Home / Artikel / SANTRI dan Buku

SANTRI dan Buku

santri-pondok-pesantren-mengaji-alquran

Santri memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi kepada masyarakat. Hal itu senada dengan asumsi bahwa Santri sebagai agent of change. Namun, seringkali status ini menjadi kabur.Agent of change dipahami sebagai: memperoleh kerja, hidup layak, kaya dan bermobil. Agent of change hanya mewujud dalam imajinasi materi, bukan intelektual.

Hal demikian membuat Santri kurang memiliki komitmen untuk berlelah-lelah menjalani proses dan laku intelektual. Salah satunya yaitu keengganan para santri untuk bergelut dengan Buku. Buku bukanlah sekedar media informasi. Lebih dari Buku menjadi ruang untuk mendapati dan menyamai tradisi literasi. Literasi adalah rangkaian proses dari membaca, menganalisa, berdiskusi, setelah itu ada sebuah kewajiban untuk membagikan kepada khalayak dalam bentuk tulisan.

Kini, hal itu jauh dari kehidupan Santri. Mereka seolah melupakan ritual membaca Buku. Berburu buku tidak lagi menjadi pemandangan sehari-hari. Bagi mayoritas mahasiswa, Buku kalah populer dengan Facebook, twitter, WA, atau bahkan BBM. Di samping itu, mereka lebih memilih mengobrol, nokrong, shopping dan bahkan berdemonstrasi tanpa ambisi intelektualitas di dalamnya. Mereka abaikan terhadap identitas sebagai seorang intelektual.

Salah satu penyebab pudarnya tradisi membaca dikalangan Santri adalah sikap pragmatis yang melekat dalam diri santri, orang tua, maupun kyai. Sikap pragmatis tersebut menjadikan mereka memilih sesuatu yang bersifat menyenangkan dan sesuatu yang bisa menunjang bagi masa depan yang dicita-citakan, seperti PNS. Bahkan teman saya ada yang bilang bahwa pekerjaan membaca adalah bagian orang-orang yang banyak menganggurnya, menimbulkan kejenuhan, dan membosankan. Mereka mulai melupakan hubungan erat antara seorang mahasiswa dengan Buku.

Laku hidup membaca akan kembali mengingatkan dengan latar belakang agama seorang, dimana mayoritas penduduk pesantren adalah seorang muslim. Tentunya seorang muslim tidak bisa jauh dengan kitab sucinya. Bahwa di dalam kitab sucinya Al Qur’an telah di perjelaskan untuk membaca untuk seorang muslim. Berawal dari membaca semakin meluas kualitas keilmuan Seseorang.

Namun identitas tersebut telah kian lama semakin kabur. Keberadaan perpustakaan yang selayaknya sebagai tempat anjungan santri dalam menggali ilmu melalui membaca, kini hanya telah mendapatkan sapaaan ketika seorang mahasiswa di hantui oleh tugas perkuli’ahan. Peristiwa ini mengingatkan kepada kita bahwa, kita telah terbodohi oleh ruang dan waktu.

Perlakuan seperti itu mengingatkan Laku hidup seorang yang bernama Ahmad Wahib, seorang intelektual yang menempuh laku hidupnya dengan berpacaran sama Buku. Adanya Waktu bagi dia tidak lepas dari buku, kesehariannya telah dipenuhi oleh aktifitas membaca. Berawal dari ritual membaca, berlanjut pada mengarang buku, hingga akhirnya turut berkontribusi, menyampaikan gagasan dalam bentuk tulisan dalam media.

Itu hanya sedikit kisah mengenai betapa eratnya hubungan Santri dengan buku dalam jejak historis kita. Saya rasa, begitulah sewajarnya hakikat seorang santri. Ia harus bersedia dan memiliki sebuah kewajiban untuk melakoni gaya hidup membaca buku, berliterasi. Sudah saatnya santri kembali akan kodratnya sebagai seorang intelektual. Dengan laku membaca dan menhidupkan keberadaan perpustakaan di tengah-tengah pembelajaran santri. Dan dengan laku membaca, seorang santri akan lebih hidup lama dalam kenangan pembacanya.

 

 

 

About Arif Nurdin

Check Also

IMPLEMENTASI SANTRI LITERASI MENELADANI RASULULLAH SAW DALAM PERINGATAN MAULID NABI

Peringatan Maulid Nabi selalu disambut dengan meriah oleh umat Islam di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *