Home / Kegiatan / Lomba Musabaqoh Qiraatul Kutub, untuk Menyambut Maulid Nabi

Lomba Musabaqoh Qiraatul Kutub, untuk Menyambut Maulid Nabi

Peserta Lomba MQK
Peserta Lomba MQK

Dalam rangka menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW, PP. Al Fattah mengadakan berbagai macam perlombaan, salah satunya adalah lomba MQK (Musabaqah Qiraatul Kutub). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya perlombaan biasanya hanya berlangsung di pondok putri saja, akan tetapi tahun ini perlombaan yang di adakan pengurus, mempertandingkan santri putra dan santri putri.

Rangkaian perlombaan dalam menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad ini berlangsung mulai dari tanggal 08 -11 Desember 2016. Dan sebagai pembuka event lomba di PP. Al Fattah yaitu MQK yang berlangsung pada Kamis (08/12) dengan jumlah peserta 16 orang yaitu perwakilan dari setiap kamar.
Dengan bertempat di masjid Nurul Iman perlombaan MQK di sambut dengan meriah dan penuh apresiasi, terlihat semua santri baik putra maupun putri memadati masjid yang berada di samping PP. Al Fattah Putra.

Dalam wawancara yang dilakukan kepada Lurah pondok putra Kurniaji (20) mengatakan bahwa “Tujuan diadakannya MQK yakni melestarikan Budaya membaca santri, yang mana sejatinya santri harus bisa membaca kitab kuning. Karena begitu pentingnya kitab kuning sebagai sumber ajaran seperti sesepuh (red. Kyai) dulu lakukan”

Seperti lomba MQK pada umumnya, dalam perlombaan yang berlangsung malam hari ini kitab klasik atau kitab kuning sebagai bahan perlombaan, dimana peserta di minta ntuk membacakan kitab kosongan tanpa makna, kemudian menterjemahkan lalu para juri yang terdiri dari ustadz-ustadz pengajar memberi beberapa pertanyaan terkait gramatikal bahasa Arab atau terkenal dengan istilah Nahwu-Shorof. Dan fathul qorib adalah kitab yang di gunakan dalam lomba MQK pada malam hari ini.

Lomba MQK ini merupakan perlombaan yang baru pertama kali ini di adakan di PP. Al Fattah. Hal tersebut di latar belakangi agar budaya membaca kitab kuning terlestarikan, seperti ungkapan ketua pondok putra “Kalau kita melihat faktanya di zaman sekarang ini, banyak para santri hanya belajar kitab instan yang bersumberkan dari terjemahan dan internet saja. Maka dari itu kita dari pengurus berinisiatif  untuk mencoba kembali nguri-nguri budaya santri dahulu yang mana tidak bisa dipisahkan dari dunia membaca kitab kuning dan dunia literasi tradisional. Sebagai mana K.H maimoen zubair dan Habib Lutfi pernah sampaikan Kitab Kuning Merupakan sumber utama ajaran Aswaja.” Ucap Aji saat diwawancarai.

About Mella El Maula

menulis adalah proses mengabdikan diri

Check Also

AKSI TOLAK FDS (FIVE DAY SCHOOL) Se-SOLO RAYA.

Sekitar 25 ribu warga NU (Nahdlatul Ulama) se-Solo raya melakukan aksi tolak five day school, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *