlahan-lahan, dengan penuh kehati-hatian. Hatinya mencelos. Surat. Surat dari ibu untuknya.
Assalamu’alaikum, sayangku Maulidi Ahmad Al Haba.
Selamat ulang tahun yang kesepuluh, sayang Aul. Tidak terasa sekarang kamu sudah besar. Tapi, ibu juga sedih. Nanti ibu nggak bisa gendong kamu lagi. Ibu nggak bisa nyium kamu sesuka ibu. Karena pasti kamu malu udah gede.
Sayang Maulidi,jangan nangis lagi ya sekarang. Nanti ibu ganti deh namanya. Kamu mau nama apa?. Tapi beneran mau ganti, nama kamu itu artinya bagus banget lo, sayang. Kenapa ibu kasih nama itu ke kamu?, karena tanggal lahir kamu sama kayak tanggal lahirnya Nabi. Ibu berharap setelah besar nanti kamu bisa punya sifat seperti Rasulullah yaitu berakhlak terpuji dan penuh kasih sayang terhadap orang lain. Ibu juga ingin putra ibu mencintai Rasul seperti mencintai pencipta-Nya. Allah. Gimana, masih pengen ganti nama nih?
Tanpa sadar kepalanyaa menggeleng pelan.
Sayang, kamu harus tahu. Jangan malu jadi anaknya Ayah. Ayahmu bukan koruptor. Dia difitnah rekan kerjanya karena iri Ayahmu naik jabatan.
Dia masih ingat. Dulu dia selalu diejek temannya karena anak koruptor. Sampai ia tak punya teman.
Jangan benci Ayah. Dia adalah orang yang hebat. Sayangi dia ya sayang. Siapa lagi yang akan menjaga ayah ketika ibu nggak ada. Sehat selalu ya kalian berdua.
O iya, katanya besok mau lomba puisi maulid nabi. Nih, sudah ibu buatkan dengan penuh cinta. Hehe. Tapi ada syartanya lo. Ini nggak gratis. Harus janji untuk menang. Ya?!. Satu lagi. Ini buku al-barzanji kesayangan ibu dari kakek dulu. Ibu pengen liat kamu melantunkan al-barzanji ini. Ibu pengen dengar. Suaramu sebagus ibu nggak?
Ahmad tertawa samar mengingat dulu ia merengek-rengek minta dibuatkan puisi untuk lomba maulid. Dan ia juga tertawa karena menyadari suaranya yang kayak kucing kecepit. Hehe
Ya sudah, ibu capai nulis banyak-banyak. Jangan lupa jaga ayah. Jangan lupa menang lomba baca puisi. Dan jangan lupa dibaca al-barzanjinya ya, sayang.
Wassalamu’alaikum
Tertanda
Fatimah A.Ibumu yang selalu sayang padamuAul
Kertas itu sudah basah oleh derai air matanya. Dia menangis. Dia menyesal. Dia malu. Tak tau lagi apa ia masih punya muka di depan ayahnya dan teman-temannya.
“Eh..” Ahmad bergeming. Ayahnya memeluknya. Pelukan yang selalu menghangatkan. Dan pelukan yang selalu dirindukan. “Maafkan Aul, Ayah. Aul sudah banyak mengecawakan Ayah dan Ibu.” Aul adalah nama panggilan kesayangan keluarga Ahmad kepadanya.semenjak kejadian itu, dia melupakan nama itu. Dia benci nama itu. Sangat.
Pelukan itu merobohkan tembok besar yang selama ini dibangunnya kuat-kuat oleh tuannya. “Maafkan Ayah, Nak. Kamu harus tau. Orang yang menuduh ayah korupsi sudah ditangkap, juga yang membunuh ibumu. Anak yang menuduhmu mencuri juga sudah menyerahkan diri. Kamu jangan lari lagi ya. Ayah Cuma punya kamu. Ayo kita perbaiki kisah hidup kita yang sudah kita robek sendiri..” ucap Ayahnya bersamaan dengan tangisnya.

Derap langkah kaki-kaki gajah mendentum dipenjuru ka’bah bersama terpaan debu yang pongah
Sekumpulan burung membawa batu api  untuk menghujaninya
Engkau ..
Engkau datang, wahai Muhammad-ku
Lahir dengan cahaya cinta
Engkau surya, engkau purnama
Engkau cahaya di atas cahaya
Prookk prookkk
Terdengar sorak sorai dari berbagai sudut panggung. Takjub akan puisi yang dibacakan laki-laki di depan sana. Benar. Dia Maulidi Ahmad Al Haba. Dia sudah kembali. Dia memberanikan diri memulai hidupnya lagi. Dia mengikuti lomba puisi dalam rangka maulid nabi di pondoknya, pondok Al Fattah.

Dengan langkah bangga Aul menuju ke pusara Ibundanya, memulai berdo’a dan Aul berkata, seolah sosok sang ibu dihadapannya.“Ibu, ini Aul datang membayar hutang. Ini piala untuk ibu. Sekarang Aul suka nama itu. Aul suka membaca al-barzanji, malahan Aul jadi pemimpinnya ibu..” ucapnya terbata sambil tertawa samar, menahan air matanya. Tenggorokannya tercekat. “Aul ingin lahirnya Aul, seperti lahirnya Rasul. Membawa kebahagiaan. Terima kasih ibu sudah melahirkan Aul. Aul cinta Rasulullah seperti ibu juga mencintainya dan penciptaNya.”

Karya : Faricha Sa’adatul Ummah
Kamar Hafshoh

About admin

Check Also

Kebersamaan kelas parkiran

Kebersamaan itu indah. Bersama dengan keluarga ponpes al-fattah ini adalah suatu kebahagiaan yang sederhana tetapi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *